Dua Investor Seriusi Rencana Pembangunan Kereta Gantung

Ilustrasi Kereta Gantung yang akan dibangun di Rinjani dan KEK Mandalika (suarantb.com/ist)

Mataram (Suara NTB) – Penjajakan yang dilakukan investor untuk pembangunan kereta gantung di NTB terus berlanjut. Dua daerah yang saat ini tengah diseriusi adalah kawasan pesisir yang masuk ke dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika dan satu lagi kawasan kaki Rinjani.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB , Drs. H. L. Gita Ariadi, M.Si, menerangkan saat ini telah ada dua investor untuk kereta gantung yang getol berkomunikasi dengan pihaknya. ’’Kamis kemarin dia datang lagi mau komunikasi. Salah satu di antara dua itu ada yang tertarik di pesisir, satunya lagi tertarik di kaki Gunung Rinjani,” ujarnya dikonfirmasi, Minggu, 17 November 2019 di Mataram.

Diterangkan Gita, ke dua investor tersebut berasal dari dalam negeri dan masih tergolong dalam aktivitas penanaman modal dalam negeri (PMDN). Pertemuan terakhir yang dilakukan pihak DPMPTSP NTB dengan kedua investor itu sendiri menindaklanjuti beberapa catatat sebelumnya terkait aktivitas investasi seperti perizinan dan lain-lain.

Sebelumnya diterangkan setidaknya ada lima investor yang tertarik untuk investasi serupa. Walaupun begitu, melalui proses elaborasi untuk konsep, sasaran, dan prospek yang dilakukan tersisa dua investor yang menunjukkan keseriusan memproses persyaratan yang dibutuhkan.

Persyaratan itu, melingkupi lima uji kelayakan. Diantaranya kelayakan administrasi, sosial, ekonomi, teknis, dan lingkungan. “Cable car (kereta gantung, Red) ini tidak bisa main-main, menyangkut nyawa orang nanti. Bagaimana jaminan itu, sertifikasi dari mana. ini harus kita kaji,’’ ujar Gita.

Pihaknya mengharapkan agar  investasi tersebut dapat segera terwujud. “Kalau kita inginnya lebih cepat lebih baik,” ujarnya. Realisasi kereta gantung ditargetkan beroperasi pada 2020 mendatang. Namun mempertimbangkan beberapa hal teknis yang disebut membutuhkan pendalaman lebih lanjut, tidak menutup kemungkinan target tersebut membutuhkan waktu lebih lama.

Selain itu, menanggapi beberapa isu penolakan yang mungkin menghambat proses investasi kereta gantung, Gita menerangkan pihaknya tidak mungkin menyetujui investasi dalam bentuk apapun yang akan merugikan daerah dan masyarakat.  ‘’Kita tentu mendalami konsep. Masyarakat tidak bisa belum apa-apa menolak. Belum tahu apa yang dibuat kok menolak. Kita bergerak tidak merugikan sesuatu yang eksis,” ujarnya.

Diterangkan Gita investasi kereta gantung pasti melewati tahapan sosialisasi dan pengujian dampak sosial di masyarakat. Untuk saat ini, seluruh proses tersebut masih berada pada tingkatan pembahasan desain investasi. ‘’Apa mau perusahaan, apa mau daerah. Kalau dia sejalan, ok. Kalau belum, kita perbaiki,’’ pungkasnya. (bay)