Gubernur Berharap Perusahaan Mitra Naikkan Pembelian Tembakau

Gubernur NTB H. Zulkieflimansyah menyaksikan pembelian tembakau petani oleh perusahaan mitra di Terara Lotim, Senin (14/10). (Suara NTB/Humas Setda NTB)

Selong (Suara NTB) – Gubernur NTB Dr. H Zulkieflimansyah menyaksikan pembelian tembakau petani oleh PT. Bentoel Group di Jalan Raya Terara KM.36  Lombok Timur (Lotim) Senin, 14 Oktober 2019. Gubernur memuji PT. Bentoel yang menaikkan pembelian dari 9.000 ton menjadi 9.500 ton.

“Alhamdulillah dengan komunikasi yang baik, Bentoel yang tadinya hanya membeli 9.000 ton naik jadi 9500 ton! Mudah-mudahan dunia usaha yang lain membuka ruang seperti Bentoel untuk menaikkan pembeliannya, sehingga tembakau kita bisa diserap sepenuhnya,” kata Gubernur melalui akun media sosial Facebooknya ; Bang Zul Zulkieflimansyah.

Gubernur mengatakan, para petani tembakau yang menjadi mitra dunia usaha relatif tidak memiliki masalah dalam menjual hasil panennya. Mereka mendapat bimbingan mulai dari proses penanaman sampai dengan panen. Namun yang menjadi masalah adalah para petani tembakau yang non mitra usaha.

“Yang  jadi masalah petani di luar mitra dunia usaha. Kalau harga bagus dan melonjak ya untung besar. Kalau harga turun seperti sekarang ya jadi sangat bermasalah.Ke depan, di tengah kelesuan industri rokok, petani mesti memikirkan untuk serius menjadi mitra dunia usaha agar ada kepastian

harga dan pembelian,” kata gubernur.

Menyikapi kondisi ini, Wakil Bupati Lombok Timur (Lotim), H. Rumaksi Sjamsuddin menyarankan untuk dilakukan perbaikan regulasi terkait tata niaga pertembakauan. Menurutnya, sesuai Peraturan Daerah Provinsi MTB dan Peraturan Gubernur terkait Tata Niaga dan Budaya Tembakau Virginia terdapat kewajiban dari perusahaan mitra untuk membeli 20 persen dari petani swadaya.

Meski demikian, ujarnya, para perusahaan mitra ini pasti akan prioritaskan petani binaannya. Namun, perusahaan juga perlu memperhatikan petani swadaya. “Kita perlu pikirkan nasib petani swadaya, karenanya kita minta supaya Perda dan Pergub ini direvisi,” ungkap wabup.

Rumaksi yang juga Ketua Dewan Pimpinan Provinsi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) NTB ini menilai perlu aturan lebih jelas lagi soal tembakau. Harus ada kepastian produksi tembakau virginia petani swadaya ini benar benar terbeli. “Bagaimana caranya, Pergub dan Perda itulah yang hatus direvisi,” ungkapnya.

Presiden Komisaris Independen Bentoel Group, Hendro Martowardojo menegaskan, jika pihaknya tetap membeli tembakau. Pada tahun 2019 ini Bentoel membeli sekitar 9 ribu ton tembakau virginia dari 1.226 mitranya. Program kemitraan yang dilakoni Bentoel ini diklaim mampu memberikan margin keuntungan 15 sampai dengan 25 persen bagi petani. (rus)