Beranda Ekonomi Bawang Putih Sembalun Belum Bisa Bersaing dengan Produk Impor

Bawang Putih Sembalun Belum Bisa Bersaing dengan Produk Impor

0
9
Komoditi bawang putih Sembalun yang masih belum bisa bersaing dengan produk impor. (Suara NTB/dok)

Selong (Suara NTB) – Produksi bawang putih Sembalun selama beberapa kali musim ini diklaim cukup bagus. Bahkan terakhir produksi surplus sampai ribuan ton. Meski demikian, produksi bawang putih ini belum bisa bersaing dengan bawang putih impor.

Ketua Kelompok Tani Bawang Putih Lendang Guar, Sembalun, Ruspaeni kepada Suara NTB, Jumat, 7 Februari 2020 mengaku, harga bawang putih impor lebih murah dibandingkan harga bawang putih lokal Sembalun. Alasannya, biaya produksi bawang impor ini relatif lebih rendah dibandingkan varietas Sangga Sembalun.

Saat ini, ujarnya, harga bawang putih Sembalun ini Rp 32 ribu sampai dengan Rp 45 ribu per Kg. Harga ini dinilai cukup bagus. Akan tetapi, untuk harga bawang putih impor diyakini akan jauh lebih murah. Pasalnya, biaya produksi bawang putih Sembalun tembus Rp140 juta per hektar.

Ruspaeni mengasumsikan, jika rata-rata produktivitas lahan bawang putih 16-17 ton per hektar, dengan harga Rp 1 juta basah dan Rp 37 ribu kering dinilai tetap memberikan keuntungan bagi petani. Meski demikian, belum bisa menyaingi impor, karena biaya produksinya sedikit.

“Kalau impor kemungkinan harganya Rp 27 ribu per Kg,” sebutnya.

Diakuinya, harga bawang putih saat ini terus naik. Hal ini karena impor bawang putih dari China dibatasi seiring dengan munculnya virus Corona. Kemunculan virus ini dinilai cukup besar pengaruhnya bagi harga komoditi di NTB.

Produksi bawang putih Sembalun, sambung Ruspaeni sejauh ini belum bisa memenuhi kebutuhan bawang putih secara nasional. Karenanya, petani bawang putih ini tidak mempermasalahkan keberadaan bawang putih impor. Hanya saja, kalau terus menerus dilakukan oleh pemerintah, maka komoditi lokal bisa terancam.

Ruspaeni menyarankan, jika ingin mengembangkan produk bawang putih lokal, keran bawang putih impor dibatasi.

  Budidaya Tembakau, Keuntungan Terbesar Berputar pada Pemodal

Mengenai kebutuhan bawang putih di lokal NTB, ujarnya, produksi 4 ribu ton lebih bawang putih Sembalun sebenarnya sudah bisa memenuhi kebutuhan masyarakat NTB. Namun, adanya bawang putih impor membuat pilihan masyarakat lebih banyak ke bawang putih impor, karena harganya lebih murah. (rus)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here