Saat MotoGP, PKL Lingkar KEK Mandalika Ingin Jual Gorengan

Mak Hakim menunggu rombong es dan nasi campurnya. Menunggu pembeli melintas di jalan raya Kuta. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Euforia pelaksanaan MotoGP pada 2021 mendatang di KEK Mandalika menggema di mana-mana. Lombok bahkan menjadi buah bibir sebagai tuan rumah penyelenggaraan balap motor bergengsi dunia ini.

Sebagai pemegang hak kelola KEK Mandalika, Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) sedang mengebut pembangunan infrastruktur sirkuit balap MotoGP ini. Pemerintah daerah dan stakeholdernya juga tak tinggal diam mempersiapkan diri.

Namun nampak terabaikan, para PKL di lingkar KEK Mandalika hanya punya mimpi sederhana menyambut datangnya puluhan ribu proyeksi kunjungan dari luar NTB saat perhelatan MotoGP.

“Pas ada balap mau jual gorengan,” kata Mak Hakim, seorang PKL di pinggir ruas jalan utama jalan Raya Kuta, Lombok Tengah.

Ia belum memiliki persiapan apapun. Padahal, pada penyelenggaraan MotoGP nanti, proyeksi 150 ribu kunjungan dari domestik dan mancanegara akan datang.

Di Sepang, Malaysia saat pelaksanaan balap MotoGP, setidaknya ada 250 ribu wisatawan datang menonton, sekaligus melancong. Bukan tidak mungkin jumlah kunjungan ke Lombok juga akan membeludak. Mengingat, sirkuit MotoGP di Lombok ini disebut-sebut akan menjadi sirkuit jalan raya terindah di dunia.

Baca juga:  Tata PKL Sebelum MotoGP

Mak Hakim sudah tiga tahun mencoba peruntungan berjualan di pinggir jalan raya Kuta.  Rumahnya di Desa Ngolang, Kecamatan Pujut. Hanya satu kilometer dari KEK Mandalika.

Jualannya hanya es campur, es kelapa muda dan nasi campur. Tidak ada perubahan apapun persiapannya menyambut mega destinasi, KEK Mandalika ini. Jualannya begitu-begitu saja.

Modalnya hanya rombong dorong yang kaki-kakinya telah lapuk yang dijejeri toples untuk menyimpan air gula, kolang kaling dan buah-buah yang dipotong kecil-kecil sebagai campurannya. Tempat nasinya juga seadanya. Hanya termos. Ikan serta lauk, hanya di tempatkan di atas piring-piring yang juga dijejer di atas rombong tua.

Mak Hakim mencoba peruntungan sebagai PKL. Menumpang di atas tanah yang tidak ia ketahui siapa tuannya.

“Entah siapa yang punya tanah ini. Pokoknya numpang jualan,” katanya.

Di belakang rombongnya, ada gazebo. Disinilah para pembeli duduk menikmati es, kelapa, atau nasi campur yang dipesannya. Segelas es ia jual Rp5.000. Sementara nasi campur dijualnya seharga Rp10.000.

Baca juga:  Anggota DPR RI Cek Infrastruktur KEK Mandalika

Mak Hakim menyebut, dalam sehari ia bisa berjualan paling ramai sampai Rp300.000. Dalam kondisi sepi, ia bisa berjualan Rp150.000.

Pembelinya adalah wisatawan-wisatawan local atau bule-bule bagpacker yang kebetulan melintas di jalan ini. Mak Hakim mengetahui, tahun 2021 mendatang tak jauh dari tempatnya jualan, akan dilangsungkan balap motor kelas dunia.

Nampaknya ia tak mau terlalu jauh tau soal hal itu. Sebab belum ada pihak manapun yang datang mengingatkannya, mempesiapkannya menyambut para pendatang dari berbagai negara.

Tentu, jualan Mak Hakim bukan standar bagi para wisatawan berbelanja. Namun tidak banyak yang ia bisa perbuat. Modal untuk penataan lapak, belajar menjadi PKL berstandar internasional tak sampai dipikirannya.

Yang ia mampu, hanya berjualan seadanya. Menunggu pembeli yang siap menerima keadaannya. Padahal, tidak demikian. Mereka juga harus dipersiapkan jauh-jauh hari. “Tidak ada persiapan-persiapan,” demikian Mak Hakim. (bul)