Tata PKL Sebelum MotoGP

Muhammad Sahidin (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Gelaran MotoGP di KEK Mandalika pada 2021 mendatang adalah event bergengsi dunia. Manfaat ekonomi dari event internasional ini jangan sampai hanya dinikmati pengusaha menengah atas. Misalnya hotel, restoran atau pengusaha transportasi.

Jangan fokus pada persiapan, hotel, restoran dan transportasi saja saat puluhan ribu, bahkan lebih dari 100 ribu tamu yang datang dari berbagai belahan dunia untuk menyaksikan MotoGP di Lombok yang disebut-sebut lintasannya paling unik dan indah di dunia.

Usaha – usaha kecil, para pedagang lapak juga harus dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Agar masyarakat lokal tak hanya menikmati remah-remahnya hingar bingar MotoGP.

“Belum terlambat,” kata praktisi, sekaligus Ketua Asosiasi Pedagang Kaki Lima (Apkli) Kota Mataram, Muhammad Sahidin. PKL tidak identik dengan pangsa pasar level bawah. Justru turis, atau wisatawan juga tak takut berbelanja di emperan. Lihat saja di Kota Mataram, PKL-PKL yang ada Cakranegara kerap kali disambangi turis.

Baca juga:  Pembayaran Lahan Proyek ‘’By Pass’’ LIA-KEK Dititip di Pengadilan

Sementara itu, berdasarkan pantauan Suara NTB, sampai sejauh ini pembangunan KEK Mandalika, nyaris dilupakan penataan PKL di luar KEK Mandalika. Indonesian Tourism Development Corporation (ITDC) sebagai pengelola KEK hanya menyediakan lapak bagi pedagang-pedagang suvenir di dalam kawasan.

Harusnya, pemerintah daerah di Kabupaten Lombok Tengah juga turut melakukan penataan PKL di luar kawasan.

Konsep penaataan PKL yang ideal, kata Sahidin memberikan pandangan, para PKL jangan digusur. Ataupun jika tempat berjualannya dititik-titik yang tidak seharunys, ada baiknya PKL dipindah ke tempat yang tak kalah representatif. Kita bisa melihat bagaimana lapak-lapak PKL di Kuta, Lombok Tengah.

Pada lokasi-lokasi yang berseberangan dengan KEK Mandalikapun, PKL nampaknya apatis dengan hebohnya KEK Mandalika sebagai tuan rumah MotoGP pada 2021 mendatang.

Baca juga:  Saat MotoGP, PKL Lingkar KEK Mandalika Ingin Jual Gorengan

Tidak ada yang dipersiapkan. Para PKL juga tetap berjualan seperti biasanya. Tidak ada perubahan. Beberapa PKL yang pernah dijumpai media ini di jalan raya Kute juga mengaku belum mempersiapkan apa-apa. Tidak dimengerti juga apa saja yang mereka harus siapkan. Pemahaman mereka ke sana sangat terbatas. Padahal, pelaksanaan MotoGP adalah momentum untuk meraup pendapatan sebanyak-banyaknya agar mereka mendapatkan manfaat besar.

Menurut Sahidin, konsep penataan PKL dimana saja idealnya sama. Harus ditata tempat berjualannya yang lebih refresentatif. “Misalnya, khusus untuk PKL kuliner. Harus ada los khusus. Bila perlu warnanya juga beda. Demikian juga PKL souvenir, harus disiapkan lapak yang lebih menarik. Bila perlu, pedagangnya haruskan menggunakan atribut adat saat berjualan,” imbuhnya. (bul)