Pemprov Beri Tenggat Empat Bulan untuk Pengelola Gili Tangkong

Zainul Islam (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB telah menetapkan investor PT. Heritage Resort and Spas menjadi mitra Pemda dalam kerja sama pemanfaatan aset daerah di Gili Tangkong, Sekotong Lombok Barat (Lobar). Investor asal Kepulauan Riau ini diberikan waktu empat bulan untuk memulai aktivitasnya mengembangkan Gili Tangkong.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) NTB, Drs. H. Zainul Islam, MM yang dikonfirmasi Suara NTB di Mataram, akhir pekan kemarin mengatakan, penetapan PT. Heritage Resort and Spas menjadi mitra Pemda dalam pemanfaatan aset daerah seluas 72.723 meter persegi di Gili Tangkong pada 3 September lalu. Artinya, Desember mendatang, investor tersebut harus sudah kelihatan aktivitasnya dalam mengembangkan Gili Tangkong.

Zainul mengatakan, saat ini mereka sedang mengurus berbagai persyaratan berkaitan dengan investasi di Gili Tangkong. ‘’Mereka sudah menyatakan komitmen. Dan sudah menghadap langsung ke Pak Sekda, dua minggu lalu,’’ terangnya.

Zainul menegaskan, Pemprov tidak menginginkan mitra Pemda tersebut hanya menjadi investor “akan”. Sehingga Pemprov memberikan waktu empat bulan bagi investor tersebut untuk memulai aktivitasnya.

Baca juga:  Investor Malaysia Mulai Bangun Pabrik Pakan dan 10 Investasi Lainnya di NTB

Desember mendatang, Pemprov merencanakan penandatangan kerja sama dengan investor tersebut. ‘’Kita tidak harapkan ada yang akan, akan itu. Akhir tahun mesti sudah ada (kelihatan aktivitas pembangunan),’’ katanya.

Sehingga, kata Zainul, Pemprov sedang menyusun draf kontrak kerja sama pemanfaatan Gili Tangkong dengan PT. Heritage Resort and Spas. Dalam kontrak kerja sama tersebut nantinya akan mengatur tentang besaran kontribusi yang akan disetor oleh investor tersebut ke kas daerah atas pemanfaatan Gili Tangkong.

“Mudah-mudahan bisa kita dapat Rp700 – 800 juta setahun,” harap Zainul.

Diketahui, tiga investor berebut untuk mengelola aset Pemprov NTB di Gili Tangkong. Awalnya, ada 8 investor yang mendaftar dalam seleksi terbuka yang dilakukan tim panitia independen yang dibentuk Pemprov NTB.

Namun, dari delapan investor ang mendaftar, hanya tiga yang menyerahkan dokumen penawaran. Yakni PT. Heritage Resort and Spas (Bintan), PT. Istana Cempaka Raya (Mataram), dan PT. Ananda Tangkong Paradise (Denpasar). Hasil seleksi yang dilakukan Panitia Pemilihan Mitra Kerja Sama Pemanfaatan Barang Milik Daerah (BMD) Pemprov NTB, PT. Heritage Resort  and Spas menjadi peringkat pertama dengan total nilai 91,27 persen.

Baca juga:  Dari Forum Investasi Sunda Kecil di Kupang; Bali Tawarkan Wilayah Barat, Utara dan Timur

Panitia Pemilihan melihat dari dua aspek. Pertama, dokumen dan RIP. Untuk peringkat kedua, PT. Istana Cempaka Raya dengan nilai 83,60 dan PT. Ananda Tangkong Paradise mendapatkan nilai 64,06.

Sebelumnya, Zainul mengatakan untuk mencegah investasi abal-abal, Pemprov akan mewajibkan investor yang akan mengelola Gili Tangkong menyerahkan uang jaminan sebesar 10 persen dari nilai investasi di bank daerah.

Ia menyebutkan, lahan milik Pemprov di Gili Tangkong seluas 7 hektare lebih tersebut nilainya  sekitar Rp16,57 miliar lebih.  Dijelaskan, uang jaminan investasi merupakan persyaratan wajib yang harus dipenuhi calon investor yang akan mengelola Gili Tangkong. (nas)