Serangan Ulat Gerayak di KSB Meluas

Ilustrasi tanaman jagung (Suara NTB/dok)

Taliwang (Suara NTB) – Dinas Pertanian (Distan) Sumbawa Barat, mencatat sedikitnya sekitar 291 hektar lahan jagung yang terserang hama ulat gerayak di awal musim tanam di tahun 2020. Serangan hama ini diprediksi akan terus meningkat lantaran faktor cuaca yang tidak menentu (hujan dan panas) masih terjadi di wilayah setempat.

Serangan ini jika tidak segera ditangani, dikhawatirkan akan menurunkan tingkat produksi sebesar 5-20 persen. Sementara jika terpapar di pertanaman muda akan menyebabkan kehilangan produksi hinga 15-73 persen.

‘’Memang luas serangan hama ulat gerayak ini terus bertambah di wilayah setempat, makanya kami akan segera membuat usulan ke provinsi untuk bisa dibantu obat-obatan. Karena untuk saat ini Kecamatan Poto Tano dengan luas 170 hektar belum ditangani karena terbatasnya persediaan obat-obatan. Semenatara untuk tiga lokasi lainnya sudah ditangani dengan baik sehingga tingkat pertumbuhan telur ulat tersebut bisa ditekan,’’ ujar Kepala Distan KSB kepada Suara NTB, melalui Kabid Pertanian dan Tanaman Pangan Syaiful Ulum SP, Jumat, 17 Januari 2020 kemarin.

Dijelaskannya, Ulat Gerayak Frugiperda (UGF) ini merupakan hama baru pada tanaman jagung di Indonesia. Serangan hama tersebut pertama kali muncul di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) pada bulan Maret tahun 2019. Dalam waktu kurang dari 5 bulan telah menyebar ke 13 provinsi lainnya termasuk NTB.

Penyebaran ulat gerayak yang cepat di duga karena kemampuan reproduksi tinggi, daya jelajah tinggi dan kondisi iklim yang sesuai, seperti hujan dan panas. UGF juga mempunyai daya rusak yang sangat tinggi dengan tingkat kepadatan populasi 0,2 – 0,8 larva per tanaman jagung. Khusus untuk KSB, serangan UGF mulai terdeteksi pada pertengahan bulan Desember tahun 2019 di Kelompok Tani Batu Nampar I dan II di Desa Beru Kecamatan Jereweh.

Luas areal yang terdampak pertama kali di dua Poktan tersebut seluas 30 hektar saja. Tetapi karena perkembang biakannya sangat cepat akhirnya jumlah lahan terpapar meluas menjadi 104 hektar di Kecamatan Jereweh. Di kecamatan ini juga, dinas terkait sudah memberikan bantuan insektisida sebanyak 210 liter dan saat ini kondisinya sudah aman dan terkendali dengan baik. ‘’Kasus ini muncul di Jereweh dan meluas ke daerah lainnya, beruntung kita cepat tangani sehingga tidak menimbulkan kerusakan yang parah terhadap jagung petani,’’ ujarnya

Dikatakannya, adapun wilayah-wilayah yang terpapar hama ulat gerayak, di Kecamatan Jereweh terjadi di tiga desa yakni Desa Belo dengan luas sekitar 27 hektar, Desa Beru 40 hektar, dan Goa 37 hektar. Di Kecamatan Taliwang terjadi di Desa Batu Putih dengan luas lahan sekitar 7 hektar dan Telaga Bertong sekitar 1 hektar. Di Kecamatan Seteluk dengan total lahan yang terpapar sekitar 9 hektar dan itu semua sudah bisa terkendali.

Khusus di Kecamatan Poto Tano terjadi di lima desa dengan total luas 170 hektar yakni Desa Senayan 75 hektar, Mantar, 37 hektar, Tambak Sari 42 hektar Kokarlian 9 hektar dan Desa Tebo 1 hektar. Terkait dengan kondisi lahan di Poto Tano, pihaknya mengaku masih belum melakukan penanganan secara maksimal, hal tersebut terjadi lantaran bantuan obat-obatan yang belum tersedia secara maksimal.

Pola penanganan terhadap lahan yang terpapar ini juga harus disikapi secara serius karena serangan ini diprediksi akan terus meluas dengan areal waspada mencapai angka 200 hektar di kecamatan Poto Tano.

‘’Kami berharap supaya provinsi bisa memberikan bantuan obat-obatan sesegera mungkin untuk menekan penyebaran hama tersebut. Jika tidak segera, maka kami khawatir penanganan yang akan dilakukan nantinya akan lebih besar dan biaya yang dikeluarkan juga akan lebih besar,’’ tandasnya. (ils)