Kemenperin Dukung Usulan Penetapan Kawasan Industri di KSB

Zakiyudin (Suara NTB/nas)

Mataram (Suara NTB) – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendukung usulan penetapan kawasan industri di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Pemprov sedang menyiapkan usulan penetapan kawasan industri di lokasi yang akan menjadi tempat pembangunan smelter dan industri turunannya di KSB.

Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Permesinan Kemenperin, Ir. Zakiyudin, MA., mengatakan pemerintah pusat sedang mendorong pengembangan kawasan industri di luar Pulau Jawa.

“Saya rasa, kalau sesuai hasil kajian memenuhi syarat, maka memungkinkan jadi kawasan industri. Karena pendirian kawasan industri memang didorong ke luar Pulau Jawa. Penciptaan industrialisasi melalui Kawasan Industri,” kata Zakiyudin dikonfirmasi di Kantor Gubernur NTB, Jumat, 20 September 2019.

Ia menjelaskan sebuah kawasan akan dibangun menjadi kawasan industri, tentunya diawali dengan sebuah kajian. Misalnya terkait dengan kesesuaian tata ruang dan peruntukan ruangnya. Apakah sesuai untuk kawasan peruntukan industri (KPI).

Baca juga:  Pelaku Industri Difasilitasi Supaya “Naik Kelas”

“Kemudian di dalam KPI, dia harus masuk lagi kawasan industri. Jadi persyaratan-persyaratan dilihat adalah kesiapan lahan, infrastruktur sumber air. Kemudian persyaratan seperti pelabuhan, bandara dan sebagainya,” tuturnya.

Apabila seluruh persyaratan-persyaratan tersebut terpenuhi, kata Zakiyudin, maka pusat akan mendorong dan memberikan support. Seperti diketahui, Pemprov NTB melakukan percepatan penetapan lokasi pembangunan smelter dan industri turunannya menjadi kawasan industri.  Usulan menjadi kawasan industri akan diajukan ke pemerintah pusat yakni Kementerian Perindustrian (Kemenperin).

Pembangunan smelter dan industri turunannya akan dibangun pada lahan seluas 850 – 1.200 hektare.  Karena luas lahannya berada di atas 400 hektare, maka kawasan pembangunan smelter dan industri turunan tersebut harus ditetetapkan menjadi Kawasan Industri (KI). Regulasi yang mengatur yakni PP No. 142 Tahun 2015 tentang kawasan industri. Sehingga proses pembahasan amdal pembangunan smelter dan industri turunan mengacu pada aturan tersebut.

Baca juga:  Pimpin Rakor, Gubernur Minta Komitmen OPD Percepat Industrialiasi di NTB

Diketahui, PT. AMNT berencana membangun smelter dengan kapasitas 2,6 juta ton konsentrat per tahun. Selain smelter, rencananya akan diikuti pembangunan industri turunan, seperti pabrik semen, pupuk, kabel dan lainnya.

Saat ini proses pengembangan sudah dalam tahapan Front End Engineering Design (FEED) yang dilakukan bersama Outotec sebagai salah satu teknologi provider terdepan dalam industri smelting dan refining.

Fasilitas peleburan dan pemurnian emas dan tembaga dengan kapasitas 1,3 juta ton konsentrat tersebut dibangun di KSB, direncanakan awal 2020 sudah mulai konstruksi. Ditargetkan pertengahan 2022, smelter tersebut sudah selesai dibangun. (nas)