“Integrated Ecofarming” Strategi untuk Meningkatkan Ekonomi Petani

Ilustrasi Pertanian (suarantb.com/pexels)

Mataram (Suara NTB) – Salah satu strategi untuk meningkatkan ekonomi di Provinsi NTB di tahun 2020 yaitu melalui pengembangan integrated ecofarming yaitu dengan mengembangkan pertanian dan peternakan secara terintegrasi.

Kepala Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB, Achris Sarwani, Rabu, 11 Desember 2019 mengatakan, melalui konsep integrated ecofarming, limbah peternakan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk pertanian, sehingga tanaman bisa tumbuh subur tanpa pupuk kimia. “Selain itu, limbah pertanian berupa jerami dan bonggol jagung juga akan dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau superfeed,” terang Achris.

Ia yakin bahwa dengan diterapkannya konsep integrated ecofarming tidak ada lagi limbah yang terbuang serta manfaat dari superfeed serta pupuk organik menjadikan produktivitas hasil pertanian meningkat.

BI NTB membuat kalkulasi yang terukur dalam menerapkan konsep tersebut. Menurut Achris, jika seluruh lahan jagung di NTB dapat dimaksimalkan tahun 2020, maka potensi omzet yang dihasilkan dari ternak sapi dan ayam diperkirakan mencapai Rp66,5 triliun. “Selain mencoba mengembangkan di hulu, kami juga mencoba memetakan potensi pengembangan sisi hilir dari komoditas sapi,” ujarnya.

Kata Achris, hilirisasi komoditas sapi dipetakan melalui pemanfaatan kulit sapi, daging sapi dan kotoran hewan menjadi sejumlah komoditas produk olahan siap pakai. Pihaknya memperkirakan potensi omzet dari hilirisasi komoditas sapi pada tahun 2020 mencapai Rp71,34 triliun.

Salah satu contoh implementasi integrated ecofarming ini di Kelompok Tani Subur Metandur, Kopang, Lombok Tengah (Loteng). BI NTB terlibat secara aktif dalam memberikan pendampingan kepada kelompok tani ini. Di tahun 2018 lalu, dibuat demplot atau uji coba dengan penanaman padi organik di lahan seluas dua hektar.

BI menggelar pelatihan kepada kelompok tani dengan beragam materi, mulai dari membuat pupuk cair dari air urine sapi hingga pembuatan pestisida nabati dari bahan alam. Materi pelatihan juga terkait dengan cara membuat pakan ternak dengan memanfaatkan limbah pertanian seperti jerami dan bonggol jagung, sehingga tak ada limbah yang terbuang secara percuma.

  Pekerjaan Tak Sesuai Kontrak Picu TKI Ilegal

Dalam laporan BI NTB disebutkan bahwa petani mampu meningkatkan hasil pertaniannya dengan menggunakan pupuk organik. Per hektar  produksi gabah kering panen organik sebesar 6,2 ton atau mengalami kenaikan sebesar 1,2 ton dari sebelum menggunakan pupuk organik.

Kenaikan produksi tersebut diikuti dengan biaya produksi yang semakin berkurang karena tidak lagi membeli pupuk urea dan pupuk cair serta pestisida kimia. Semuanya tergantikan dengan produk organik yang diproduksi sendiri.

Dengan menggunakan pupuk organik, pupuk cair organik serta pestisida nabati mampu menekan biaya produksi hingga 30 persen dibandingkan dengan menerapkan pertanian dengan bahan-bahan kimia. (ris)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here