Ekowisata Flora Fauna, Potensi Wisata Tersembunyi di Lotim

Aktivitas bird watching dengan mengambil gambar burung menggunakan di wilayah Selatan Rinjani Lombok Timur. (Suara NTB/ist)

Lombok Timur (Lotim) memiliki banyak potensi wisata tersembunyi. Salah satunya yang adalah ekowisata flora dan fauna yang ada di selatan Rinjani. Minat wisata khusus ini bisa dikembangkan dan akan menjadi pilihan menarik berwisata di Lotim.

Anggota Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Lotim, Yogy Islanta kepada Suara NTB, Senin, 10 Januari 2022, menjelaskan, pada awal tahun 2022 ini, Lombok Sustainable Tourism mulai mengembangkan kegiatan Ekowisata Flora-fauna Selatan Rinjani.

Iklan

Menurutnya, terdapat lima aspek yang bisa menjadi produk pengembangannya. Pertama, bird watching, kedua edukasi flora Rinjani, ketiga forest bathing/healing atau meditasi hutan, ke empat aktivitas outbound, dan kelima local cooking class (kelas memasak) perpaduan tumbuhan hutan dengan tumbuhan pertanian masyarakat.

Kegiatan ini melibatkan beberapa masyarakat desa penyangga hutan Selatan Rinjani yang akan dibimbing selama 6 bulan ke depan. Termasuk dari wilayah Treng Wilis, Joben, Tetebatu, Jeruk Manis, Jurit Baru, dan Timba Nuh.

Harapannya, ada kesadaran konservasi berkelanjutan yang dilakukan secara bersama dengan manfaat wisata minat khusus yang sedang dikembangkan ini. Target pertama akan dibina sebanyak 20 orang yang akan menjadi interpreter, tour guide ekowisata, pelatih outbound, dan perempuan desa yang khusus di kelas memasak.

Selain itu, tambahnya, diversifikasi kekayaan alam Pulau Lombok masih banyak yang harus digali sebagai tuan rumah ketahui dan pahami. “Pembenahan ini harus perlu kita giatkan edukasi kalangan pemuda untuk dapat memelihari ekosistem hutan dengan bijak,” ucapnya.

Seperti kegiatan bird watching diterangkan Yogy merupakan bagian dari upaya untuk tetap mempertahan habitat asli hutan Rinjani. Melalui kegiatan ini dikampanyekan agar tidak melakukan perburuan liar, perambahan hutan, dan penebangan pohon secara ilegal. Selama ini diketahui banyak pemburu burung dan memperjualbelikannya. ‘’Ketika ekosistem ini terjaga, maka diharapkan dengan wisata bisa meningkatkan perekonomian masyarakat. Utamanya masyarakat kurang mampu di sekitar pinggiran hutan,’’ tambahnya. (rus)

Advertisement