Memadukan Sinergi ‘’Jalur Sutra Maritim Abad 21’’ dan Konsep ‘’Poros Maritim Dunia’’

Konjen RRT di Denpasar, Gou Haodong foto bersama dengan Istri Gubernur NTT, Julie Laiskodat serta utusan dari Bali, NTB dan NTT. (Bali Post/Bernadus Tokan/ant)

HUBUNGAN bilateral Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dengan Pemerintah Indonesia dari tahun ke tahun terus berkembang. Hubungan petinggi dan masyarakat ke dua negara terus semakin membaik. Kerjasama yang saling menguntungkan terus mendalam. Kedua negara juga terus menperdalam sinergi inisiatif  ‘’Jalur Sutra Maritim Abad 21’’ yang digagas Tiongkok dengan konsep ‘’Poros Maritim Dunia’’ nya Indonesia.

Hal itu diungkapkan Konjen RRT di Denpasar, Gou Haodong saat membuka Forum Investasi Tiga Provinsi Wilayah Konjen RRT (Sunda Kecil) ke-4 di Kupang, NTT, Sabtu, 16 November 2019.

Hadir pada forum investasi itu,  Ny.Julie Laiskodat, mewakili Gubernur NTT. Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), NTB, Drs.H.L.Gita Ariadi M.Si, mewakili Gubernur NTB.  I Ketut Sudibya, SH.MAP, Kabid Promosi Penanaman Modal  DPMPTSP Bali, mewakili Gubernur Bali serta 19 investor Tiongkok. Para investor yang berkantor di Indonesia itu, hadir menawarkan beragam jenis investasi untuk tiga provinsi di wilayah Sunda Kecil ini.

Inisiatif  ‘’Jalur Sutra Maritim Abad 21’’ dan ‘’Poros Maritim Dunia’’ kata Konjen RRT, adalah sarana yang bisa meningkatkan investasi bilateral,  memperluas kerjasama yang komprehensif di bidang infrastruktur, perdagangan, bisnis E–commerce, keuangan, energi dan sebagainya.

Tahun ini dalam enam bulan saja katanya, Tiongkok-Indonesia telah menghasilkan investasi yang signifikan. Tercatat dalam medio Januari-Juni 2019, nilai investasi RRT di Indonesia mencapai 2,3 miliar dolar Amerika atau sekitar 16,2 persen dari nilai investasi asing di Indonesia.

Gou Haodong meyakini, nilai investasi Tiongkok di Indonesia termasuk di wilayah Bali, NTB dan NTT akan terus meningkat. Saat ini posisi nilai investasi Tiongkok di Indonesia, menempati urutan ketiga dari seluruh investasi asing.

‘’Tahun ini Presiden Jokowi terpilih kembali.Boleh dikatakan, hubungan Tiongkok-Indonesia, berada di titik sejarah yang terbaik untuk kedua negara dalam meningkatkan kerjasama dan investasi,’’ ujarnya.

Berdasarkan data, perusahaan Tiongkok telah berinvestasi untuk 10 proyek yang ada di Bali dengan nilai investasi sebesar 11 juta dolarAmerika. Kemudian di NTB, ada 11 proyek dengan nilai investasi sebesar 1 juta dolar Amerika. Di NTT baru ada satu perusahaani di bidang industri budidaya mutiara.‘’Boleh  dilihat dari angka-angka tersebut, bahwa potensi kerjasama antara Tiongkok dengan tiga provinsi (di wilayah Konjen RRT), sangat besar,’’ katanya.

NTB Tawarkan Investasi Infrastruktur dan Industrialisasi

Kepala DPMPTSP NTB, Drs.H.L.Gita Ariadi M.Si, mengawali presentasinya dengan berharap forum investasi tiga provinsi yang digagas Konjen RRT ini, semakin mempererat sinergi investasi tiga daerah di wilayah Sunda Kecil ini. ‘’Kita bersanding, bersinergi dan bukan bersaing. Dengan Bali di bidang pariwisata misalnya. Kunjungan wisatawan China ke Bali cukup tinggi. Melalui sinergi ini, bagaimana caranya agar kunjungan wisatawan ini tidak sampai di Bali. Tetapi kunjungannya berlanjut ke NTB dan NTT,’’ harapnya.

Selanjutnya, pada forum tersebut, Gita memaparkan potensi investasi yang bisa dikerjasamakan Pemerintah Tiongkok di NTB. Potensi investasi di NTB katanya ada di berbagai sektor. Mulai dari infrastruktur, industrialisasi, program zero waste  dan sektor lainnya.

‘’NTB memiliki potensi-potensi unggulan yang berpeluang dikerjasamakan dengan Pemerintah Tiongkok. Kami memiliki KEK Mandalika, Global Hub dan Geopark Rinjani. Juga program industrialisasi yang sedang kami gencarkan,’’ jelasnya.

KEK Mandalika kata Gita,  adalah salah satu dari 10 destinasi wisata prioritas nasional.  Lokasinya sangat strategis dengan luas kawasan 1,175 hektare. ‘’Di kawasan itu, kini sedang dibangun infrastruktur dasar dalam kawasan. Fasilitas public, pembangunan sejumlah hotel. Vinci Prancis sedang membangun sirkuit MotoGP,’’ paparnya.

Ada juga Global Gub. Sebelum gempa mengguncang Lombok Agustus 2018 yang lalu. Sudah ada investor yang menjajaki investasi di sana. ‘’Namun karena gempa setahun yang lalu, investor ini mundur secara teratur. Potensi Global Hub Bandar Kayangan yang berlokasi di Kabupaten Lombok Utara ini sungguh luar biasa,’’ ujar Gita.  Global Hub Bandar Kayangan, terletak di jalur ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) II. ‘’Global Hub didedikasikan bagi dunia. Sehingga kapal-kapal dari Eropa, Afrika, Asia Tengah, Australia, Asia Tenggara  bahkan negara-negara Pasifik dapat melalui jalur laut dalam itu dengan aman.’’

NTB khususnya di Pulau Sumbawa juga memiliki industri tambang besar. Rencananya akan dibangun smelter dengan industri turunannya. Di Pulau Sumbawa juga ada kawasan Samota (Teluk Saleh, Moyo, Tambora. Juga ada potensi di kawasan Sakosa (Sangiang, Komodo, Sape). ‘’ Kawasan-kawasan tersebut potensinya luar biasa besar,’’ paparnya.

Bali Tawarkan Wilayah Barat, Utara danTimur

Provinsi Bali pada forum investasi itu menawarkan pengembangan wilayah Bali Barat, Utara danTimur.

‘’ Kalau Bali Selatan sudah padat. Sehingga kami menwarkan pengembangan investasi di wilayah Bali Barat, Utara danTimur,’’ ujar Kabid Promosi Penanaman Modal DPMPTSP Provinsi Bali, I Ketut Sudibya, SH.MAP.

Bali berkonsentrasi pada pengembangan pariwisata.Kunjunganwisatawanke Bali berdasarkan data 2018, sekitar 16 juta orang. Terdiri dari 6 juta wisatawan mancanegara dan 10 juta wisatawan domestik.Menurut Ketut Sudibya, potensi sektor pariwisata yang dikembangkan cukup beragam.

Sementara Gubernur  NTT yang diwakili Julie Laiskodat mengharapkan, forum investasi yang digelar Konsulat RRT di Denpasar ini dapat melahirkan investor baru . ‘’Kita harapkan, dengan forum investasi ini, investor dari Tiongkok tidak pulang dengan tangan hampa, tetapi ada kesepakatan kerja sama investasi di daerah ini,’’ harapnya. (rak)