Aset Bank NTB Syariah Tumbuh Mencapai Rp11 Triliun

Kukuh Raharjo (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Performa Bank NTB Syariah setelah dikonversi penuh dari bank konvensional setahun lalu menunjukkan kinerja sangat positif. Pertumbuhannya melejit dan cukup meyakinkan bagi banyak pihak untuk bekerjasama dengan bank kebanggaan masyarakat NTB ini.

Dalam setahun terakhir ini, pertumbuhan asetnya telah mencapai Rp11 triliun. Dari target pertumbuhan asetnya tahun 2019 ni antara Rp8,8 triliun, maksimal Rp9 triliun. “Rp11 triliun ini bukan target kami, kami ndak mau besar tapi ndak berisi. Target kami kami hanya Rp8,8 triliun sampai Rp9 triliun,” kata H. Kukuh Raharjo, Direktur Utama Bank NTB Syariah ditemui saat melakukan pertemuan dengan Ketua Real Estate Indonesia (REI) Provinsi NTB, H. Heri Susanto di ruang kerjanya, Jumat, 6 Desember 2019.

Bankir nasional  ini mengatakan ingin menyelaraskan pertumbuhan aset dengan rentabilitas bank (kemampuan untuk menghasilkan laba) disesuaikan. Sampai November 2019 ini, Bank NTB Syariah telah mengukuhkan laba Rp148,8 miliar. Targetnya sampai Desember tahun ini tercapai Rp161 miliar. Melihat pertumbuhannya, H. Kukuh telah menggerakan manajemen di bawahnya untuk memastikan program apa saja yang akan dilaksanakan tahun 2020.

Sesuai rencana, Bank NTB Syariah mengharapkan akan mendukung pembiayaan rumah subsidi hingga sebanyak 3.000 unit. Berangkat dari capaian pembiayaan sektor properti tahun 2019 ini, Bank NTB Syariah telah membiayai sebanyak 1.065 rumah subsidi. Jumlah yang dibiayai ini termasuk capaian BPD tertinggi dalam sejarah BPD di Indonesia.

Sebetulnya, ada 2.000an pengajuan pembiayaan rumah subsidi yang diproses. 200 pengajuan diantaranya ditolak, 800an ditunda dan 1.065 unit telah dibiayai. “Tanggal 11 Desember ini kami akan PKO (perjanjian kerjasama) dengan PPDPP (Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan/ Kementerian PUPR) di Jakarta. Tapi bocoran kuota belum ada,” jelas H. Kukuh.

Dukungan dari Kementerian PUPR ini akan diteruskan proses pembiayaan 800-an pengajuan yang ditunda. Rencananya, dari Januari pembiayan perumahan subsidi ini sudah dapat dilakukan,” imbuhnya. Selain itu, Bank NTB Syariah diarahkan akan lebih fokus membiayai pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Sampai saat ini, BPD NTB ini belum mendapatkan lampu hijau menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Menurut H. Kukuh, skema pembiayaan untuk mengganti KUR adalah Tunas Sejahtera yang telah ekspansif disalurkan dimasing-masing kantor cabangnya. Lalu tanggal 13 Desember, ia juga akan melakukan kerjasama dengan BPKH (Badan Pengelola Keuangan Haji) yang telah menyetujui memberikan pinjaman hingga Rp1 triliun. Pinjaman ini yang akan dialokasikan untuk pembiayaan kepada ASN.

“Kenapa BPKH mau? Karena ASN kami saat ini NPFnya (kredit macetnya)  yang terendah, hanya 0,13 persen,” imbuhnya. Dibawah kendalinya selama satu tahun terakhir, Bank NTB Syariah telah menyalurkan pembiayaan hingga Rp5,6 triliun. Pembiayaan tertinggi sepanjang sejarah Bank NTB Syariah yang dulunya Bank NTB (konvensional). Belum tempo 1 tahun, ekapansi pembiayaannya mencapai Rp800 miliar.

Ada juga sejumlah kerjasama lainnya. Salah satunya, dengan PT. Pegadaian (Persero) yang ingin menjadikan saluran yang ada di Bank NTB Syariah sebagai tempat pendaftaran haji. “Pendaftaran haji nasabah pegadaian akan menggunakan chanel Bank NTB Syariah. Kedepannya bank daerah ndak mungkin berdiri sendiri. Dia harus gandeng pihak-pihak yang bisa memberikan peluang bisnis kepada Bank NTB syariah,” jelas H. Kukuh. Lalu ia juga taleh bekerjasama dengan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi NTB untuk mendukung pembiayaan kepada petani jagung dan petani bawang putih. (bul)