Beranda Ekonomi Dua Bersaudara Lumpuh Total, Bertahan Hidup Hanya dari Jatah Raskin

Dua Bersaudara Lumpuh Total, Bertahan Hidup Hanya dari Jatah Raskin

0
8
Kenim dan Kenyep di rumahnya bedek miliknya. Keduanya lumpuh sejak puluhan tahun yang lalu dan sangat  butuh dukungan program pemerintah.  (Suara NTB/kir)

Mataram(Suara NTB) – Kemajuan pembangunan yang diklaim cukup pesat oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) belum bisa dirasakan sepenuhnya oleh sebagian masyarakat di daerah ini. Masih banyak masyarakat yang justru masih tinggal di rumah tidak layak huni serta jauh dari sentuhan program pemerintah. Seperti yang dialami Kenim (35) dan Kenyep (30) dua bersaudara asal Dusun Ngabok Desa Plambik Kecamatan Praya Barat Daya ini. Keduanya menjadi gambaran potret buram kemiskinan di daerah ini.

MENGALAMI kelumpuhan sejak puluhan tahun yang lalu, kedua tinggal dalam kondisi miskin di sebuah rumah yang jauh dari kata layak. Tidak bisa berbuat apa-apa, karena kondisi lumpuh keduanya hanya bisa mengandalkan belas asihan dari tetangga terdekatnya hanya untuk sekedar bertahap hidup.

Maklum program bantuan beras miskin (raskin) yang diperoleh per bulan nyatanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sementara program bedah rumah, Program Keluarga Harapan (PKH) yang diharapkan bisa untuk sekedar memperbaiki kondisi supaya bisa menjalani hidup yang lebih layak, nyata hanyalah mimpi.

“Kalau jatah raskin memang ada mereka dapat per bulannya. Tapi untuk program yang lain, tidak ada,” aku Mahrup, warga setempat, Sabtu, 18 Januari 2020.

Padahal, ujarnya, mereka sangat berharap pada program-program pemerintah tersebut. Dari sisi kelayakan, mereka sangat layak mendapat bantuan pemerintah. Karena hanya itulah harapan mereka untuk bisa memperbaiki kondisi kehidupan. Sementara kalau mau bekerja seperti yang lain sudah tidak bisa sama sekali. Karena untuk berjalan saja sudah tidak bisa, akibat lumpuh total yang dideritanya sejak puluhan tahun yang lalu. Sampai-sampai untuk keperluan sanitasi saja oleh para tetangga keduanya dibuatkan kamar kecil tidak jauh dari tempat tidurnya.

  IPM NTB Masih di Urutan 29 Nasional

“Mau bergantung kepada orang tua, mereka sudah yatim piatu. Mau bergantung ke tetangga, juga tidak akan bisa. Harapan satu-satunya ya pemerintah. Namun pemerintah yang diharapkan kehadirannya juga tidak kunjung hadir,” terangnya.

Mahrup menuturkan, Kenim mengalami kelumpuhan sejak masih kecil. Sementara Kenyep, lumpuh sejak masih duduk di bangku SD. Tidak diketahui pasti penyakit apa yang diderita keduanya. Sampai mengalami kelumpuhan total pada kakinya. Pihak keluarga dekat sudah berusaha mengobati keduanya. Namun hasilnya masih nihil.

Pernah ada rencana untuk melakukan pengobatan ke rumah sakit saat kedua orang tuanya masih ada. Paling tidak supaya keduanya bisa berjalan, meski nantinya hanya menggunakan alat bantu. Tetapi karena kendala biaya, rencana tersebut urung dilakukan.

Kenim dan Kenyep kini tinggal bertiga bersama bibi yang sudah usia lanjut di rumah bedek berukuran 3 x 4 meter dan berlantaikan dari tanah. Hanya ada satu kamar di rumah ini dan keduanya harus berbagi tempat tidur. Bahkan, terkadang keduanya harus tidur bergantian, karena kondisi kamar yang sempit. (kir)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here