Kurang Inovasi Pengolahan Picu Rendahnya Konsumsi Ikan

Ilustrasi pengolahan ikan (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Persentase konsumsi ikan di NTB, khususnya Lombok, yang masih rendah memerlukan solusi-solusi inovatif. Pasalnya, salah satu penyebab utama rendahnya konsumsi ikan adalah minimnya varian atau jenis olahan ikan yang bisa dibuat oleh masyarakat.

Ketua Forum Peningkatan Konsumi Ikan (Forikan) NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah, SE, M.Sc menerangkan bahwa diversifikasi olahan ikan memang menjadi salah satu yang ditawarkan saat ini.

‘’Selama ini anak-anak kita khususnya bosan kalau biasanya digoreng lagi. Maka kita buat bentuk-bentuk lain yang mungkin disukai, seperti nugget dan lain-lain,’’ ujarnya, Jumat, 6 Desember 2019 di Mataram.

Baca juga:  Eksportir Perikanan Minta Penerbangan Internasional Ditambah

Diterangkan Niken yang juga Ketua TP-PKK NTB, Forikan dan TP-PKK saat ini tengah menerapkan beberapa program gerilya untuk mengkampanyekan konsumsi ikan. Khususnya bagi masyarakat di pedesaan terkait diversifikasi olahan ikan.

Ketika diversifikasi olahan ikan dapat terwujud,  menurut Niken banyak hal yang bisa dielaborasi setelahnya. Antara lain peningkatan ekonomi dengan menjadikan olahan ikan tersebut sebagai salah satu menu utama di kantin-kantin sekolah, baik di tingkat SD, SMP dan SMA sederajat.

‘’Itu bagian dari masukan nanti. Kita bisa usulkan bahwa sekolah-sekolah harus ada menu ikannya. Itu bagian dari kampanye kita,’’ ujarnya.

Baca juga:  Eksportir Perikanan Minta Penerbangan Internasional Ditambah

Hal tersebut diharapkan dapat mengatasi dua hal, yaitu asupan protein anak serta peningkatan konsumsi ikan itu sendiri. Diterangkan Niken, untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan aturan-aturan khusus yang dikeluarkan oleh stakeholder terkait.

‘’Kalau tidak ada arahan untuk itu, mau-maunya anak-anak saja (untuk menu makanan, Red),’’ ujarnya.

Diterangkan Niken, saat ini PKK di seluruh Indonesia telah memberikan atensi khusus untuk kasus stunting.  ‘’PKK dan Forikan menyusun program ke arah itu. Di NTB ini (selain stunting) kita ditambah (pengentasan) gizi buruk dan kampanye pemberian ASI eksklusif sampai bayi berusia dua tahun,’’ ujarnya. (bay)