PLN UIP Nusra di Balik Layar, Bangun Infrastruktur Ketenagalistrikan hingga Pelestarian Penyu

H. Awan dan pengunjung menyaksikan penyu yang ditangkarkan di kolam besar dengan dukungan penuh PLN UIP Nusra (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) di balik layar turut mewujudkan Nusa Terang Benderang. Kiprahnya terhadap pembangunan tidak saja di bidang infrastruktur ketenagalistrikan. Lebih dari itu, sisi-sisi lain mendukung pembangunan juga dilakukan melalui penghijauan, hingga pelestarian biota.

PLN UIP Nusa Tenggara ditugaskan oleh pemerintah untuk membangun hulu infrastruktur ketenagalistrikan. Meliputi pembangunan di dua provinsi, NTB dan NTT. Sampai saat ini, PLN UIP Nusra telah melakukan dan melaksanakan pembangunan sejumlah infrastruktur ketenagalistrikan berupa pembangkit, transmisi, dan gardu induk (GI).

Sepanjang tahun 2019 lalu, berbagai proyek telah dirampungkan pembangunannya untuk memperkuat sistem kelistrikan Provinsi NTB, yakni sistem Lombok dan sistem Sumbawa. Kemudian sistem kelistrikan Provinsi NTT, yakni sistem Flores, dan sistem Timor.

297 Megawatt (MW) kapasitas pembangkit berhasil beroperasi untuk meningkatkan pasokan daya dan kapasitas. Terdapat 5 pembangkit yang telah berhasil dioperasikan yaitu PLTMGU Lombok Peaker dengan kapasitas 130 MW, PLTMG Bima 50 MW, PLTMG Sumbawa 50 MW, PLTU Sumbawa Barat 14 MW, dan PLTMG Maumere dengan kapasitas 40 MW.

Kemudian pada sisi jaringan transmisi, PLN UIP Nusra telah mampu menyelesaikan dan mengoperasikan transmisi sepanjang 874 kilometer sirkit (kms), transmisi atau Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) tersebar di 2 Provinsi, yakni NTB dan NTT.

SUTT tersebut antara lain SUTT PLTMG Kupang Peaker – Bolok 30 kms, SUTT Bayan – PLTU Lombok FTP2 92 kms, SUTT Tanjung – Bayan 75 kms, SUTT Bajawa Ruteng 120 kms, SUTT Empang – Dompu 155 kms, SUTT Labuhan/Sumbawa – Empang 160 kms, SUTT Alas/Tano – Labuhan/Sumbawa 138 kms, dan SUTT PLTMG Sumbawa – Labuhan/Sumbawa sepanjang 32 kms.

840 MVA kapasitas gardu induk juga berhasil dioperasikan pada tahun 2019 yang tersebar di NTB dan NTT, Gardu Induk (GI) tersebut antara lain Gardu Induk (GI) PLTMG Kupang Peaker, GI Bolok, GI Bayan, GI Selong, GI Mataram, GI Tanjung, GI Maumere, GI Ende, GI Empang, GI Dompu, GI Woha, GI PLTMG Sumbawa, GI Labuhan/Sumbawa, GI Bima, GI Bonto, dan Gardu Induk (GI) Taliwang.

“Sinergisitas antara PLN UIP Nusra dengan seluruh stakeholder baik itu pemerintah daerah provinsi, kabupaten, apparat TNI/Polri, jajaran kejaksaan, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, dan tentunya seluruh masyarakat di provinsi NTB dan NTT. Sehingga PLN UIP Nusra mampu melaksanakan tugas dengan maksimal untuk menyelesaikan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan yang ditugaskan pemerintah,” kata General Manager PT. PLN (Persero) UIP Nusa Tenggara, Yuyun Mimbar Saputra.

Saat ini, untuk sistem Sumbawa, tol listrik Sumbawa sudah rampung, terbentang dari Taliwang hingga ke Bima. Tol Listrik Lombok juga sudah rampung, jalur sistem melalui jalur timur dinyatakan telah tersambung.

Di bagian lain, PLN UIP Nusra juga telah melakukan penghijauan di sejumlah titik strategis. Misalnya, di Gunung Sasak, Kabupaten Lombok Barat pada akhir 2019 lalu. Dari program penanaman 22.000 pohon yang ditanam secara serempak se Indonesia.

Di Gunung Sasak, PLN menanam 1.000 pohon buah (alpukat dan kelengkeng).

