Minimalisir Gulung Tikar Aprindo Minta Izin Retail Modern Diatur

Bekas pusat perbelanjaan Giant Extra Gegutu yang saat ini tidak berfungsi setelah ditutup. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) Provinsi NTB meminta pemerintah daerah, khususnya Pemkot Mataram untuk memperbaiki tata kelola Retail -retail modern. Keberadaan retail modern berjejaring nasional dianggap berpotensi mematikan retail modern lainnya. Ketua Aprindo Provinsi NTB, Dr. Azis Bagis menyebut beberapa kisah tutupnya retail modern di Kota Mataram. Sebut saja Giant Extra di Gegutu, Selaparang. Kemudian Hero di Mataram Mall. Meskipun kasusnya berbeda.

Giant di Gegutu gulung tikar, lebih kepada salah perhitungan bisnis. Sebelumnya diketahui Giant Gegutu hadir untuk menyambut rencana pembangunan perumahan perumahan di sekitarnya. Namun hingga beberapa lama bisnisnya berjalan, perumahan yang direncanakan tak kunjung dibangun. “Dan tempatnya sepi, salah perhitungan bisnis. Beda kalau Hero di Mataram Mall, tidak diperpanjang izinnya oleh pengelola mall, katanya tidak ketemu kesepakatannya,” ungkap Dosen Fakultas Ekonomi Unram ini.

Kepada Suara NTB, Jumat, 17 JAnuari 2020 kemarin,. Azis Bagis meminta kepada Pemkot Mataram untuk sementara ini melakukan tata kelola terhadap izin-izin retail modern yang akan masuk. Terutama yang berjaringan nasional. Sebut saja Indomaret dan Alfamart. Berkaca dari Giant Gegutu, tutupnya retail modern besar ini juga tak lepas dari masih lemahnya perekonomian masyarakat Indonesia pada umumnya. Pertumbuhan ekonomi Indonesia juga tak mencapai target yang diharapkan pemerintah.

“Sementara sampai ekonomi membaik, jangan dulu (izin retail modern). Kalaupun ada, ditata lagi,” sarannya. Misalnya, izin diberikan kepada daerah-daerah yang masih belum dimasuki oleh pelaku UMKM. Saat ini retail modern lokal sedang dihadapkan tantangan yang tidak kecil. Menghadapi retail modern berjaring nasional. Yang sudah ada sudah terlihat tanda-tanda gulung tikar. Menurutnya, tidak fair, mengadu pengusaha kecil dengan pengusaha raksasa. Karena itulah, pemberian izin-izin retail modern harus mempertimbangkan lokasi yang tepat. “Kebijakan ini sifatnya sementara. Kalau sudah ekonomi membaik. Silahkan saja. sementara ini, selamatkan dulu retail lokal ini bisa bertahan,” demikian Aziz Bagis. (bul)