Motif “Selingkuh” di Atas Kain Tenun Lombok

Indah Rahmawati menunjukkan kain tenun dengan motif selingkuh. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Ada-ada saja ide para penenun mengangkat jenama mereka. Menenun tidak melulu soal mempertahankan kearifan lokal. Tetapi menenun adalah bagian dari penuangan ide-ide. Salah satunya ide melahirkan motif.

Indah Rahmawati, pemilik Nyalakok Tenun di Kembang Kerang, Kecamatan Aikmel Kabupaten Lombok Timur, mencetuskan kain tenun dengan motif selingkuh. Mendengar nama motif ini, yang terbayang tentu saja aksi pengkhiatan kepada pasangan.

Kain Tenun Motif “Selingkuh”

Selingkuh diartikan sebagai istilah yang umum digunakan terkait perbuatan atau aktivitas yang tidak jujur dan menyeleweng terhadap pasangannya. Baik pacar, suami, atau istri. Istilah ini umumnya digunakan sebagai sesuatu yang melanggar kesepakatan atas kesetiaan hubungan seseorang.

Jika selingkuh dikonotasikan sebagai sebuah pengkhiatan kepada pasangan, pastinya akan timbul perasaan sakit hati. Namun beda halnya, ketika dilihat dari sudut kreativitas ide penenun. Ia justru mendatangkan perasaan sebaliknya.

Melihat kain tenun dengan motif selingkuh, seperti melihat bunga-bunga beraneka warna. Beberapa wana kain dipadu-padankan. Indah juga mengawinkan beberapa motif ke dalam selembar kain tenun. Diantaranya motif seroja, motif selaparang rebong, motif siku-siku, motif aluk, motif cakar, motif bulan dan motif bugis. Biasanya, enam motif, bahkan sepuluh motif bisa masuk. menyatu menjadi kain tenun motif selingkuh.

“Pada kain tenun, ada puluhan jenis motif. Tapi untuk motif selingkuh, kita lakukan pengawinan motif dalam  satu wadah kain,” kata Indah kepada Suara NTB.

Indah menyebut, nama motif selingkuh ia pilih dari populernya ungkapan selingkuh. Baik kepada pasangan, bahkan kepada teman. Kain tenun motif selingkuh ini, sama seperti kain-kein tenun umumnya yang dibuat sepanjang 4 meter lebih. Dengan lebar 65 cm.

Selembar kain, ia jual seharga Rp600 ribu. Jika dikombinasikan dengan kain lain, satu kain motif selingkuh bisa menghasilkan empat atau lima baju. Indah menyebut kain tenun motif selingkuh ini pembelinya se-populer namanya.

“Pembeli lebih tertarik karena warna – warninya, selain itu, dalam satu kain bisa mendapatkan beragam motif. Berbeda kalau membeli kain dengan motif tertentu, yang didapat hanya satu motif,” demikian Indah.

Nyalakok adalah salah satu IKM produsen tenun binaan Bank Indonesia di Pulau Lombok. Bank Indonesia bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTB saat ini tengah gencar mempopulerkan kain tenun.

Mengangkat kearifan lokal ini menjadi sumber-sumber perekonomian besar dengan dimulainya NTB menuju provinsi sebagai pusat fashion muslim berbahan baku kain tenun.

Indah saat ini berusia 25 tahun. Belum lama ini ia mengundurkan diri sebagai salah satu karyawan bank swasta nasional. Lalu terjun sebagai pelaku tenun di Kembang Kerang. “Kalau bukan generasi muda yang melanjutkan warisan kearifan lokal ini, siapa lagi,” katanya meyakinkan akan all out melestarikan tenun lokal.

Indah telah melahirkan ide menciptakan banyak motif agar kain tenun menjadi kain tradisional namun tak meninggalkan nunsa modern. Dari motif-motif yang diciptakan itulah, sejarah, atau kearifan lokal ditampilkan.

Misalnya motif tunjung, yang bermakna lumbung atau tempat penyimpanan hasil penen. Ada juga selaparang rebong yang terinspirasi dari perjuangan raja Selaparang mempertahankan Lombok dari penjajahan.

Untuk menjaga kelestarian tenun, Indah juga memberdayakan anak-anak sekolah mengisi waktu luangnya dengan menenun. Dari sana, mereka mendapatkan belanja dan biaya sekolah tanpa harus menunggu pemberian orang tuanya. (bul)