KTNA NTB Soroti Persoalan Tembakau

H. Haerul Warisin (Suara NTB/ist)

Selong (Suara NTB) – Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) NTB H. Haerul Warisin menyoroti persoalan yang melilit petani tembakau virginia musim tanam 2019. Menurutnya, tidak ada alasan bagi perusahaan membeli tembakau petani dengan harga di bawah standar.

Hal ini diungkapkan H. Haerul Warisin usai pengukuhannya sebagai Ketua KTNA NTB periode 2019-2024, di Narmada, Senin, 25 November 2019. Dinilai selama ini proses pembelian tembakau musim 2019 ini telah merugikan petani. Banyak petani berteriak karena merasa pembelian tidak sesuai.

Pihak perusahaan semestinya tidak boleh mempermainkan harga tembakau. Menurut mantan Wakil Bupati Lotim yang kini menjabat sebagai salah satu wakil rakyat di NTB, tidak ada alasan sebenarnya perusahaan membeli tembakau terbaik di dunia itu dengan harga rendah.

“Jika alasannya karena cukai tembakau, maka harusnya naikkan juga harga rokok, bukan kemudian membeli harga tembakaunya yang diturunkan,” ungkapnyta. Secara logis, ketika cukai rokok naik maka harga pembelian tembakau pun mestinya bisa naik.

Pihak perusahaan pembeli tembakau untuk para pabrik rokok ini juga tidak bisa beralasan karena dengan akan menghadirkan impor bahan baku yang dinilai lebih murah dari luar negeri. Pihak perusahaan rokok ini harus memahami, tembakau virginia Lombok adalah emas hijau dan terbaik dunia.

Baca juga:  Pupuk Subsidi Minim, Padi Diserang Hama Putih Palsu

Ke depan, petani harus memiliki perencanaan matang,. Perusahaan tembakau juga harus mau peduli dengan di luar bianaan. Disebut, baru sekarang ada teriakan itu binaan dan ada di luar binaan. Padahal, masalah ini sudah lama dan tidaklah terlalu dipersoalkan.

H. Haerul Warisin pun mempertanyakan mengapa baru sekarang baru dipersoalkan keberadaan petani swadaya dan mitra. “Kan sudah dari dulu ada yang di luar binaan dan binaan, tapi tetap juga kan tembakau terbeli dan tidak pernah dipersoalkan, jadi apa bedanya dulu dengan sekarang,” ungkapnya.

Selain tembakau, Ketua KTNA telah ini juga menyoroti persoalan jagung. Disampaikan, petani NTB untuk musim tanam tahun 2019-2020, tidak dapat alokasi bantuan benih jagung. Padahal produksi jagung 5 tahun terakhir meningkat sangat signifikan.

Tahun 2014 produksi jagung hanya 785.864 ton. Tahun 2015 meningkat menjadi 959.972 tin. Lonjakan lebih tajam lagi tahun 2016 menjadi 1.278.271 ton. Tahun 2017 lompatan produksi jagung hampir dua kali lipat, yakni 2.127.324 ton. Tahun 2018 2.061.856 ton. Melihat kondisi ini maka petani NTB harusnya petani jagung diperhatikan.

Baca juga:  Petani Mete dalam Masa Sulit

Lainnya, problem di sektor perikanan dan kelautan. Disampaikan, aturan melarang menjual lobster dibawah 2 ons membuat aktivitas budidaya di NTB ini melemah. Hal ini tidak sepatuhnya terjadi. Pasca keluarnya aturan Menteri Susi, budidaya lobster di NTB ini merosot. Harapannya, ada solusi bisa menjual lobster di bawah ukuran 2 ons.

“Mungkin bisa menjual 1,2 ons,” pintanya. Alasannya, untuk bisa memperoleh lobster ukuran 2 ons ini sangat susah dan butuh biaya besar serta waktu yang sangat lama. Sementara para pembudidaya ini butuh perputaran ekonomi yang cepat. Dengan demikian, bisa lebih mudah mengembangkan perekomian masyarakat nelayan.

Terakhir yang dinilai masih timpang oleh Ketua KTNA NTB ini adalah, budidaya garam. Mulai dari ujung Bima sampai di Lotim, aktivitas petambak garam saat ini sedang menjerit. Hal ini dikarenakan persoalan harganya yang tidak berpihak kepada para petambak garam. Hal ini juga coba akan dicarikan solusi terbaiknya agar petambak garam ini bisa tersenyum dalam setiap musim panennya. (rus)