Saat Pelaku Usaha Kecil Tak Lagi Terjerat “Bank Rontok”

Nasabah Bank Wakaf Mikro ATQIA sedang mendapkan pembinaan dari pengelola sambil memberi setoran mingguan. (Suara NTB/ist)

Praya (Suara NTB) – Sri Ratna Wati (32) warga Desa Bonder, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) terlihat sumringah. Meskipun cuaca panas menyengat di Lombok di bulan November ini, namun tak menyurutkan semangat ibu muda ini menjual sayur bakulan di desanya. Walaupun skalanya masih kecil, namun usahanya tetap lancar dan mampu memberi tambahan ekonomi bagi keluarga.

Sri Ratna Wati adalah salah seorang nasabah Bank Wakaf Mikro Ahmad Taqiuddin Manshur (ATQIA) yang berada di lokasi Pondok Pesantren Al Manshuriyah Ta’limusshibyan, Desa Bonder, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah. Ia menuturkan, kucuran kredit sebesar Rp 1 juta dari Bank Wakaf Mikro ini menjadi modal untuk berjualan sayur keliling setiap hari.

“Alhamdulillah, saya sangat terbantu dengan Bank Wakaf Mikro ini. Mudah dan tidak ada bunga,” tutur Sri Ratna Wati kepada Suara NTB Jumat, 8 November 2019.

Sebelum hadirnya Bank Wakaf Mikro bulan April 2019 lalu, Sri Ratna harus berurusan dengan rentenir yang lebih dikenal di Lombok dengan sebutan ‘bank rontok’ atau ‘bank subuh’ lantaran sistem penagihannya yang dilakukan di pagi buta. Sementara ‘Rontok’ artinya mengetuk pintu, karena rentenir biasanya langsung ke rumah-rumah nasabah untuk mengambil dana cicilan. Di rentenir itu, kata Ratna pinjaman Rp 1 juta misalnya bisa menjadi minimal Rp 1,35 juta karena bunganya yang tinggi.

“Nunggak satu hari naik bunganya, kita lama-lama tidak mampu. Dulu banyak ‘bank subuh’ di sini, namun sekarang sudah berkurang sejak adanya Bank Wakaf Mikro ini,” katanya.
Ia berharap plafond pinjaman bisa dinaikkan oleh pengelola bank agar usaha yang digeluti selama ini bisa lebih berkembang, terlebih sudah banyak pelanggan yang telah menunggu jualannya setiap hari.

Begitu juga Inaq Sanimah (55), warga Desa Bonder lainnya yang mengaku sangat terbantu dengan hadirnya Bank Wakaf Mikro ini. Ia menuturkan, tidak hanya diberikan pinjaman, namun diberikan pembinaan agar modal yang dipinjam itu bisa berkembang.

Inaq Sanimah yang juga bekerja sebagai penjual sayur keliling ini berharap bantuan kredit yang diberikan bisa lebih besar.” Ada pembinaan dari pengelola. Diajar cara mengelola keuangan dan berjualan,” tuturnya.

Baca juga:  ’’Skimming’’ ATM, Bank NTB Syariah Pastikan Dana Nasabah Aman

Dulu kata Inaq Sanimah, ia meminjam di bank BRI melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) mikro. Namun demikian, akses dana KUR mikro yang dipinjam diharuskan menyerahkan jaminan dan survei rumah serta isi di dalamnya. ”Ada jaminan BPKB motor, survei rumah, mesin padi disurvei, masuk ke dalam rumah. Kalau di Bank Wakaf ini, surveinya hanya pengajian saja,” terangnya.

Bank Wakaf Mikro adalah sebuah Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) yang berfokus pada pembiayaan masyarakat kecil di lingkungan Pondok Pesantren. Di wilayah Bali dan Nusa Tenggara, baru satu Bank Wakaf Mikro yang sudah berdiri. Untuk menjalankan program ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bekerja sama dengan Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) dan para donatur.

Ustad Mujitahid selaku pengelola Bank Wakaf Mikro ATQIA mengatakan, hingga saat ini nasabah yang sudah mengakases dana ini sebanyak 315 orang. Di tahap awal ini, setiap nasabah diberikan dana pinjaman sebesar Rp 1 juta tanpa potongan apa pun, tanpa ada agunan, serta tanpa bunga.

Para pengakses dana ini modelnya berkelompok. Satu kelompok terdiri dari lima orang, sehingga modelnya adalah tanggung renteng.

