Intervensi Desa Miskin, Nelayan Sekotong Dibantu Sarana Budidaya Mutiara

Sasi Rustani bersama kelompok pembudidaya mutiara di Sekotong Barat melepas kolektor yang telah ditempeli benih mutiara untuk dibesarkan. (Suara NTB/bul)

Giri Menang (Suara NTB) – Dua kelompok nelayan di Desa Sekotong Barat, Kecamatan Sekotong Kabupaten Lombok Barat diberi bantuan sarana budidaya mutiara. Bantuan ini sebagai bagian dari intervensi 100 desa miskin yang menjadi arahan kepala daerah untuk ditangani berdasarkan SK Gubernur Tahun 2019.

Paket bantuan sarana ini berupa paket kolektor, long line, benih (sepat) dari UPT BPBPP Sekotong, perahu 6,5 PK sepanjang 7 meter x 0,8 meter. Dua kelompok penerima, Kelompok Mutiara Baru dan Kelompok Harapan Baru. Bantuan diserahkan Kepala Dinas Kelautan Perikanan Provinsi NTB, Ir. L. Hamdi, M.Si melalui Kepala Bidang Perikanan Budidaya, Ir. Sasi Rustandi, M. Si, Senin, 21 Oktober 2019.

Para nelayan pesisir pantai Sekotong Barat selama ini hanya mengandalkan pendapatan dari melaut. Disisi lain, mereka memiliki potensi untuk membudidayakan mutiara. Perairannya sangat mendukung, tenang dan jernih. Menjadi nelayan tentu tak bisa ditebak pendapatannya.

Pada musim tertentu, nelayan tak bisa melaut, otomatis mereka akan kehilangan pendapatan sementara. Dengan kata lain, pendapatannya akan sangat fluktuatif, tergantung cuaca. “Untuk menjaga stabilitas pendapatan para nelayan ini, diberikan usaha tambahan. Budidaya mutiara,” kata Sasi Rustandi.

Anggota kelompok penerima bantuan menyampaikan terima kasih, ekonomi mereka bisa ditopang dengan usaha lain. Sudah dua tahun kelompok nelayan ini membudidayakan mutiara. Ketua Kelompok Nelayan Mutiara Baru, Junaidi mengatakan ada empat long line

sepanjang 100 meter milik kelompok.

Dari sarana ini, kelompok melakukan pembesaran sepat. Panen sepat bisa dilakukan setelah masa pemeliharaan 8 sampai 9 bulan. Ukuran sepat sekitar 7 – 8 cm. “Sekali panen bisa menghasilkan Rp100 juta,” ujarnya. Sepat mutiara dijual ke perusahaan – perusahaan budidaya mutiara.

Keuntungannya juga cukup menjanjikan. Sehingga nelayan di Sekotong Barat sangat tertarik membudidayakan sepat mutiara. Sasi Rustandi menambahkan, bantuan dari APBD 2019 ini untuk pemberdayaan masyarakat agar dapat meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir Sekotong Barat. Dalam jangka panjang, diharapkan taraf hidup mereka berubah. Tidak lagi masuk kategori masyarakat miskin.

Bantuan sarana budidaya mutiara ini diberikan lengkap. Karena budidaya tidak dilakukan di tepi pantai. Sampan diharapkan dapat mempermudah kelompok melakukan perawatan sepat sepat secara rutin untuk mendapatkan hasil maksimal. Agar bantuan yang diberikan dapat bermanfaat mendorong pesentase keberhasilannya tinggi, Sasi mengatakan pendampingan juga dilakukan.

Melibatkan para penyuluh yang membawahi Kecamatan Sekotong, Lombok Barat. “Pendampingannya teknologi dan teknis. Kita minta, bekerjasama dengan penyuluh di Kabupaten Lombok Barat,” kata Sasi. NTB dikenal luas sebagai provinsi penghasil mutiara air laut kelas dunia. Dalam setahun, produksi sektar 1 sampai 1,5 ton butir mutiara.

Pasarnya domestik dan ekspor. Dengan mengembangkan kelompok pembudidaya mutiara ini, diharapkan produksi minimal tetap stabil setiap tahun. Saat ini ada delapan perusahaan pembudidaya mutiara. Salah satu kesulitan perusahaan adalah lamanya proses pembesaran sepat sebelum dideder. (bul/*)