Menyelamatkan lahan-lahan yang kritis. Dengan harapan, melalui gerakan penghijauan agar seluruh elemen masyarakat dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan.

PLN UIP Nusra juga turut ambil bagian mendukung kejayaan Sembalun, Lombok Timur sebagai daerah penghasil kopi. Dalam sejarahnya, Sembalun dikenal sebagai penghasil kopi berkualitas dunia dan beras merah.

Tahun 80-an, petani di Sembalun meninggalkan kopi, kemudian beralih ke bawang putih yang saat itu merupakan salah satu program pemerintah pusat. Belakangan, masyarakat (petani) di kaki Gunung Rinjani ini ingin kembali ke masa jayanya, sebagai sentra penghasil kopi.

PLN UIP Nusa Tenggara mengamini permintaan masyarakat adat Sembalun, dengan membantu penyediaan bibit, penanaman, hingga pendampingan tim teknis dan selama enam bulan, serta pemupukan. Agenda ini dimulai pada semester II tahun 2019. PLN UIP Nusra juga mendukung persemaian bibit kopi didukung hingga 100 ribu bibit untuk menghijaukan kaki Rinjani.

Ditambah lagi program lain yang dilaksanakan sejak tahun 2019, PLN UIP Nusra turut mendukung pengembangan pariwisata Kota Mataram dengan pelestarian penyu di Pantai Mapak.

Bagian dari 9 Km panjang Pantai Kota Mataram ini dulunya pantai kumuh, kini telah dibenahi. Pantai ini dikenal sebagai tempat berkembang biaknya penyu. Sejak lama, penyu-penyu mendarat, bertelur dan berkembang biak di pantai Lingkar Selatan ini.

Mapak menjadi rumah besar bagi penyu karena di perairannya terdapat terumbu karang meja yang menjadi tempat berkembangbiaknya hewan amphibi ini. Jenis penyu yang ada adalah penyu sisik dan lekang. Termasuk penyu langka.

Dulunya penyu oleh masyarakat setempat dianggap sebagai hama. Ketika mendarat, penyu dibantai begitu saja. Telur-telurnya diambil, kemudian dijual. Padahal, keberadaan penyu di Mapak ini termasuk salah satu keunikan perairan di Indonesia.

Keperihatinan itu juga yang mengundang naluri H. Mahendra Irawan melakukan konservasi penyu secara swadaya. Dimulai sejak 2016, H. Awan fokus melakukan penyelamatan terhadap penyu-penyu yang naik, bertelur kemudian berkembang biak. Dengan keadaan sangat terbatas. Pemerintah daerah sendiri juga abai. Karena Pantai Mapak dengan potensi penyunya dianggap tak potensial menyumbang PAD.

Gayung bersambut perjuangan panjang H. Awan, PLN UIP Nusra mulai mendukung pelestarian penyu dan penataan Pantai Mapak. Ratusan juta nilai anggaran yang telah digelontorkan kata H. Awan. Alokasinya untuk pembangunan fisik, gerbang, pamasangan paving blok, sarana bermain pengunjung, toilet, kamar mandi, fasilitas penangkaran penyu, dan kolam penyu.

Pantai Mapak kini representatif sebagai destinasi wisata. Dalam sehari, jumlah pengunjung bisa mencapai hingga seribuan orang. Pedagang-pedagang lapak mulai ambil bagian. Menjajakan beragam menu, terutama menu-menu seafood.

Awan menyebut, penangkaran penyu di Pantai Mapak kini telah menjadi wisata edukasi, selain wisata pantai. Setidaknya, sudah 50 sekolah di Pulau Lombok yang datang berkunjung dan melepas tukik yang ditangkarkan. PLN UIP Nusra juga turut menjaga pantai Mapak dari abrasi dengan menanam pohon cemara.

‘’Dampak ekonominya, satu pedagang sekarang bisa berjualan Rp2 juta sampai Rp3 juta sehari. Diluar malam Minggu. Sudah banyak yang tertarik datang ke Pantai Mapak. Di muka depan, PLN juga membantu pembuatan mural tentang pantai dan penyu yang mempercantik jalan masuk ke Pantai Mapak,’’ ujarnya.

Dengan berkembangnya Pantai Mapak ini, masuk tawaran dari biro-biro perjalanan wisata untuk membuat paket wisata edukasi penyu, pantai dan kuliner di Pantai Mapak. (bul)