Juni, Harga Bawang Diprediksi Turun

Ilustrasi bawang putih lokal. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Melonjaknya harga bawang putih yang menembus angka Rp60 ribu/Kg diharapkan tidak berlangsung lama. Pasalnya, mekanisme pasar yang sedang berlangsung diprediksi berakhir setelah masa panen pada periode Juni-Juli mendatang.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB, Ir. Husnul Fauzi, M.Si, menerangkan bahwa hal tersebut sangat mungkin untuk wilayah NTB, mengingat posisinya sebagai sentra bibit bawang nasional. Di mana NTB secara berkala menjadi pemasok kebutuhan bawang putih nasional selain mengandalkan bawang putih impor dari China.

Baca juga:  Harga Cabai Melambung, Inflasi NTB Diprediksi Meningkat

“Potensi kita itu 20.000 hektare (untuk bawang putih). Kita penanaman baru 10.000 hektare,’’ sebut Husnul, Jumat, 7 Februari 2020 di Mataram. Periode tanam dilakukan pada Februari-Maret. ‘’Bawang putih yang kita konsumsi sekarang hasil panen 2019 lalu. Penanaman bulan Juni-Juli, 5-6 bulan disimpan baru dikonsumsi (dipasarkan, Red),’’ sambungnya.

Ditegaskan Husnul, NTB saat ini surplus untuk komoditas bawang putih. Di mana produksinya mencapai 59 ribu ton. Sedangkan kebutuhan konsumsi hanya 25 ribu ton. Terkait kenaikan harga sendiri, diakui merupakan mekanisme pasar yang berlangsung.

Baca juga:  Harga Gula di Kota Mataram Belum Bisa Dikendalikan

Mengingat Indonesia secara umum mengalami defisit bawang putih. Sehingga NTB harus memasok hasil produksi untuk memenuhi kebutuhan bawang putih nasional. Selain itu, petani bawang disebut lebih cenderung menjual hasil produksi ke luar daerah dikarenakan harga yang lebih mahal.

‘’Harga lokal bisa sampai Rp80, digenjot dengan yang ekspor supaya turun. Proses penurunan harga yang lokal tadi harus mengikuti,’’ ujar Husnul. Masuknya impor bawang putih sendiri dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan harga yang memadai.

Baca juga:  Bawang Putih Sembalun Belum Bisa Bersaing dengan Produk Impor

Menurut Husnul, atensi perlu diberikan pada kemungkinan disparitas harga komoditas di petani dan di pasar. ‘’Yang tidak bisa kita terima, ketika di petani harganya Rp20 ribu, dijual di pasar Rp70 ribu. Kalau di petani harganya Rp70 ribu, di sini dijual Rp75-80, itu masih bisa,’’ pungkasnya. (bay)