Tujuh Tahun, Investasi di Pantai Pink Tak Kunjung Terealisasi

Pemandangan di kawasan Pantai Pink, Lombok Timur. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Investor asal Swedia, PT. Eco Solutions Lombok (ESL) yang memperoleh izin investasi pengembangan jasa wisata alam di Pantai Pink, Kawasan Tanjung Ringgit, Jerowaru, Lombok Timur, hingga saat ini belum merealisasikan investasinya. Terhitung sekitar tujuh tahun sejak investor asal Swedia ini memperoleh izin pada 2013 silam, investasi di Pantai Pink tak kunjung terealisasi.

PT. ESL memperoleh izin seluas 339 hektare di Hutan Sekaroh. Rencananya, mereka akan membangun resort dan klinik kesehatan di daerah tersebut.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB, Ir. Madani Mukarom, B. Sc.F, M. Si dikonfirmasi kemarin mengatakan, belum lama ini PT. ESL sudah dipanggil oleh Pemprov NTB. Pemprov meminta agar mereka sesegera mungkin melakukan action di lapangan.

Selain belum melakukan action di lapangan, PT. ESL juga menunggak pembayaran iuran Izin Usaha Penyediaan Jasa Wisata Alam (IUPJWA) yang mencapai miliaran rupiah. Pada saat memperoleh izin, PT. ESL punya kewajiban membayar iuran IUPJWA sebesar Rp1 juta per hektare. Namun dengan aturan yang baru, mereka dikenakan Rp10 juta per hektare.

Baca juga:  Wapres: Omnibus Law untuk Atasi “Obesitas” Regulasi

‘’Besaran iurannya akan dinegosiasikan. Karena dulu standar pas dia dapat izin Rp1 juta per hektare. Sekarang dia minta keringanan, yang dikenakan Rp10 juta per hektare,’’ katanya.

Madani menjelaskan, sudah ada tim yang dibentuk untuk membahas masalah ini. Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) sebagai ketua tim yang akan mengevaluasi besaran iurannya.

Ia menjelaskan, lahan investasi PT. ESL sudah beres. Hanya ada satu atau dua sertifikat yang dimenangkan oleh warga di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Namun, kata Madani, penyelesaian persoalan lahan lewat jalur pidana sudah dimenangkan oleh Pemda sampai ke tingkat Mahkamah Agung (MA).

Namun, kata Madani, masih banyak masyarakat yang merambah hutan di sana. Hutan Sekaroh yang memiliki luas 2.600 hektare, kondisinya sudah gundul. Dari seluas itu, investor hanya diberikan izin seluas 339 hektare untuk pengembangan jasa wisata alam. Dari izin seluas itu, investor hanya bisa membangun untuk bungalow dan fasilitas lainnya sekitar 33 hektare atau 10 persen dari total izin yang diperoleh.

Baca juga:  ‘’The New NTB, Toward Sustainable Tourism’’

Madani mengakui bahwa investasi PT. ESL di Pantai Pink Kawasan Tanjung Ringgit masih tersendat. Namun berdasarkan hasil pertemuan terakhir dengan investor, mereka akan mulai melakukan pembangunan akhir tahun ini.

‘’Kemarin Pak Sekda pimpin rapat. Meminta segera dipercepat pembangunannya, janjinya akhir tahun ini sudah action.  Kita tagih supaya segera dipercepat pembangunannya,’’ kata Madani.

Diketahui, investor asal Swedia itu sudah mengantongi izin di Kawasan Tanjung Ringgit Hutan Sekaroh sejak 2013 lalu. Namun sampai sekarang belum beroperasi. Sedikitnya ada lima persoalan yang menjadi penghambat terealisasinya investasi tersebut.

Pertama, persoalan lahan. Banyak sertifikat hak milik yang terbit di lokasi yang menjadi izin investasi PT. ESL. Kedua, ada lokasi investasi yang belum clear. Ketiga, persoalan kemitraan dengan masyarakat. Keempat, kewajiban PT. ESL mengenai pembayaran iuran IUPJWA. Dan terakhir, adanya wilayah perairan yang masuk izin PT. ESL disinyalir diserobot oleh perusahaan lain.

Direktur Hukum PT. Eco Region Indonesia, Bima Harahap ang dikonfirmasi Suara NTB, Selasa, 4 Februari 2020 kemarin belum memberikan jawaban terkait desakan Pemda agar mereka segera merealisasikan investasinya. Namun dalam pertemuan dengan gubernur dan Pemda Lombok Timur di Kantor Gubernur beberapa waktu lalu, Bima menjelaskan penyebab belum adanya pembangunan di kawasan Hutan Sekaroh. Bahwa sejak mendapatkan izin pada 2013, pihaknya tidak bisa mengakses lokasi. Kontainer yang dibawa untuk dijadikan bangunan kantor dihadang oleh Satpol PP Lombok Timur pada waktu itu.

Baca juga:  “Sihir” Moyo di Lombok Travel Mart 2020

Dengan pergantian kepemimpinan di Lotim, Bima mengatakan PT. ESL memiliki harapan baru. Setelah Bupati Lotim kembali dijabat Drs. H. M. Sukiman Azmy, pihaknya punya harapan bisa masuk ke lokasi. Dulunya, kata Bima, kontainer yang dipasang, dibakar oleh warga. Begitu juga plang-plang yang dipasang, dicabut oleh warga.

Rencananya, PT. ESL dalam jangka panjang akan membangun 5.000 kamar hotel. Karena lokasinya berada di kawasan hutan, maka bangunan hotel maksimal dua lantai. Hotel ang dibangun sejenis vila.  Investasi yang disiapkan untuk dua tahun ke depan sekitar 5 juta dolar Amerika. Jika ditambah dengan pembangunan klinik, investasinya mencapai 10 juta dolar Amerika. (nas)