Petani Tembakau Terpaksa Banting Harga

Petani tembakau di NTB (Suara NTB/dok)

Praya (Suara NTB) – Kesulitan menjual tembakau membuat para petani tembakau di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) terpaksa harus menjual murah hasil panennya. Petani banting harga hingga kurang dari setengah harga jual tahun sebelumnya. Langkah ini dilakukan, lantaran khawatir tembakaunya tidak laku sampai menjelang akhir musim tembakau tahun ini.

Amaq Ruslan, petani tembakau asal Desa Mangkung Praya Barat, kepada Suara NTB, Jumat, 25 Oktober 2019 kemarin mengatakan, saat ini ia baru dua kali menjual daun tembakau hasil panennya. Petani menjual hasil panennya dengan harga Rp 100 ribu perkwintal tembakau basah. Harga tersebut jauh di bawah harga jual pada musim tanam tembakau tahun sebelumnya yang bisa mencapai hingga Rp250 ribu perkwintal.

‘’Tahun lalu untuk daun tembakau basah, harganya mencapai antara Rp200  ribu sampai 250 ribu per kwintal di tingkat pengepul. Kalau tahun ini hanya Rp100 ribu per kwintal,’’ sebutnya. Itu pun petani tidak langsung dibayar oleh pihak pengepul.

Baca juga:  KTNA NTB Soroti Persoalan Tembakau

Pasalnya, pengempul juga harus menjual terlebih dahulu tembakau tersebut ke perusahaan rokok yang ada. Baru setelah dibayar oleh pihak perusahaan, pengempul bisa membayar tembakau petani tersebut. Kalau tembakaunya belum dibayar oleh perusahaan, petani masih juga harus bersabar.

Menurutnya, petani dalam hal ini memang dihadapkan pada situasi yang dilematis. Jika tidak dijual dengan harga murah, maka tembakau petani tidak akan bisa laku. Kalaupun ada yang membeli, petani juga mesti bersabar. Karena tembakau tidak langsung dibayar.

“Prinsip petani tembakau yang penting laku dulu tembakaunya. Soal harga dan kapan dibayar, itu urusan lain,” timpalnya. Jadi selain harus menerima harga dibawah yang diharapkan, petani tembakau juga diharuskan bersabar karena tidak langsung menerima pembayaran atas tembakau miliknya.

Terpisah, Sekretaris Dinas Pertanian Loteng, Taufikurrahman PN, mengatakan tahun ini produksi tembakau Loteng mengalami over produksi. Pasalnya, luas tanam tembakau melebihi target yang ada. Dimana dari sekitar 8 ribu hektar yang ditargetkan, luas tanam tembakau justru menembus 10 ribu hektar.

Baca juga:  KTNA NTB Soroti Persoalan Tembakau

Di satu sisi, perusahaan rokok juga menurunkan kuota pembelian tembakau. Akibat, naiknya besaran cukai tembakau oleh pemerintah. “Cukai tembakau dinaikkan oleh pemerintah. Akibatnya, perusahaan rokok menurunkan produksinya untuk menekan besaran cukai tembakau. Imbasnya, kuota pembelian tembakau dari petani otomatis berkurang,’’ tandasnya.

Pemerintah daerah sudah berupaya meminta tambahan kuota pembelian tembakau dari perusahaan rokok yang ada di daerah ini. Dan, baru PT Bentoel yang menambah kuota pembelian tembakau, sekitar 500 ton. Tapi itu dibagi untuk Loteng dan Lombok Timur (Lotim).

‘’Pemerintah daerah masih berupaya melobi perusahaan rokok lainnya untuk menambah kuota pembelian rokok. Supaya tembakau petani yang belum laku, bisa terserap. Sehingga petani bisa terhindar dari potensi kerugian yang lebih besar,’’ ujarnya. (kir)