Setengah Hari, Transaksi Misi Dagang Jatim-NTB Tembus Rp603 Miliar

Kepala Disdag NTB, Hj. Putu Selly Andayani bersama Gubernur Jatim, Hj. Khofifah Indar Parawansa. (Suara NTB/ist)

Advertisement

Mataram (Suara NTB) – Misi dagang yang menjadi inisiasi Pemprov NTB dan Pemprov Jawa Timur (Jatim) sukses memfasilitasi ruang pertemuan antara pelaku usaha di ke dua provinsi. Dalam kegiatan yang digelar 29 Oktober 2019 di Mataram tersebut, nilai transaksi mencapai Rp603 miliar lebih.

“Transaksinya kemarin sampai jam empat sore (16.00 Wita) ditutup, totalnya Rp603.550.000.000,’’  ujar Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) NTB, Dra. Hj. Putu Selly Andayani, M.Si ketika dikonfirmasi, Rabu, 30 Oktober 2019 di Mataram. Angka yang cukup fantastis tersebut didapat dari beberapa komoditas unggulan NTB yang diborong habis oleh pengusaha asal Jatim yang menghadiri kegiatan tersebut.

Diterangkan Selly, beberapa komoditas yang sangat menarik minat pelaku usaha Jatim adalah bawang merah, bawang putih, kopi, rumput laut dan lain-lain. Selain itu, ada juga produk kuliner berupa Ayam Taliwang presto yang menjadi perhatian.

‘’Ayam Taliwang itu mungkin dia (pelaku usaha Jatim, Red) masih pesan 100 kemasan dulu, mau dicoba. Tapi sudah diakses (langsung ke produsen),’’ ujar Selly. Terkait hal itu, ditegaskan pentingnya pengurusan hak paten untuk Ayam Taliwang presto untuk mengikuti pemasaran ke luar daerah yang mulai meningkat dan terbuka.

‘’Paling tidak kalau ada paten, ada nama NTB di situ. Supaya tidak ada yang mengklaim Ayam Taliwang itu dari daerah lain,’’ tambahnya.

Menurut Selly, kegiatan misi dagang memang tujuannya salah satunya untuk memutus mata rantai distribusi yang tidak efektif. ‘’Di sini pembelinya langsung ketemu dengan petani (produsen), jadi tidak ada mafia,’’ ujarnya. Dengan mengenal potensi produksi masing-masing daerah, keuntungan yang didapat terutama oleh petani diharapkan bisa meningkat.

Pemprov NTB sendiri berperan memfasilitasi pertemuan tersebut. Terutama untuk membuka akses produsen dengan konsumen dalam hal ini pengusaha besar dari Jatim. ‘’Ini stimulan pertama dari Jatim bisa membuat misi dagang di sini. Nanti ada kunjungan balasan ke Jatim, tahun depan ditindaklanjuti,’’ ujar mantan Penjabat Walikota Mataram ini.

Selain Jatim, Selly menerangkan bahwa beberapa provinsi lain yang tertarik berkunjung dan melakukan kegiatan serupa di NTB adalah Kalimantan Timur (Kaltim) dan Sulawesi Selatan (Sulsel). Untuk kunjungan Kaltim akan dilakukan pada 2 November 2019 mendatang dan khusus menyasar produk Usaha Kecil Menengah (UKM) yang difasilitasi Dekranasda NTB.

Dengan keberhasilan misi dagang perdana dengan Jatim, kegiatan tersebut dicanangkan menjadi program regular tahunan Pemprov NTB. Beberapa keunggulan disebut Selly dapat mempermudah rencana tersebut seperti adanya gelaran MotoGP dan pengembangan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.

‘’Kemarin itu kita uji coba, ternyata hasilnya sukses. Besok kita akan balas ke Jatim membawa petani. Berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan Perkebunan, Dinas Peternakan dan lain-lain,’’ pungkasnya.

Seperti diketahui Misi dagang Jatim dan NTB 2019 berlangsung di Mataram, Rabu (29/10). Misi dagang perdana itu, dihadiri Gubernur Jatim, Dra.Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si dan Wakil Gubernur (Wagub) NTB, Dr.Hj.Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd.

Wagub NTB menerangkan bahwa misi dagang antara Jatim dan NTB dapat memberikan banyak manfaat. Terlebih untuk kerjasama di mana pelaku usaha di Jatim dan NTB bisa saling bekerjasama dalam pengembangan sektor yang sama seperti pertanian, perdagangan, dan pariwisata.

Dalam kegiatan tersebut, para pelaku usaha yang berasal dari Jatim dipertemukan secara langsung dengan pelaku usaha dari NTB. Selain itu, dilakukan juga penandatanganan kerjasama antara Pemprov Jatim dan Pemprov NTB.

Rohmi menerangkan bahwa dengan adanya misi dagang tersebut, komoditas usaha di NTB dapat didorong untuk dipasarkan ke luar daerah. Terlebih jika komunikasi yang dibangun antara pelaku usaha dan pemerintah provinsi dapat menjadi produktif dan menguntungkan ke dua belah pihak.

Sementara, Gubernur Jatim menerangkan bahwa pihaknya mengunjungi NTB terutama untuk membangun sisterhood province, salah satunya melalui misi dagang antar-daerah. Misi tersebut sengaja diinisiasi untuk memfasilitasi pemerintah daerah mempertemukan para pelaku usaha.

‘’Kegiatan ini untuk menyebarluaskan potensi produk perindustrian, perdagangan, potensi perikanan, agrobisnis, dan peluang investasi,’’ ujar Khofifah. Jika melihat potensi masing-masing, kedua daerah disebut dapat saling melengkapi.

Dicontohkan Khofifah seperti NTB yang saat ini diarahkan menjadi daerah penghasil jangung yang hasil produksinya sangat dibutuhkan oleh Jatim. Mengingat hampir 50 persen bahan pakan ternak ayam terdiri dari jagung, maka bahan baku tersebut dapat diserap oleh Jatim. ‘’Misalnya saja saat peternak ayam di Blitar kesulitan jagung. Kalau kita sudah membangun misi dagang, konektivitas para produsen jagung NTB dan Jatim langsung terkoneksi,’’ ujarnya.

Khofifah mengharapkan, misi dagang yang digelar di Mataram dapat dimanfaatkan untuk menyebarluaskan potensi produk perindustrian, perdagangan, potensi perikanan, agrobisnis, dan peluang investasi lainnya. Artinya, Pemprov Jatim mengharapkan investor lokal yang berencana masuk ke NTB dapat disambut atau diberi kesempatan yang sama seperti investor luar yang belakangan banyak dating ke daerah ini. (bay/*)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.