Kembangkan Ekonomi Lokal, RIF Kembangkan Agropolitan Jago Kala di Dompu

Acara Kick Off RIF Dompu yang menyajikan sosialisasi RIF, dan diskusi intrekatif di gedung Dharma Wanita Kabupaten Dompu, Kamis, 26 September 2019.(Suara NTB/ula)

Dompu (Suara NTB) – Responsive Innovative Fund (RIF) atau Dana Responsif Inovatif yang menjadi program kemitraan Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Kanada, akan mengembangkan agropolitan Jago Kala di Kabupaten Dompu. Kecamatan Kilo dan Manggelewa akan menjadi wilayah binaan dalam mengembangkan jagung dan limbahnya bagi pengembangan ekonomi lokal.

Kick Off (sosialisasi) program RIF kepada stakeholder serta masyarakat dari perwakilan kecamatan Manggelewa dan Kilo di gedung Dharma Wanita Dompu, Kamis, 26 September 2019 sebagai tindak lanjut dimulainya pelaksanaan program. Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Bupati Dompu, Drs H Bambang M Yasin yang diwakili oleh Asisten Pembangunan dan Kesra Setda Dompu, Ir H Moh Rasyidin Suryadi, MSI ini juga dihadiri oleh koordinator RIF wilayah NTB, Dian Anggreini. Hadir juga Dr H Kadri dari Nusatenggara Centre Mataram NTB yang juga dosen UIN Mataram selaku pembicara saat talkshow.

Bupati Dompu, dalam sambutan tertulisnya menyampaikan apresiasinya karena dipilihnya Kabupaten Dompu dengan usulan inovasi daerah bertema “Agropolitan Jago Kala di Kilo dan Manggalewa” sebagai salah satu dari 6 Kabupaten di Indonesia yang menerima hibah pelaksanaan program pengembangan ekonomi lokal dalam skema RIF tahap II 2019 – 2020. Program ini merupakan bagian dari proyek NSLIC / NSELRED, sebagai bentuk kemitraan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/BAPPENAS dan Pemerintah Kanada melalui Global Affairs Canada (GAC). Kegiatannya berupa pendampingan teknis (technical assistances) pengembangan kawasan Manggelewa dan Kilo. “MoU –nya telah ditandatangani Bupati tanggal 25 April 2019 lalu di Jakarta,” kata H Rasyidin.

Acara Kick Off RIF Dompu yang menyajikan sosialisasi RIF, dan diskusi intrekatif di gedung Dharma Wanita Kabupaten Dompu, Kamis, 26 September 2019.(Suara NTB/ula)

Program RIF – NSLIC/NSELRED dirancang sebagai dukungan teknis pembangunan bagi 18 Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional (KPPN) melalui seleksi dari 60 KPPN yang merupakan hinterland dari 39 Pusat Pertumbuhan Peningkatan Keterkaitan Kota – Desa sebagai salah satu sasaran pembangunan wilayah pada RPJMN 2015–2019 maupun 2020-2024. Sebagai komponen dari proyek NSLIC/NSELRED yang dikelola oleh Cowater Sogema International, program RIF senilai Rp.18 miliar berlangsung untuk 18 wilayah KPPN. “Kabupaten Dompu merupakan daerah kedua di NTB yang menerima program RIF. Pada tahap pertama itu Kabupaten Lombok Timur,” ungkapnya.

Koordinator RIF Provinsi NTB, Dian Anggreini dalam pemaparannya mengungkapkan, program RIF tahap kedua ini ada 70 usulan proposal yang diterima dan hanya 6 daerah yang dipilih termasuk Kabupaten Dompu. Dompu mengajukan ‘Agropolitan Jago Kala

di Kilo dan Manggelewa dalam usulan inovasinya. Dipilihnya usulan Dompu membuat RIF kedepan akan fokus melakukan pengembangan agar jagung tidak hanya dijual pipilan, serta limbahnya berupa tongkol, batang dan daun jagung bisa diolah bernilai ekonomis. “Untuk Kabupaten Dompu programnya fokus pada jagung. Kalau selama ini hanya bongkol dan menjual jagung pipilan, tapi kedepan tongkol, batang dan daun jagung bisa bernilai manfaat,” katanya.

Dalam pelaksanaan program RIF, Pemerintah Kabupaten Dompu beserta pemangku kepentingan dan masyarakat petani lainnya diharapkan bisa menciptakan inovasi pembangunan ekonomi daerah yang ramah lingkungan, responsif gender serta bertata kelola yang baik. Pada akhirnya, program RIF diharapkan dapat menstimulasi dan mendorong inovasi pembangunan ekonomi lokal dan meningkatkan iklim investasi melalui pendekatan – pendekatan inovatif untuk pengembangan produk unggulan daerah yang mendorong laju sektor ekonomi.

Sebelumnya, program RIF tahap pertama yang dilaksanakan mulai Maret 2018 hingga April 2019 telah menghasilkan banyak kemajuan yang membanggakan. Sekitar 6.105 penerima manfaat program RIF tahap pertama meliputi pemerintah, sektor swasta, akademisi, lembaga penelitian, komunitas dan kelompok masyarakat telah mendapatkan pendampingan melalui 209 pelatihan dan dukungan teknis untuk pengembangan kapasitas kelembagaan, pengembangan produk, ekspansi pasar dan penciptaan lapangan kerja yang adil bagi laki-laki dan perempuan.

Pengembangan ekonomi lokal berbasis produk-produk unggulan daerah baik di sektor pertanian seperti nira, kopi, salak, kelapa, sagu, jagung, beras organik dan pupuk organik. Sektor Perikanan Kelautan seperti kan olahan, terasi, kerupuk dan rumput laut; serta sektor Pariwisata dan Kerajinan juga telah membuka peluang kerja bagi setidaknya 2.929 orang.

Acara berkonsep Kick Off RIF Dompu ini menyajikan sosialisasi RIF, diskusi intrekatif, pembelajaran, serta penayangan video before – after hasil kemajuan RIF tahap pertama sebagai sarana sharing dan review bersama. Acara ini diharapkan dapat membantu sosialisasi inovasi daerah dan pemetaan kebijakan dan peluang kontribusi para pihak di tingkat kabupaten hingga desa untuk kesuksesan pelaksanaan pengembangan ekonomi lokal dan peningkatan iklim investasi yang akan mendorong pembangunan daerah Dompu secara berkelanjutan.

Sementara Dr H Kadri dari Nusatenggara Centre Mataram NTB yang menjadi salah satu pembicara memaparkan soal pembangunan kawasan terintegrasi dan berwawasan lingkungan. Ia mencontohkan di beberapa daerah yang berhasil menumbuhkan kesadaran masyarakat, termasuk di antaranya Kampasi Meci Kecamatan Manggelewa yang bisa mengembangkan kawasan hutan yang sebelumnya ditanami jagung untuk tanaman buah – buahan sebagai bagian dari program agrowisata. Karena program pengembangan jagung yang digalakkan selama ini sudah mulai bersinggungan dengan wilayah hutan dan dampaknya mulai dirasakan masyarakat berupa ancaman kekeringan dan bencana banjir. (ula/*)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.