Pengamat: NTB Perlu Antisipasi Merosotnya Nilai Tukar Rupiah

Firmansyah (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Jumat, 20 Maret 2020, nilai tukar rupiah merosot ke titik Rp16.273 per dolar Amerika. Kondisi ini juga akan turut berimbas ke daerah.

‘’Dampak yang muncul akibat melemahnya nilai tukar rupiah diantaranya makin lemahnya daya beli masyarakat akibat nilai rupiah turun. Harga-harga kebutuhan akan mengalami kenaikan, terutama untuk komoditas yang ditolong oleh impor,’’ ujar Ekonom dari Fakultas Ekonomi Universitas Mataram, Dr. M. Firmansyah.

Dukungan kebutuhan dari luar cukup besar. ‘’Contoh sederhana saja, untuk pembuatan tahu tempe, perajin mengandalkan bahan baku kedelai dari luar negeri. Otomatis, harga kedelai impor akan mengalami kenaikan harga signifikan. Harga jual tahu tempe juga akan berpengaruh.’’

Menurut Firmansyah, dari awal sudah diprediksi, nilai tukar rupiah akan berada pada posisinya saat ini. Sementara fondasi untuk menghadapi situasi ekonomi saat ini masih rapuh. Terlebih lagi, Indonesia dalam perjuangan melawan serangan virus Corona yang mengakibatkan sendi-sendi ekonomi nyaris berhenti bergerak.

Baca juga:  Wabah Corona Pengaruhi Angka Kemiskinan

Di tengah posisi saat ini, salah satu antisipasi yang mestinya dilakukan adalah memperkuat ekonomi lokal. Dampak lemahnya nilai tukar rupiah ini, bisa dikurangi, apabila kebutuhan lokal dapat dipenuhi sendiri oleh daerah.

‘’Misalnya, kedelai impor, seberapa kuat cadangan produksi kedelai lokal. Demikian juga yang lainnya. Cuma berapa persen sih yang tersedia di lokal. Ini yang jadi pertanyaan. Mengingat, produk lokal untuk menuju produk akhir saja harus bahan penolongnya dari impor,’’ ujarnya.

Baca juga:  Loteng Tambah Alokasi Anggaran Penanganan Kemiskinan

Harga gula pasir saat ini juga tinggi. Rp17.000/Kg di pasar tradisional. Pemerintah melakukan penetrasi pasar dengan mendatangkan gula impor. Tentu harganya juga akan tinggi, jika mengacu pada nilai tukar dolar Amerika terhadap rupiah saat ini.

Tidak ada salahnya, kata Firmansyah, masyarakat didorong menggunakan gula merah lokal untuk mensubstitusinya. Cara mendorong masyarakat tentunya perkuat produksi, banjiri pasar lokal.

‘’Jangan orientasinya hanya jual di retail modern. Atau di pusat oleh-oleh. Masyarakat tidak menjangkaunya. Dinas Perdagangan bisa menggerakannya masuk ke kios-kios tetangga. Sehingga lebih familiar ketika masyarakat melakukan substitusi kebutuhannya,’’ imbuhnya.

Strategi untuk mempengaruhi lemahnya nilai tukar rupiah adalah menjaga pertanian dalam arti luas (pertanian, peternakan, kelautan perikanan) untuk berproduksi. Paling tidak untuk memenuhi kebutuhan di dalam daerah.

Baca juga:  Corona Pangkas Triliunan Rupiah Perputaran Uang di NTB

Sebetulnya ada momentum mendapat manfaat lemahnya nilai kurs dolar Amerika terhadap rupiah. Yaitu di sektor pariwisata. Perbanyak event-event pariwisata. Wisatawan akan lebih betah tinggal dan lebih banyak berbelanja. Namun belum memungkinkan hal ini. Mengingat wabah virus Corona tengah diperjuangkan dunia untuk dikendalikan.

‘’Dampaknya, agak lambat ini, cukup makan waktu dan tenaga. Karena ekonomi dari awal agak rapuh. Pemerintah juga harus mengevaluasi perencanaan belanja ke depan, harus ada saving, kerangka kebijakan jelas, jaring pengaman. Untuk kesehatan, ketahanan pangan. Tapi ya, memang mudah-mudahann tetap tenang. Jangan panik karena bisa menambah parah,’’ Firmansyah mengingatkan.(bul)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

four × one =