“ Saya lihat mereka sangat antusias, karena tak repot-repot cari jaminan. Terbukti beberapa dusun bikin kelompok baru sekarang ini, tuturnya.

Nasabah Bank Wakaf Mikro ATQIA ini adalah pelaku usaha kecil mikro seperti pedagang bakulan, pedagang baju keliling, peternak ayam, bebek dan lain sebagainya. Nasabah berasal dari tiga desa di Lombok Tengah yaitu Desa Bonder, Tanak Rarang serta Desa Penujak.

“Setiap minggu para nasabah menyetor uang sekaligus pembinaan usaha dengan durasi satu jam,” terangnya.

Dari pinjaman Rp 1 juta tersebut, setiap orang menyetor sebesar Rp 22 ribu yang terdiri dari Rp 20 ribu cicilan kredit, biaya pembimbingan Rp 500 serta infaq Rp 1500.
Ia mengakui, ibu-ibu yang menjadi nasabah Bank Wakaf Mikro ini meminta tambahan jumlah pinjaman untuk memperbesar sekala usaha. Namun demikian, jumlah pinjaman harus secara perlahan untuk melatih keuletan para nasabah.

Pasca-berdirinya Bank Wakaf Mikro ATQIA ini, peran rentenir sudah mulai berkurang. “ Ibu-ibu tidak perlu meminjam uang di rentenir lagi. Mereka sudah cukup berjaya dengan modal satu juta,” katanya.

Baca juga:  ’’Skimming’’ ATM, Bank NTB Syariah Pastikan Dana Nasabah Aman

Ketua Yayasan Ponpes Pesantren Al-Manshuriyah Ta’limusshibyan Hj. Baiq Mulyanah mengatakan, melalui Bank Wakaf Mikro ini, pihaknya ingin mengembangkan ekonomi masyarakat yang selama ini bergelut di sektor ekonomi mikro dan kecil. Jika selama ini mereka bergantung pada akses pembiayaan rentenir yang gampang namun sangat memeberatkan, kini mereka dapat mengakses dana Bank Wakaf Mikro disertai dengan pembinaan dan bimbingan.

Ia mengatakan, perekonomian masyarakat cenderung tak berkembang lantaran kerap berhubungan dengan rentenir. Mereka diberikan pinjaman uang, namun saat terima uang sudah langsung dipotong biaya administrasi dan terpotong untuk ansuran pertama.

“Bahkan yang saya tahu dari curhatan mereka itu, bukan ‘bank subuh’ lagi namanya, ‘bank tahajjud’ malah namanya, karena sebelum subuh sudah ditelpon agar siap-siap, mereka ( rentenir) akan datang menagih. Sehingga Bank Wakaf Mikro ini sangat membantu,” katanya.

Saat ini dana wakaf dari donatur yang dihimpun dan disalurkan oleh Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) telah masuk dalam rekening Bank Wakaf Mikro ATQIA sekitar Rp4 miliar yang mulai dikucurkan kepada nasabah setelah mereka melewati uji kelayakan, sosialisasi, administrasi, seleksi, dan pelatihan berbasis kelompok.

Direktur Humas OJK Hari Tangguh Wibowo saat mengunjungi Ponpes Al-Manshuriyah Ta’limusshibyan awal Juli lalu menegaskan bahwa, penyaluran kredit di Bank Wakaf Mikro ini tidak memiliki bunga apapun. Namun kucuran kredit diberikan kepada orang atau kelompok masyarakat yang serius ingin mengembangkan usahanya di lingkungan Pondok Pesantren. Selain diberikan pinjaman kredit, para penerima dana juga diberikan pembinaan dan bimbingan dari pengelola bank.

Sementara itu, Kepala OJK Provinsi NTB Farid Faletehan menyambut positif berkembangnya Bank Wakaf Mikro ATQIA di Lombok Tengah ini. Lembaga keuangan semacam ini memang dihajatkan untuk membantu masyarakat yang selama ini bergerak di sektor usaha mikro dan kecil.

Apakah ada rencana untuk menambah jumlah Bank Wakaf Mikro ini ke depan? “Untuk penambahan mesti dievaluasi dulu serta dilakukan survei terlebih dahulu. Nanti kami akan coba komunikasikan dengan kantor pusat. Mudah-mudahan nanti ada penambahan,” katanya. (ris)