Kembangkan Industri Peternakan, Kesinambungan Bahan Baku Jadi PR NTB

Nuryanti (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB akan mengembangkan industri peternakan di daerah ini. Namun, kesinambungan produksi bahan baku masih menjadi pekerjaan rumah (PR). Kuantitas, kualitas dan kontinuitas bahan baku menjadI syarat penting yang harus ditata untuk pengembangan industri peternakan di NTB.

Pemprov NTB sudah berkomunikasi dengan investor atau pengusaha yang akan mendatangkan 1.000 ekor sapi Australia untuk penggemukan di NTB. Sudah disiapkan juga Rumah Potong Hewan (RPH) bertaraf internasional di Banyumulek Lombok Barat untuk produksi daging beku.

“Sekarang ketika kita mau skala produksi, intinya produk yang masuk skala industri harus punya tiga syarat. Bagaimana kuantitas terjaga, tidak on off, kadang ada, kadang tidak. Kemudian kontinuitasnya. Dan terakhir kualitasnya,” kata Plt Kepala Dinas Perindustrian (Disperin) NTB, Nuryanti, SE, ME., dikonfirmasi di Kantor Gubernur, Jumat, 15 November 2019.

Ia mengatakan harus dipastikan kuantitas, kualitas dan kesinambungan bahan baku untuk mendukung industri peternakan di NTB. Ia menyebut, perkembangan industri pariwisata NTB menjadi pasar untuk produk daging sapi yang diolah di daerah ini.

Baca juga:  2020, Pemprov Wajibkan OPD Gunakan Mesin Produk IKM Lokal

“Jadi, industri pariwisata yang sudah digenjot selama ini, sekarang harus diimbangi dengan industrialisasi baru, untuk memenuhi kebutuhan daging lokal. Misalnya daging sapi,” katanya.

Ia mengatakan agar kuantitas dan kualitas sapi NTB terpenuhi untuk mendukung pengembangan industri peternakan. Maka sekarang dikembangkan tanaman lamtoro yang akan menjadi sumber pakan sapi dan kambing.

Di samping dapat menghijaukan hutan dan lahan kritis, tanaman lamtoro juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan ternak. Karena daun lamtoro memiliki kandungan protein sekitar 22 persen, dibandingkan tanaman jagung yang hanya memiliki serat.

Dengan pengembangan sektor hulunya, kata Nuryanti maka target NTB swasembada daging berskala industri  akan dapat terwujud. Ketersediaan pakan ternak akan berdampak terhadap kuantitas dan kualitas sapi.

Selama ini, kata mantan Kepala Bidang Perencanaan  Pembangunan Ekonomi Bappeda NTB ini, RPH Banyumulek tak beroperasi, karena bahan bakunya yang kurang. Atau sapi yang disembelih di RPH tersebut tidak dapat dipenuhi sesuai kapasitas RPH.

Baca juga:  Pengembangan Industri di NTB Jadi Perhatian Pusat

Sementara, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB, Ir. Madani Mukarom, B. Sc. F, M. Si mengatakan tanaman lamtoro untuk sumber pakan ternak akan dikembangkan pada lahan seluas 600 hektare oleh PT. Sadhana Arif Nusa. Lokasinya, 400 hektare di Kecamatan Sambelia Lombok Timur dan 200 hektare di Lombok Tengah di lahan Hutan Tanaman Industri (HTI) milik PT. Sadhana Arif Nusa.

“Ini untuk pakan ternak kambing dan sapi dalam rangka 1.000 sapi yang akan didatangkan dari Australia. Sudah dipersiapkan perusahaan pakannya. Daunnya untuk makanan ternak, rantingnya untuk bahan bakar oven tembakau,” jelas Madani.

Dijelaskan, pengembangan tanaman lamtoro untuk sumber pakan ternak ini akan bermitra dengan masyarakat. Untuk di Lombok Timur pada lahan seluas 400 hektare, ada 800 petani yang akan dilibatkan. Sedangkan di Lombok Tengah pada lahan seluas 200 hektare, ada 400 petani yang akan dilibatkan. (nas)