Masyarakat Harus Cerdas dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Provinsi NTB, Dra. Hj. Putu Selly Andayani, M.Si., saat menyampaikan materi pada Workshop Inovasi Bisnis pada Revolusi Industri 4.0 untuk dosen, pebisnis, dan milenial yang dilaksanakan oleh Universitas Islam Al-Azhar (Unizar) bertempat di Aula Abdurrahim Unizar, pada Rabu, 13 November 2019. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Workshop Inovasi Bisnis pada Revolusi Industri 4.0 untuk dosen, pebisnis, dan milenial dilaksanakan oleh Universitas Islam Al-Azhar (Unizar) bertempat di Aula Abdurrahim Unizar, pada Rabu, 13 November 2019 dan Kamis, 14 November 2019.

Sejumlah tokoh menjadi pembicara dalam workshop tersebut. Salah satunya Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Provinsi NTB, Dra. Hj. Putu Selly Andayani, M.Si. yang memaparkan tentang program Disdag NTB dan pentingnya masyarakat cerdas dalam menghadapi revolusi industri 4.0.

Selly dalam kesempatan menjadi pembicara, Rabu, 13 November 2019 menjelaskan sejumlah tugas pokok Disdag. Menurutnya ada empat bidang di Disdag Provinsi NTB. Pada bidang perlindungan konsumen , dihajatkan agar masyarakat menjadi konsumen yang cerdas dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Pada perlindungan konsumen, pihaknya sudah membentuk Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK).  ‘’Anak milenial dan civitas akademika tidak boleh gaptek (gagap teknologi), efisiensi dan efektivitas yang harus ditingkatkan,’’ katanya.

Di bidang pengawasan dan tertib niaga, Selly menyampaikan Disdag sering melakukan sidak, terutam ke toko modern. Pihaknya bersinergi dengan Polda NTB untuk turun ke toko-toko dan bersyukur saat ini toko-toko modern sudah tertib. Pengawasan dan tertib niaga juga berkaitan dengan peredaran Bahan Berbahaya (B2) seperti merkuri dan sianida, karena Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) merusak lingkungan.

“Kami beberapa kali rapat dengan Kapolda berkaitan dengan pemberantasan PETI. Oleh karena itu kami kemarin memberikan izin, sianida harus digunakan bagi yang mempunyai izin tambang, tapi bukan PETI.  Kami mengembalikan sianida ke Jawa Timur dikawal oleh Polda NTB,” katanya.

Sementara itu, berkaitan dengan bidang perdaganan dalam negeri, Selly menjelaskan, kaitannya dengan Sembako menjelang persiapan Maulid Nabi Muhammad SAW,  pihaknya sudah turun bersama instansi terkait mengecek ke lapangan untuk melihat ketersediaan sembako. ‘’Oleh karena itu, kami turun dan ternyata stok aman.  Jadi kami memang tidak ada anggaran di Dinas Perdagangan terkait pasar murah, hanya sinergitas  distributor dan Polda NTB untuk membuktikan ke masyarakat bahwa stok itu aman,’’ katanya.

Selly juga menyampaikan,  upaya Disdag untuk menekan harga daging sapi yang naik dengan mendatangkan daging beku. Dengan begitu stabilitas harga terjamin kalau ada daging beku di Kota Mataram. ‘’Kami kalau mengadakan pasar murah sering menjelaskan cara memasak daging beku, itu adalah sebuah edukasi. Daging beku 1 Kg seharga Rp80 ribu bisa dipotong ½ Kg. Masyarakat kecil dengan Rp40 ribu bisa makan daging. Itulah cara kami di Disdag mencerdaskan kehidupan masyarakat agar mereka bisa mengkonsumsi daging dan tidak mengalami stunting,’’ katanya.

Baca juga:  Gandeng Telkomsel, Amman Mineral Persiapkan 500-an Pelajar KSB Era Industri 4.0

Disdag kata Selly, saat ini sedang menggalakkan program Santri Mart, di mana di Pondok Pesantren (Ponpes) akan ada Santri Mart. Pihaknya mengaitkannya dengan revolusi industri 4.0. Di Santri Mart itu tidak ada pembayaran secara tunai atau cash, tapi menggunakan pembayaran non tunai berupa dompet digital dan aplikasi lainnya.

