Harga Cabai Melambung, Inflasi NTB Diprediksi Meningkat

Ilustrasi Penjual cabai (Suara NTB/aan)

Mataram (Suara NTB) – Bank Indonesia (BI) memprediksi inflasi di NTB akan meningkat akibat melambungnya harga cabai pada bulan Januari ini. Inflasi NTB diprediksi meningkat menjadi 0,61 persen pada bulan Januari ini.

“Kita proyeksikan 0,61 persen inflasi  bulan Januari. Nanti dirilis biasanya  awal Februari,” kata Kepala Perwakilan BI NTB, Achris Sarwani dikonfirmasi usai rapat koordinasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) NTB di Kantor Gubernur, Rabu, 29 Januari 2020.

Ia mengatakan kenaikan harga cabai pada awal-awal tahun memang sudah diantisipasi. Melambungnya harga cabai saat ini dikisaran Rp65 ribu sampai Rp70 ribu per Kg harus mampu terus dijaga bila perlu ditekan. Jangan sampai harga cabai mencapai Rp120 ribu per Kg seperti beberapa tahun lalu.

Jika melihat tren selama ini bahwa memang inflasi NTB pada Januari cenderung naik dibandingkan Bulan Desember tahun sebelumnya. Ia menyebut penyumbang terbesar kenaikan inflasi NTB biasanya bahan-bahan bumbu dapur seperti tomat, sayur, mie, cabai rawit, bawang merah dan cabai merah untuk di Kota Mataram. Sedangkan di Kota Bima, penyebab inflasi biasanya  tomat, sayur, daging ayam, cabai rawit dan tongkol.

Baca juga:  Kendalikan Harga Gula, Pemkot akan Gelar Pasar Rakyat

“Secara total data kita menunjukkan akan naik sesuai trennya. Diperkirakan sekitar 0,61 persen di NTB. Tahun lalu sama (inflasi naik). Ini siklus. Cuma kita jaga upayanya. Supaya jangan sampai naiknya terlalu tinggi,” katanya.

Achris mengingatkan beberapa tahun lalu, harga cabai di NTB melambung sampai Rp120 ribu per Kg. Ia mengharapkan jangan sampai harga cabai pada tahun ini melambung sampai Rp120 ribu per Kg. Pasalnya, sekarang saja dengan harga ang sudah menembus Rp65 ribu sampai Rp70 ribu per Kg, masyarakat sudah teriak.

Achris mengatakan penyebab tingginya harga cabai bukan akibat produksi. Ternyata, produksi cabai di NTB cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam daerah. Tetapi, produksi cabai NTB yang dikirim ke daerah lain.

Baca juga:  Gula Tembus Rp17 Ribu Per Kilogram, Pemkot Gelar OP

Pihaknya mengusulkan produksi cabai direncanakan sejak awal. Antara petani dan pedagang perlu dipertemukan sejak awal penanaman. Sehingga, produksi cabai NTB dapat untuk memenuhi kebutuhan lokal dan luar daerah.

“Perlu teknologi, bagaimana informasi, pola tanam di perencanaan dari awal harus disiapkan. Sehingga dari awal sudah disiapkan untuk pasar dalam daerah dan luar daerah. Petani pasti mau, yang penting pada waktu panen cabai  laku. Beberapa dinas kita harus memulai dari perencanaan produksi. Dipertemukan petani dan pedagangnya,” sarannya.

Ketika cabai dibutuhkan di pasar lokal dan luar daerah dapat dipenuhi oleh petani NTB. Sehingga petani tak dirugikan ketika musim panen dan konsumen tak menjerit melambungnya harga cabai pada musim-musim tertentu. Karena dari awal sudah direncanakan produksinya.

Diketahui, pada Desember 2019, NTB mengalami inflasi sebesar 0,36 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 136,00 pada bulan November 2019 menjadi 136,49 pada bulan Desember 2019. Angka inflasi ini berada di atas angka inflasi nasional yang tercatat sebesar 0,34 persen.

Baca juga:  Satgas Pangan Sidak Pasar, Stok Gula Pasir Aman Sampai Lebaran

Untuk wilayah NTB, Kota Mataram mengalami inflasi sebesar 0,21 persen dan Kota Bima mengalami inflasi sebesar 0,95 persen.

Inflasi NTB bulan Desember 2019 sebesar 0,36 persen terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan dengan kenaikan indeks pada Kelompok Bahan Makanan sebesar 1,61 persen; Kelompok Transport, Komunikasi & Jasa Keuangan sebesar 0,55 persen; Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau sebesar 0,04 persen dan Kelompok Pendidikan, Rekreasi & Olah raga sebesar 0,00 persen. Sedangkan penurunan indeks terjadi pada Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan bakar sebesar 0,38 persen; Kelompok Sandang sebesar 0,14 persen dan Kelompok Kesehatan sebesar 0,01 persen. (nas)