Intervensi Harga Semen, Pemprov NTB Gelar Operasi Pasar di KLU

Kepala Disdag NTB Hj. Putu Selly Andayani memberikan keterangan terkait OP semen di KLU, Selasa,  15 Oktober 2019. (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Progres percepatan Rumah Tahan Gempa (RTG) di Lombok Utara tidak dipungkiri masih terkendala tingginya harga semen. Di sejumlah toko, harga semen mengalami inflasi signifikan akibat kelangkaan beberapa bulan lalu. Harga beli masyarakat berkisar di angka Rp 70 ribu sampai Rp 75 ribu per sak.

Kondisi tersebut lantas dikeluhkan masyarakat, baik perorangan maupun Pokmas Swakelola. Harga jual semen di pasaran jauh dari RAB Pokmas, sehingga secara otomatis menghambat pelaksanaan RTG swakelola. Di kalangan aplikator sendiri, harga semen dikeluhkan, begitu pula di tingkat pengusaha (toko bangunan).

“Dari kebutuhan semen dalam sehari, sekitar 1.000 sak, tapi yang datang antara 200-300 sak,” kata pengusaha asal Tanjung, Raden Sutriadi, alias Beldur beberapa waktu lalu.

Beldur menyebut, setiap melakukan order kepada agen semen di Lembar, Lombok Barat, ia tidak pernah mendapat kepastian jawaban. Agen hanya memberi jawaban tidak ada bongkar muat semen.

Dampak kelangkaan semen membuat harga semen mengikuti hukum pasar. Harga semen melonjak. Dicontohkan Beldur, harga semen merk Bosowa yang awalnya antara Rp 52.000-53.000/sak, naik menjadi Rp 70.000/sak. Begitu pula semen tiga roda, naik dari 56.000/sak menjadi 70.000/sak. Bahkan di beberapa toko bangunan, Beldur mendapat keluhan pembeli harga semen mencapai Rp 75.000/sak.

Terhadap kondisi itu, Operasi Pasar Semen di KLU, Selasa (15/10) dinilai langkah tepat. Pasalnya, masyarakat Lombok Utara berharap ada stabilitas persediaan dan harga pada proses RTG korban gempa.

Kepala Dinas Perdagangan NTB, Hj. Putu Selly Andayani, kepada wartawan di sela-sela OP, mengatakan harga semen di pasaran mengalami inflasi yang

asimetris dengan kondisi masyarakat. Bahkan, Selly menyebut harga jual semen tembus Rp 100 ribu/sak.

Pihaknya juga mendapati adanya kelangkaan semen di sejumlah distributor hingga toko bangunan dalam 3 bulan terakhir. “Akhirnya kami rapat dengan semua distributor, Ditreskrimsus Polda NTB dan sepakat melakukan OP dengan harga distributor Rp 58 ribu/sak,” kata Selly.

Dinas Perdagangan NTB melibatkan kepolisian dalam pengawasan OP. Dipastikan, OP tepat sasaran yakni kepada warga korban gempa melalui pokmas dan pembeli individu. Semen untuk sementara di jatah 10 sak per orang yang dibuktikan dengan KTP, serta dari salah satu dari Babinsa, Bhabinkamtibmas atau kepala desa.

Pembelian semen pada OP yang berpusat di Lapangan Tioq Tata Tunaq kemarin mendapat atensi warga. Terlihat dari jumlah semen yang diantarkan sebanyak 500 sak Tiga Roda dan 500 sak Bosowa, ludes terjual. Bahkan sebelum siang hari, distributor harus mengirimkan tambahan sejumlah 700 sak.

“Permintaan warga sangat banyak, sehingga kami minta distributor kembali drop sebanyak 700 sak,” sebutnya.

OP Semen ini sendiri dijadwalkan berlangsung selama seminggu atau sampai harga di pasaran normal seperti sebelum gempa. Disdag NTB tidak menginginkan, situasi pascagempa di masyarakat dijadikan alibi oleh oknum pengusaha untuk menarik keuntungan bisnis secara tidak wajar.

Terpisah, Kadis Perindagkop Lombok Utara, Drs. H. Raden Nurjati, mengaku bersyukur adanya OP semen. Menurutnya, OP ini sangat membantu percepatan RTG serta menstabilkan harga semen.

“Kita berharap OP ini tidak hanya dilakukan di Tanjung, tapi digelar di tiap kecamatan, sehingga semen murah ini bisa dijangkau masyarakat pedalaman,” sebut Nurjati. (ari)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.