Pihaknya memulai dari Ponpes Darul Hikmah. Saat ini, kata Selly sedang merancangn bank yang berhubungan adalah Bank BNI 46. Nantinya semua distributor langsung mendrop barang ke Ponpes. Pembayaran nantinya melalui bank. “Itu yang kami sedang garap. Mudah-mudahan akhir November bisa di-launching,’’ katanya.

Selly juga berkeinginan agar Ponpes siap menghadapi revolusi industri 4.0, agar bisa mempunyai ekonomi mandiri. Pihaknya menawarkan tanaman hidroponik yang tidak memerlukan tanah yang luas.  Ia sebagai Ketua Keluarga Alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (Kafegama) bersama tim memberikan edukasi kepada mahasiswa Unram, UIN, dan UNU di Ponpes Darul Hikmah di Bengkel.

“Di sana mereka dilatih bagaimana membuat tanaman hidroponik, bagaimana dipasarkan di pasar modern. Saat ini pasar modern membutuhkan 20 Kg per hari selada, itu toko modern, belum UKM. Darul Hikmah saat ini hanya mampu 5 Kg per hari, apalagi nanti KEK Mandalika beroperasi,’’ katanya.

Selly mencontohkan, jika di Kota Mataram tidak mempunyai lahan yang luas, ia mengajak Ponpes menanam hidroponik. Pihaknya juga sudah punya tim dari Kafegama yang bergerak untuk membantu.

Selain itu, Selly juga ingin proses halal juga berjalan, karena NTB dikenal dengan pariwisata halal. Selly mengharapkan, semua Usaha Kecil Menengah (UKM) memiliki proses yang halal. Ia menjelaskan, Disdag memiliki iShop yang saat ini juga terintegrasi dengan android. Semua UKM yang sudah terstandarisasi bisa masuk ke iShop NTB. ‘’Itu sebagai jendela promosi dari UMKM kita. Halal itu harus jujur dari MUI, jangan ambil dari internet,’’ katanya.

Baca juga:  Gandeng Telkomsel, Amman Mineral Persiapkan 500-an Pelajar KSB Era Industri 4.0

Kalau kesulitan memperoleh label halal, Selly mengatakan bisa dibantu melalui Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) BUMN. UKM akan dibina dan juga ikut pameran. ‘’UMKM ini supaya naik kelas, saya akan bantu menghubungkan dengan BUMN. Kalau ada standarisasinya bisa naik kelas, dan masuk ke iShop,’’ katanya.

Ia juga mengatakan, pertumbuhan ekonomi NTB saat ini sudah naik menjadi 6,26 persen melebihi pertumbuhan ekonomi nasional. Selly menekankan, saat ini ia mengejar Surat Keterangan Asal (SKA) barang. Hal itu penting menjadi catatan di BPS. SKA bisa meningkatkan Dana Insentif Daerah (DID) yang masuk ke NTB.

“UKM sudah saya kumpulkan, karena kalau ke ASEAN tarifnya nol. Saya ajar UKM membuat SKA di Disdag NTB, hanya membayar PNBP saja ke pusat. Saya ingatkan pencatatan itu penting. Saya ingin agar NTB ini tidak dipandang sebelah mata,’’ pungkasnya.

Hadir pada kesempatan itu, Penjabat Sekda NTB, Dr. Ir. H. Iswandi, M.Si. Dalam sambutannya mewakili Gubernur NTB, ia mengatakan salah satu fokus dalam RPJMD  NTB untuk lima tahun ke depan adalah industrialisasi. Salah satu poin penting adalah kemauan untuk bekerja sama.

Sementara, Rektor Unizar, Dr. Ir. Muh. Ansyar, mengatakan kegiatan itu diikuti sekitar 100 peserta dari sejumlah perguruan tinggi di NTB. Selain penambahan wawasan, ada juga pelatihan membina UKM. Ia berharap melalui kegiatan ini, perguruan tinggi membangun inkubator bisnis dan membina UKM.

Pembicara lainnya, Ir. H. Nanang Samodra K.A., M.Sc., menyampaikan peluang dan kekuatan dari revolusi industri harus dapat dimanfaatkan  semaksimal mungkin bagi masyarakat, dan mampu meminimalisasi adanya kesenjangan. Pembicara lainnya antara lain Ketua LLDikti Wilayah VIII, Prof. Dr. I Nengah Dasi Astawa, M.Si., dan sejumlah tokoh lainnya. (ron)