Mahasiswa Turun ke Desa, Penurunan Angka Kemiskinan Diprediksi Lebih Cepat

M.Firmansyah (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pelibatan kampus dalam memberantas kemiskinan dinilai sebagai langkah terobosan bagus. Akademisi Universitas Mataram, Dr. Firmasyah, SE, M. Si meyakini akan terjadi percepatan penurunan angka kemiskinan dengan adanya gelombang besar mahasiswa ang diterjunkan ke desa-desa miskin di NTB.

‘’Potensi mahasiswa yang besar ini memang selama ini belum dimanfaatkan. Jalan masing-masing antara kampus dan pemerintah daerah. Artinya kalau potensi ribuan kelompok mahasiswa KKN dimanfaatkan, bisa langsung menyelesaikan persoalan desa, saya kira itu cukup efektif mengentaskan kemiskinan,’’ kata Firmansyah dikonfirmasi Suara NTB, Kamis, 5 Desember 2019 siang.

Menurutnya, pelibatan ribuan mahasiswa untuk menyelesaikan persoalan kemiskinan merupakan kekuatan yang sangat dahsyat. Namun, harus disiapkan konsepnya ketika mereka berada di lapangan. Bila perlu, kata Firmansyah, sebelum mahasiswa diterjunkan ke desa-desa yang miskin, harus diberikan pelatihan terlebih dahulu.

‘’Pemerintah kan punya target capaian. Target capaian itu disosialisasikan ke mahasiswa. Untuk mencapai target capaian itu, apa langkah yang dilakukan. Lebih bagus lagi kalau langkah itu disupport dengan program dan penganggaran. Maka akan menjadi lebih efektif,’’ ujarnya.

Dengan menggerakkan mahasiswa ikut memberantas kemiskinan, kata Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram ini, maka Pemda akan terbantu dari sisi SDM. Pasalnya, selama ini Pemda memiliki SDM yang sedikit. Ia menambahkan, mahasiswa merupakan SDM yang sudah siap diterjunkan untuk membantu Pemda menyelesaikan persoalan kemiskinan.

‘’Selama ini ndak terpikirkan. Syukur sekarang terpikirkan. Ada gelombang besar yang turun ke desa. Mereka 40 – 50 hari di desa, melayani masyarakat desa. Kalau di-matching-kan dengan program pemerintah saya pikir ini luar biasa,’’ tambahnya.

Baca juga:  Anggaran Rp220 Miliar, Penurunan Angka Kemiskinan Tak Capai Satu Persen

Ketika mereka turun ke masyarakat, mahasiswa akan mengidentifikasi persoalan-persoalan yang ada di desa. Selanjutnya mencarikan solusi untuk menangani persoalan tersebut.

‘’Persoalannya, bagaimana sekarang kita merancang model bersama antara kampus dengan pemerintah daerah. Model ini diikuti eksekusi, langkah apa yang dilakukan. Seperti roadmap pengentasan kemiskinan kerja sama kampus dengan Pemda,’’ katanya.

Firmansyah menambahkan, apabila ribuan mahasiswa yang ada di NTB digerakkan secara masif, maka tidak butuh waktu lama untuk menurunkan kemiskinan. Ia juga menyarankan agar Pemda melibatkan dosen pembina KKN mahasiswa.

‘’Sehingga bisa mengarahkan apa yang dilakukan. Saya meyakini, kalau ini digerakkkan secara masif, ndak akan butuh waktu lama menurunkan kemiskinan. Cuma, mahasiswa ini harus ada gambaran apa yang harus dikerjakan. Siapa masyarakat miskin yang diintervensi,’’ tandasnya.

Pemprov NTB melakukan langkah terobosan untuk mempercepat penurunan angka kemiskinan dengan menggandeng perguruan tinggi. Mulai tahun ini, Pemprov melalui Dinas Sosial (Disos) NTB menerjunkan 900 mahasiswa ikut memberantas kemiskinan dari desa.

Sebanyak 90 desa miskin yang ada di Pulau Lombok menjadi sasaran 600 mahasiswa yang melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik. Mahasiswa menggali potensi dan sumber daya di desa yang dapat dimanfaatkan untuk mengentaskan desa miskin di  90 desa miskin yang  ada di Pulau Lombok.

Kepala Dinas Sosial NTB, Dra. T. Wismaningsih Drajadiah menjelaskan, mahasiswa yang diterjunkan tersebut akan mengidentifikasi dan menggali potensi-potensi ang ada di desa yang miskin tersebut. Selanjutnya, mencarikan solusi yang dapat dikembangkan untuk penanganan kemiskinan di suatu desa. Sehingga mahasiswa bisa berkoordinasi dengan instansi terkait.

Baca juga:  Laju Penurunan Kemiskinan NTB Tercepat Kedua di Indonesia

Untuk program yang terkait dengan Disos, disinergikan dengan pola Kelompok Usaha Bersama (KUBe). Untuk desa yang sudah ada KUBe, kata Wismaningsih, mahasiswa diharapkan mendampingi KUBe tersebut agar benar-benar bisa berkembang untuk menjadi wirausaha.

‘’Kalau desa yang belum ada KUBe,  mahasiswa melakukan assesment untuk mendampingi masyarakat membentuk KUBe sesuai dengan kebutuhan dan potensi masyarakat,’’ terangnya.

Selanjutnya KUBe  yang sudah terbentuk akan difasilitasi Dinas Sosial untuk mengembangkan usahanya. Setelah berjalan akan dikoordinasikan dengan Dinas Koperasi untuk membina manajemen wirausaha dan Dinas Perindustrian agar bisa menjadi Industri Kecil Menengah (IKM).

Persentase angka kemiskinan di NTB periode September 2018 ke Maret 2019 turun sebesar 0,07 persen. Pada September 2018, angka kemiskinan di NTB sebesar 14,63 persen, turun menjadi 14,56 persen pada Maret 2019. Pemprov NTB menargetkan angka kemiskinan pada 2023 atau tahun akhir RPJMD 2019-2023 sebesar 9,75 persen.

Pada tahun awal RPJMD, atau 2018, angka kemiskinan NTB sebesar 14,63 persen. Tahun 2019 ini ditargetkan turun menjadi 13,75 persen. Tahun 2020, kemiskinan ditargetkan terus mengalami penurunan menjadi 12,75 persen. Kemudian pada 2021 dan 2022, kemiskinan ditargetkan turun menjadi 11,75 persen dan 10,75 persen. (nas)