PLN Jelaskan Asal Muasal Pemadaman Listrik

PLTU Jeranjang yang berlokasi di Desa Taman Ayu, Lombok Barat saat ini sedang dalam proses pemeliharaan. (Suara NTB/ist)

Advertisement

Mataram (Suara NTB) – PT. PLN (Persero) terpaksa harus melakukan pemadaman bergilir. Ada faktor internal dan eksternal yang mempengaruhinya. Pemadaman bergilir jika melihat faktor internalnya, memungkinkan berlangsung hingga pertengahan Desember 2019 ini. Masyarakat harus menyiapkan cadangan daya atau penerang, jika sewaktu-waktu terjadi pemadaman.

Tidak dipungkiri, dalam beberapa waktu terakhir, pemadaman bergilir intens terjadi. Namun hanya di Pulau Lombok. Di Pulau Sumbawa, cadangan daya masih cukup aman. Jajaran PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Provinsi NTB, Senin, 11 November 2019 memberikan penjelasan penyebab terjadinya pemadaman.

Manager Komunikasi PLN UIW NTB, Taufik Dwi Nurcahyo dalam keterangannya menyampaikan beberapa kendala yang dihadapi PLN saat ini.

Diantaranya, karena kondisi kelistrikan beban daya yang mengalami kenaikan signifikan. Di 2018, beban puncak (saat pemakaian listrik serentak) di Pulau Lombok sebesar 225 megawatt. Saat ini beban puncak naik menjadi 259 MW. Kenaikan beban mencapai lebih dari 10 persen. Kenaikan beban puncak dipengaruhi karena kemarau panjang. Akibatnya, masyarakat yang menggunakan mesin pendingin ruangan bertambah.

“Mungkin masyarakat lebih banyak lagi membeli mesin pendingin ruangan. Yang mengakibatkan penggunaan daya listrik yang cukup banyak,” jelas Taufik.

Selain itu, beberapa unit pembangkit listrik milik PLN tengah memasuki masa pemeliharaan. Di PLTD Ampenan Mataram dan PLTD Paokmotong, Lombok Timur. Ditambah unit I PTLU Jeranjang, Lombok Barat yang mengalami gangguan.

Jika pemeliharaan tak dilakukan, dikhatirkan akan terjadi dampak kerusakan mesin yang lebih parah. Dan dapat mengganggu suplai listrik ke pelanggan. Selain itu, tambah Taufik, kekurangan daya dipengaruhi pembangkit listrik mikro hidro (PLTMH/tenaga air) sebanyak sembilan unit di Pulau Lombok, dengan kapasitas daya 8,5 MW juga turut mengalami kekurangan produksi sebagai dampak kritis air yang menjadi sumber tenaga pembangkitnya.

Kata Taufik, dari kondisi normal, PLTMH menghasilkan 8 MW, saat ini telah menyusut menjadi 3 MW (hilang 5 MW). Sehingga secara total, PLN mengalami kekurangan suplai daya listrik sebanyak 47 MW. Dari 270 daya mampu awal, saat ini hanya bisa tersuplay 223 MW.

“Permintaan rumah tangga yang tinggi, setelah pulih pascagempa. Selain itu, kita juga mengejar target rasio elektrifikasi 115 ribu pelanggan tambahannya tahun ini. Ini juga berpengaruh signifikan pada kenaikan beban,” kata Taufik.

Sebelumnya, antisipasi permintaan dilakukan dengan harapan suplay dari PLMG Lombok Peaker di Ampenan. Kapasitasnya 150 MW. Seyogiyanya pertengahah tahun 2019 telah dioperasikan akibat kendala teknis, target molor hingga Desember 2019, atau setelat-telatnya awal tahun 2020.

“Secara menyeluruh, kendala teknis upaya perbaikan dilakukan percepatan. Kita upayakan beberapa unit yang bisa masuk terlebih dahulu agar bisa mengurangi beban,” imbuhnya.

Selain upaya yang dilakukan PLN, masyarakat juga diharapkan menggunakan listrik secara bijak. Penggunaan listrik yang tidak terlalu penting, diharapkan turut diefisiensi.

Misalnya lampu, atau alat – alat listrik lainnya yang tidak terlalu penting digunakan. Meski demikian, terhadap pemadaman listrik yang dilakukan oleh PLN, sesuai aturan, perusahaan negara ini juga memberikan kompensasi kepada pelanggan. Kompensasi dalam bentuk pemberian potongan tarif listrik. Baik prabayar, maupun pascabayar.

“Kami meminta maaf sementara ini atas ketidaknyamanan pelanggan,” demikian Taufik. (bul)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.