8.000 Ton Lebih Tembakau Belum Terserap

Petani tembakau di NTB (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB mendorong penyerapan hasil tembakau di NTB dapat selesai pada 25 November mendatang. Dengan begitu, sisa 5.500 ton hasil produksi yang masih berada di mitra dan 3.100 di petani swadaya (seluruhnya 8.600 ton) dapat terakomodir.

“Normalnya itu sampai 25 November sudah diserap. Kalau menurut hemat saya pasti (terserap), cuma (butuh) waktu,” ujar Kepala Distanbun NTB, Ir. Husnul Fauzi, M.Si. dikonfirmasi, Sabtu, 17 November 2019 di Mataram. Jika masih ada hasil produksi yang belum terserap sampai batas waktu tersebut, Distanbun NTB akan memaksa penyerapan oleh perusahaan-perusahaan sesuai dengan kapasitas yang bisa dilakukan.

“Kita akan bagi-bagi (sisa yang belum terserap) nanti setelah 25 November itu. Kita paksa seluruhnya, sesuai dengan kapasitas mereka,” tegas Husni. Diterangkannya, data terakhir Distanbun NTB jumlah hasil tembakau yang belum terserap memang mengalami penambahan sebanyak 300 ton dari hasil validasi di lapangan. “Waktu itu saya sampaikan yang tidak terdata 700 ton. Ternyata setelah validasi lagi (jumlahnya) 300 ton,” sambungnya.

Selain itu, penyerapan yang dilakukan oleh 20 perusahaan untuk hasil tembakau di NTB disebut telah mencapai 93%. Perusahaan-perusahaan itu sendiri diharapkan mampu mengakomodir hasil produksi dari lahan garapan untuk tembakau yang ada di NTB.

Diterangkan Husnul salah satu masalah saat ini adalah dari luas lahan garapan yang mencapai 29 ribu hektare, hanya sembilan perusahaan yang menjalin kemitraan. Sementara 11 perusahaan lainnya menyerap dengan sistem swadaya.

Ada beberapa hal yang dinilai menjadi pemicu kondisi tersebut, yaitu kenaikan beacukai yang mencapai 23 persen dan harga rokok yang naik hingga 34 persen. “Berdampaknya itu bahkan kalau kita analisa akan kekurangan konsumen 15 persen. Pokoknya (sekarang) bagaimana 26 ribu hektare bisa terserap keseluruhan (hasil produksinya),’’ujar Husnul.

Selain itu, terkait dengan kualitas hasil produksi, Husnul menerangkan sebagian besar akan tetap didorong untuk terserap walaupun menunjukkan kualitas di bawah standar. Dicontohkan seperti hasil produksi tembakau yang berwarna coklah kehitam-hitaman akan tetap diambil oleh perusahaan. “Tidak ada tembakau yang tidak di ambil perusahaan. Yang penting adalah ritmenya mengikuti mekanisme perusahaan,” pungkasnya. (bay)