NTB Stop Pengiriman Sapi Potong dan Bibit ke Luar Daerah

Hj. Budi Septiani melihat sapi simental persilangan. Kedepan tidak boleh lagi  memotong plasma nuftah, yang dipotong adalah hasil persilangan. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah daerah sepakat menghentikan pengiriman bibit sapi dan sapi potong mulai tahun 2020. Kesepakatan ini diambil setelah dilakukan rapat suplay demand (penawaran dan permintaan) ternak potong Provinsi NTB tahun 2020 yang dipimpin langsung Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB, Ir. Hj. Budi Septiani.

Rapat digelar pada Rabu, 4 Desember 2019, dihadiri kepala dinas atau bidang-bidang yang menangani fungsi fungsi peternakan di kabupaten/kota di NTB. Supply demand sapi potong tahun 2020 mengacu pada hasil perhitungan supply demand Kementerian Pertanian dan Badan Pusat Statistik (BPS) berdasarkan populasi tahun 2018.

Dari rapat tersebut ditemukan dipastikan alokasi pengeluaran ternak sapi potong  dalam dan luar daerah tahun 2020 sebagaimana data statistiknya. Populasi sapi di NTB sebanyak 1.242.749 ekor. tersebar 2.289 di Kota Mataram, 118.375 ekor di Lombok Barat, 182.120 ekor di  Lombok Tengah, 93.675 ekor di Lombok Utara. 140.782 ekor di Lombok Timur, 71.869 ekor di Sumbawa Barat, 260.041 di di Sumbawa, 142.947 ekor di Dompu, 206.134 ekor di Kabupaten Bima dan 24.513 ekor di Kota Bima.

Produksi daging mencapai 22.295 ton/tahun. Sementara konsumsi sebanyak 21.784 ton/tahun. Sementara sapi untuk potong yang direkomendasikan ke luar daerah ditetapkan 5.436 ekor. Itupun terbatas ketika kebutuhan nasional tinggi hanya saat Idul Adha (Hari Raya Qurban). Untuk sapi potong dalam daerah, ditetapkan kuotanya sebanyak 72.713 ekor. “Kalau bibit sapi sudah tidak boleh lagi kirim. Kalau ada yang minta, kita undang masuk ke NTB berinvestasi (pembesaran dan penggemukan),” jelas kepala dinas.

Melihat perhitungan masing-masing kabupaten/kota, ternyata di Pulau Lombok yang surplus produksi hanya Lombok Utara. Sedangkan empat kabupaten/kota lainnya rata-rata minus dari kebutuhan. Kekurangan itulah yang selama ini dipenuhi dari Pulau Sumbawa. Sehingga tidak sedikit ternak-ternak dari Pulau Sumbawa diseberangkan ke Pulau Lombok. “Perbandingan populasi Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa hanya selisihnya 100.000 ekor. Di Pulau Lombok sekitar 500 ribu sekian ekor, sedangkan Pulau Sumbawa 600-an ribu ekor. Tetapi yang mengkonsumsi daging, 70 persennya ada di Pulau Lombok,” kata Hj. Budi Septiani kepada Suara NTB, Kamis (5/12) kemarin.

Dari perhitungan yang telah dilakukan, untuk kebutuhan di Pulau Lombok yang disuplay dari Pulau Sumbawa menangalami peningkatan. Tahun 2018 sebanyak 64 ribuan ekor, 72.713 ekor. Sisa ternak 5.436 ekor adalah surplusnya, yang kemudian disepakati akan dikirim ke luar daerah berdasarkan kesepakatan yang telah ditandatangani oleh kelompok ternak di Bima dengan DKI Jakarta. “Itu saja yang dikirim. Selanjutnya, kita sedang mempersiapkan Hijauan Pakan Ternak (HPT) di semua kabupaten/kota untuk kemandirian pakan,” demikian kepala dinas. (bul)