Presiden Segera Tetapkan Lokasi Smelter Sebagai Kawasan Industri

Ridwan Syah (Suara NTb/dok)

Mataram (Suara NTB) – Untuk mengakselerasi pembangunan smelter atau pabrik pemurnian emas dan tembaga di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Pemerintah Pusat akan segera menetapkan kawasan industri (KI). Pabrik smelter dan industri turunannya yang akan menjadi kawasan industri, sudah masuk dalam RPJMN 2020-2024, yang akan segera diteken lewat Peraturan Presiden (Perpres).

Asisten II Perekonomian dan Pembangunan Setda NTB, Ir. H. Ridwan Syah, MM, M.TP yang dikonfirmasi Suara NTB, Minggu, 12 Januari 2020 menjelaskan bahwa gubernur sudah mengusulkan kawasan industri smelter ke Kementerian Perindustrian.

Kementerian Perindustrian kemudian bersurat ke Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengajukan agar kawasan industri smelter di KSB masuk sebagai kawasan industri.

Nantinya, kata Ridwan, sesuai ketentuan setelah ditetapkan dalam RPJMN, maka penetapannya menjadi kawasan industri oleh Kementerian Perindustrian. ‘’Penetapannya dari Kementerian Perindustrian sebagai kawasan industri,’’ jelasnya.

Baca juga:  Penetapan Kawasan Industri KSB Jadi Stimulus Investasi

Dengan ditetapkan menjadi kawasan industri maka akan menjadi payung hukum pengembangan industri smelter di KSB. Dengan ditetapkan menjadi kawasan industri, maka akan dapat menarik investor lainnya berinvestasi. Karena ada kemudahan-kemudahan yang akan diberikan seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.

Dikonfirmasi terpisah, mantan Asisten II Perekonomian dan Pembangunan Setda KSB yang kini menjadi Kepala Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Perumahan dan Permukiman (PUPRPP), Dr. H. Amry Rakhman, MM mengungkapkan bahwa kawasan industri smelter di KSB sudah masuk RPJMN 2020-2024. Kawasan industri smelter yang ada di KSB merupakan salah satu di antara kawasan industri yang akan dikembangkan Pemerintah Pusat lima tahun ke depan.

Baca juga:  KSB Jadi Kawasan Industri, Pembangunan Smelter dan Industri Turunan Jadi Prioritas Nasional

“Kita usulkan masuk RPJMN, sudah dengan Kementerian Perindustrian. Nanti kita tunggu Perpres tentang RPJMN. Maka bisa kita lihat dalam RPJMN, tanggal 31 Desember kemarin draf RPJMN di Bappenas yang diajukan ke Presiden,” terangnya.

Dengan menjadi kawasan industri maka pengembangannya melibatkan banyak pihak, mulai dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten dan investor yang akan menjadi pengelolanya. Kawasan industri smelter di KSB akan dikelola oleh PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT).

Progres pembangunan smelter di KSB terus dikontrol Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian ESDM. Sesuai rencana, konstruksi pembangunan smelter, kata Amry mulai dilakukan April mendatang.

Untuk pembangunan smelter dan industri turunannya membutuhkan lahan seluas 850 hektare. Pembebasan lahan akan dilakukan pada lima desa, yakni Desa Benete, Desa Bukit Damai, Desa Maluk, Desa Mantun dan Desa Beru Jereweh. Di desa Benete, rencana luas lahan yang dibebaskan seluas 287,91 hektare, Desa Bukit Damai 180,37 hektare, Desa Maluk 112,28 hektare, Desa Mantun 266,05 hektare dan Desa Beru Jereweh seluas 3,55 hektare.

Baca juga:  KSB akan Titip Ganti Rugi Lahan Proyek Smelter di Pengadilan

Smelter yang dibangun di KSB berkapasitas 1,3 juta ton konsentrat per tahun. Smelter yang dibangun di KSB merupakan pabrik pemurnian emas dan tembaga terbesar di dunia saat ini. Dengan kapasitas smelter sebanyak 1,3 juta ton  konsentrat, maka akan dihasilkan 360.000 copper katode. Kemudian juga akan menghasilkan 1,2 juta H2SO4 cair. Selain itu 800.000 slake tembaga dan 51.000 gypsum. Selain itu juga menghasilkan 20 ton emas. (nas)