Listrik Sering Padam, Pelaku Pariwisata di Kuta Mengaku Dirugikan

PLTU Jeranjang yang berlokasi di Desa Taman Ayu, Lombok Barat saat ini sedang dalam proses pemeliharaan. (Suara NTB/ist)

Praya (Suara NTB) – Para pelaku wisata di Lombok Tengah (Loteng) mengaku dirugikan dengan kebijakan pemadaman listrik yang dilakukan oleh PLN beberapa hari terakhir. Listrik yang stabil sangat dibutuhkan untuk kelancaran bisnis pariwisata, terlebih di kawasan Mandalika yang sedang berkembang.

“Kita merasa dirugikan sekali dengan pemadaman tanpa pemberitahuan ini. Saya tidak mendapat surat edaran dari PLN kalau ini disebut pemadaman bergilir,” kata Riskiansyah, owner Melati dan Resort Hotel Kuta Lombok kepada Suara NTB, Selasa, 12 November 2019

Ia mengatakan, meskipun PLN memberitahukan jadwal pemadaman ini misalnya, pihaknya akan tetap merasa dirugikan. Kerugian pertama, barang-barang elektronik di hotel berpotensi cepat rusak akibat pemadaman yang terlalu sering dilakukan.

“Genset yang kita miliki juga bukan genset yang 100 persen wah begitu. Jadi kalau tidak ada informasi apapun, ini merugikan sekali, “ terangnya lagi.

Selain kerugian dari sisi mesin-mesin elektronik, kerugian juga muncul pada sisi operasional hotel. Tamu hotel merasa tidak nyaman dengan kondisi seperti ini. “Yang lebih merugikan lagi jika tamu hotel berbicara di media sosial tentang ketidaknyamanan hotel atau memberi feedback yang negatif, bagaimana cara kita menanganinya, itu kerugiannya sudah tidak bisa dihitung lagi ?,” tambahnya.

Baca juga:  Pasokan Listrik Diperkirakan Normal Akhir November

Pihaknya tidak bisa mengandalkan mesin genset 100 persen, karena kemampuannya yang terbatas. Apalagi biaya bahan bakar genset juga tidak kecil, sehingga menambah beban operasional hotel. Yang diinginkan oleh pelaku wisata yaitu ada komunikasi  PLN dengan pelaku usaha. Misalnya ada rencana pemadaman seharusnya diberikaan informasi yang jelas.

”Meski demikian, pemberitahuan itu bukan alat cuci tangan, bahwa pemadaman telah sah. Tegangan listrik kalau bisa diperbaiki, jangan sampai naik turun-naik turun. Ini berpengaruh sekali terhadap operasional elektronik kita,” terangnya. Ia menambahkan, saat ini tingkat okupansi hotel saat ini sekitar 80 persen. Tingkat okupansi yang tinggi jika tidak dibarengi dengan suplai listrik yang memadai akan berdampak buruk bagi usaha pariwisata.

Sementara itu Manager PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Mataram, Dony Noor Gustiarsyah mengatakan, pihaknya terus berupaya memenuhi kebutuhan daya untuk masyarakat. Saat berbicara dengan Komisi IV DPRD NTB, Selasa, 12 November 2019, Dony menerangkan sistem listrik Lombok memang sedang defisit sebesar 36 MW akibat pemeliharaan di beberapa mesin pembangkit sehingga dilakukan kebijakan pemadaman bergilir.

Baca juga:  Kurangi Pemadaman Listrik, Unit II PLTU Jeranjang Dikebut

Adapun sejumlah upaya yang bisa dilakukan PLN untuk memenuhi kebutuhan daya untuk masyarakat yaitu dengan mempercepat operasional unit 2 PLTU Jeranjang dengan jumlah daya sebesar 25 MW. ”Semoga akhir November ini sudah bisa masuk di sistem Lombok,” ujarnya. Penyelesaian pemeliharaan periodik untuk unit I PLTU Jeranjang dengan kapasitas 22 MW akan selesai tanggal 21 Desember 2019. Hal itu diharapkan bisa memenuhi daya di Lombok dengan beban puncak saat ini sebesar 259 MW.

Selain itu, PLMG Lombok Peaker yang berlokasi di Tanjung Karang Mataram dengan daya sebesar 150 MW diupayakan masuk di sistem Lombok tanggal 20 Desember mendatang. Menurutnya, kondisi ketersediaan daya beransur-ansur membaik, misalnya sejak Senin, 11 November malam PLTD Paok Motong dengan daya 4,5 MW sudah masuk di sistem.

“Unit 4 PLTD Paok Motong dengan kapasitas 4,5 MW, Alhamdulillah tadi malam sudah masuk sistem pak,” katanya. (ris)