Segmen Pasar Kopi NTB Diperluas

Ilustrasi pengolahan kopi. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Perindustrian NTB menyasar perluasan segmentasi pasar untuk produksi kopi NTB. Ketiga pasar tersebut diantaranya hotel, kafe dan pedagang kaki lima.

Kepala Dinas Perindustrian NTB, Nuryanti, menerangkan sampai saat ini pihaknya mencatat produksi kopi NTB belum dapat diakomodir dengan optimal oleh Industri Kecil Menengah (IKM) yang ada. Hal tersebut disayangkan mengingat potensi pengembangan IKM kopi terbilang besar.

“Target kita kedepannya produk lokal menguasai daerah. Nanti berbagai kelas mulai dari kaki lima, hotel, dan café. Itu tiga segmen pasar (utama) yang kita garap,” ujar Nuryanti, Minggu, 16 Februari 2020.

Pemasaran komoditas kopi olahan sendiri diakui masih kurang, dimana ketiga pasar tersebut masih lebih memilih kopi buatan pabrik.

Diterangkan Nuryanti, pihaknya telah lama mengincar ketiga segmentasi pasar tersebut. Dicontohkannya seperti jaringan hotel yang cukup luas dan setiap hari membutuhkan olahan kopi untuk dihidangkan bagi tamu.

Untuk mewujudkan hal tersebut, beberapa pembenahan perlu dilakukan untuk menjadikan produk kopi NTB dapat bersaing dengan produksi pabrik. Dinas Perindustrian sendiri disebut tengah fokus mendesain kemasan agar produksi kopi tersebut dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

“Balai kemasan nanti akan menjadi rumah produksi untuk kopi. Ada mesin tortilla sedang nganggur,” ujar Nuryanti. Saat ini pihaknya tengah berusaha memodifikasi mesin tersebut agar dapat digunakan memproduksi kopi olahan dalam bentuk sachet.

Selain itu, Dinas Perindustrian NTB juga berusaha menginisiasi asosiasi yang akan menangani produksi kopi tersebut. Khususnya untuk desain kemasan dan detail-detail lain yang berhubugan dengan pemasaran.

Melalui asosiasi tersebut kebutuhan untuk tiga segmen pasar yang menjadi target diharapkan terpenuhi. Dalam pembentukannya, Dinas Perindustrian tengah memetakan Sumber Daya Manusia (SDM) serta potensi produksi mulai dari tingkat petani.

  Smelter akan Dibangun dengan Kapasitas 1,3 Juta Ton Konsentrat per Tahun

“Jadi asosiasi itu nanti tergabung mulai dari hulunya (petani). Bagaimana budidaya dan jenis kopi yang baik. Panennya itu pun akan di kawal bagaimana menghasilkan kopi yang berkualitas bagus,” ujarnya.

Asosiasi yang sudah terbentuk sendiri saat ini diminta menyusun konsep untuk mengembangkan industri, termasuk pada tingkat IKM untuk memiliki gaya atau ciri khas produksi sendiri. Menurut Nuryanti, walaupun produksi kopi olahan akan dipasarkan dengan lebih luas, tidak berarti menghilangkan karakter dan ciri khas yang ditawarkan dari masing-masing pengusaha.

Selain itu, asosiasi yang dibentuk juga diharapkan dapat memunculkan diversitas hasil produksi. Badi dari hasil panen, proses produksi, hingga pengolahannya. Dengan begitu, penyerapan tenaga kerja akan mengikuti seluruh proses yang berlangsung. “Kita (ingin) temukan model (garapan) di kopi dulu. Kalau sudah jalan itu gampang nanti (untuk komoditas yang lain,” pungkasnya. (bay)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here