NTB Butuh Investasi Berkualitas

Gubernur NTB, H. Zulkieflimansyah menghadiri Forum Investor 2020 di Kawasan Wisata Senggigi. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M.Sc menegaskan Pemprov tak membutuhkan investasi yang tinggi secara kuantitatif apabila masyarakat hanya menjadi penonton. Ia menekankan investasi yang masuk ke NTB harus mampu menyerap tenaga kerja dan produk-produk lokal.

‘’Jangan target investasi itu hanya ada pada angka-angka. Tapi investasi yang sudah ada itu seberapa banyak anak-anak kita yang sudah bekerja, seberapa banyak menggunakan produk lokal. Saya tidak butuh investasi tinggi-tinggi. Tapi kita hanya jadi penonton saja. Kita ingin kualitas investasinya,’’ kata Gubernur dikonfirmasi usai menghadiri Forum Investor 2020 di Kawasan Wisata Senggigi, Rabu, 12 Februari 2020.

Sebelumnya, realisasi investasi NTB tahun 2019 menjadi sorotan karena tak mencapai target. Pemprov menargetkan realisasi investasi tahun 2019 sebesar Rp16 triliun. Dari target tersebut, Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB menyebut  hanya mampu tercapai sekitar Rp10 triliun sepanjang 2019.

Gubernur mengatakan, ia tak terlampau terpukau dengan angka-angka secara kuantitatif. Meskipun investasi yang masuk ke NTB sebesar Rp20 triliun, tetapi masyarakat hanya menjadi penonton. Maka investasi tersebut tak ada artinya.

Baca juga:  Proyeksi Bank Indonesia, Ekonomi NTB 2020 di Kisaran 5,6 Persen

‘’Kita butuh investasi tapi jangan tersandera oleh numbers (angka). Nggak ada gunanya kita dapat investasi Rp20 triliun tapi masyarakat kita sengsara, jadi penonton,’’ katanya.

Menurutnya, meskipun realisasi investasi turun menjadi Rp10 triliun. Tetapi banyak menyerap lapangan kerja bagi masyarakat lokal dan masyarakat merasa nyaman maka hal itu jauh lebih bagus.

‘’Jadi jangan kita didorong kejar-kejar angka-angka terus. Tapi sebenarnya kualitas investasinya nggak menarik. Jadi, kita  ingin investasi tapi jangan investasi gelap mata juga. Kita harus mengundang investasi yang meng-upgrade capacity orang-orang kita,’’ kata Dr. Zul.

Gubernur kembali menekankan investasi yang masuk NTB harus dapat dirasakan oleh masyarakat. Dimana mereka bisa menjadi pekerjanya, kontraktor lokal juga bisa ikut merasakan kehadiran investasi tersebut. ‘’Produk yang digunakan, produksi kita. Itu investasi yang berkualitas,’’ sambungnya.

Baca juga:  Pemkot Mataram Bidik Investasi Rp1,4 Triliun

Dr. Zul melihat target investasi secara kuantitatif bukan satu-satunya indikator penting. Tetapi menurutnya, kualitas investasi jauh lebih penting. Ia memberikan contoh apabila ada investasi yang masuk ke NTB sebesar Rp30 triliun. Tetapi tidak mengajak Kamar Dagang dan Industri (Kadin), maka investasi tersebut tidak akan dapat dirasakan oleh masyarakat.

Kaitan dengan perizinan, Dr. Zul menjamin kemudahan bagi para investor. Termasuk kemudahan mendapatkan izin serta pengurusan yang tidak membutuhkan waktu lama.  Hal ini katanya sesuai dengan instruksi Presiden Jokowi terkait pelayanan kepada investor.

‘’Tugas kami pemerintah adalah bagaimana membuat daerah ini nyaman dan ramah kepada investasi,’’ jelasnya.

Plt Kepala DPMPTSP NTB, Drs. Syamsul Rizal, MM  mengharapkan adanya sinergi dan koordinasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota dengan para investor yang akan melakukan investasi di daerah ini. Rizal menyebutkan, target realisasi investasi di NTB tahun 2019 sebesar Rp16 triliun. Namun hanya mampu tercapai sebesar Rp10 triliun.

Baca juga:  HIPO Jadi Atensi Aparat Penegak Hukum

Ia mengatakan tak tercapainya target realisasi investasi tersebut, salah satunya karena  adanya gempa serta adanya masalah internal para investor. Pada 2020, Pemprov menargetkan realisasi investasi lebih tinggi dari tahun sebelumnya, yakni sebesar Rp16,8 triliun. Meskipun targetnya dianggap cukup berat, Rizal mengaku optimis dapat tercapai pada 2020 ini.

Sementara itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) NTB, Herry Prihatin mengatakan target realisasi sebesar Rp16 triliun pada 2019 sebenarnya gampang dicapai. Asalkan ada sinergi antara pemerintah dengan swasta.

Bahkan Herry mengatakan potensi investasi di NTB sangat besar dibandingkan daerah lainnya di Indonesia. Ia menyebut potensi investasi di NTB besar, asalkan ada sinergi antara pemerintah dan swasta.

Ia juga menyoroti soal sulitnya perizinan di tingkat desa. ‘’Rekomendasi kepala kampung, kepala desa jauh lebih mahal daripada Bapak Gubernur. Ini harus kita pangkas. Mungkin perlu Satgas khusus investasi,’’ sarannya. (nas)