Ekonomi NTB Diprediksi Melambat Terdampak Wabah Corona

M. Firmansyah (Suara NTB/ars), Wedha Magma Ardhi (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Pertumbuhan ekonomi NTB tahun 2020 diprediksi akan melambat terdampak wabah Corona yang meluas di Indonesia. Target pertumbuhan ekonomi tanpa sektor pertambangan sebesar 5 – 5,5 persen sesuai target RPJMD pesimis dapat dicapai tahun 2020 ini.

Namun Pemprov akan berusaha mempertahankan pertumbuhan ekonomi NTB di angka 4 persen. Untuk itu, daya beli masyarakat harus tetap terjaga. ‘’Kita agak pesimis dengan adanya Covid-19 ini. Kalau kita baca di media, investor-investor sudah banyak yang teriak. Kemudian dolar sudah Rp16.000 lebih. Ini tentunya akan berpengaruh juga kepada fiskal,’’ kata Kepala Bappeda NTB, Ir. Wedha Magma Ardhi, M.TP dikonfirmasi Suara NTB, kemarin.

Meluasnya virus Corona (Covid-19) di dunia dan Indonesia membuat sejumlah sektor terpukul, seperti pariwisata. Sekarang, kunjungan wisatawan turun drastis. Hal ini dapat dilihat dengan dibatalkannya sejumlah penerbangan, baik domestik dan mancanegara akibat wabah Covid-19. ‘’Artinya, pertumbuhan ekonomi kemungkinan akan melambat,’’ kata Ardhi.

Ia mengatakan, belum dapat memprediksi pertumbuhan ekonomi NTB tahun 2020 akibat pengaruh Covid-19. Namun, Ardhi mengatakan apabila ekonomi NTB mampu bertahan di angka 4 persen, maka itu sudah cukup bagus.

Menurutnya, di tengah kondisi seperti sekarang ini, daya beli masyarakat harus tetap dijaga. Harga-harga kebutuhan pokok masyarakat harus dapat dipastikan tak melambung tinggi. Sehingga, peran Satgas Pangan sangat penting dalam situasi dan kondisi saat ini. ‘’Tidak boleh ada penimbunan kebutuhan pokok,’’ ujarnya.

Baca juga:  Gara-gara Corona, BI Revisi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi

Dikonfirmasi terpisah, Pemerhati Ekonomi Universitas Mataram (Unram), Dr. M. Firmansyah, SE, M. Si mengatakan, kasus Corona menjadi pembelajaran. Menurutnya, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kasus mewabahnya virus Corona yang sangat berdampak terhadap perekonomian.

‘’Memang harus kita hidupkan ekonomi lokal. Dimana kita menggunakan produk lokal, sehingga gairah komoditas lokal tumbuh. Kita nggak tergantung dari komoditas dari luar,’’ katanya.

Sehingga ketika terjadi pengaruh eksternal seperti mewabahnya virus Corona, ekonomi NTB tetap tumbuh. Dengan mengembangkan ekonomi lokal. Ia menganalogikan dalam sebuah komunitas tertutup, masyarakat akan tetap membutuhkan makanan. Di situ ada jasa yang menyediakannya. Jika ekonomi lokal diperkuat dan dihidupkan, apapun faktor yang terjadi di luar maka tidak akan terlalu berpengaruh.

‘’Boleh kita membebaskan sebagian sendi ekonomi kita ke sektor pariwisata. Tapi, sektor pertanian, perdagangan dan industri, aspek lokal tak boleh diabaikan.Sehingga ketika ada penutupan, kita tetap hidup, tetap makan dan berkarya,’’ kata Firmansyah.

Ia belum mengetahui seberapa persen penggunaan  komoditas lokal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di NTB. Minimal, kata Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unram ini, kontribusi komoditas lokal dalam konsumsi masyarakat NTB sebesar 80 persen.

Baca juga:  Corona Pangkas Triliunan Rupiah Perputaran Uang di NTB

Jika itu yang terjadi, maka masyarakat lokal atau petani dan nelayan akan bergairah  untuk berproduksi. Bila perlu, komoditas lokal dapat diekspor ke daerah dan negara lain. Firmansyah mengingatkan jangan sampai sektor pertanian, perikanan dan kelautan  dinomorduakan.

‘’Sektor pariwisata penting untuk menaikkan level kehidupan masyarakat. Kalau ditopang oleh sektor primer,  pertanian. Sebenarnya kita bisa hidup dengan sektor pertanian. Cuma kita ingin meningkatkan level kehidupan kita. Sehingga sama dengan daerah atau negara lain,’’ katanya.

Pengembangan sektor pariwisata akan lebih bagus apabila didukung sektor pertanian. Artinya, berbagai kebutuhan sektor pariwisata dapat dipasok dari produk sektor pertanian, peternakan dan perikanan yang ada di NTB. Jangan sampai kebutuhan sektor pariwisata NTB justru didatangkan dari luar daerah atau produk impor.

‘’Ini momentum evaluasi bahwa ekonomi lokal sangat-sangat penting, harus diperhitungkan untuk menjaga stabilitas ekonomi makro daerah. Menjaga stabilitas pengangguran, tingkat tenaga kerja,’’ katanya.

Ia memprediksi dampak virus Corona, pertumbuhan ekonomi NTB dikisaran 3 – 4 persen pada tahun 2020 ini. Dengan kondisi saat ini, masyarakat yang bekerja di sektor lokal saja yang masih berjalan.

Baca juga:  Pengamat: NTB Perlu Antisipasi Merosotnya Nilai Tukar Rupiah

Diketahui, sepanjang 2019 lalu,  pertumbuhan ekonomi NTB sebesar 4,76 persen tanpa sektor tambang dan 4,01 persen dengan sektor  tambang. Dengan pertumbuhan itu  disumbang oleh sektor pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 0,36 persen, pertambangan dan penggalian 0,12 persen, industri pengolahan 0,18 persen, pengadaan listrik dan gas 0,01 persenn konstruksi 1,25 persen.

Kemudian perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor 0,90 persen, transportasi dan pergudangan 0,10 persen, informasi dan komunikasi 0,10 persen, jasa keuangan 0,05 persen, real estate 0,15 persen, jasa perusahaan 0,01 persen, administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib 0,19 persen, jasa pendidikan 0,33 persen, jasa kesehatan dan kegiatan sosial serta jasa lainnya masing-masing 0,13 persen.

Pada tahun 2020, sesuai RPJMD 2019-2023, Pemprov NTB  menargetkan pertumbuhan ekonomi tanpa tambang sebesar 5 – 5,5 persen dengan realisasi investasi sebesar Rp16,8 triliun. Kemudian tahun 2021, pertumbuhan ekonomi NTB ditargetkan sebesar 5,5 – 6 persen dengan realisasi investasi Rp17,64 triliun.  Selanjutnya pada 2022 dan 2023, Pemprov menargetkan pertumbuhan ekonomi NTB masing-masing 6 – 6,5 persen dan 6,5 – 7 persen. Dengan target realisasi investasi Rp18,522 triliun pada 2022 dan Rp19,448 triliun pada 2023. (nas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

three × 2 =