Butuh Insentif untuk Pengusaha

I Made Ariana - Lalu Hery Prihatin (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Serapan tenaga kerja di sektor pariwisata menyumbang kontribusi lapangan kerja. Namun, dinamika sektor usaha tidak akan stabil apabila kualitas tenaga kerja tidak terjaga. Lapangan kerja pun akan berfluktuasi.

Ketua Jaringan Pengusaha Nasional NTB I Made Ariana menyebut bahwa pembukaan usaha baru yang mulai banyak dirintis membuka lapangan kerja baru. “Pariwisata hari ini sangat kita harapkan jadi tulang punggung,’’ jelasnya dalam Diskusi Terbatas Harian Suara NTB dengan tema “Investasi dan Pengentasan Kemiskinan” yang digelar di Ruang Redaksi Harian Suara NTB, Kamis (12/9).

Insentif pemerintah daerah kepada pengusaha, imbuh dia, menjadi kunci saling menjaga iklim usaha jasa pariwisata. Menurutnya, pengusaha baru yang punya peluang membuka lapangan kerja juga rentan dengan risiko-risiko ekonomi.

Insentif itu tak mesti langsung. Juga bisa berupa eksplorasi pengembangan destinasi wisata. Bukan cuma mengandalkan alam tetapi juga wisata atraksi, wisata budaya, atau wisata petualangan.

‘’Destinasi yang banyak pilihan itu okupansi (hotel) tetap terjaga. Di sini kita masih minim. Tempat wisata yang sudah ada masih belum kondusif kondisinya,’’ jelas Ariana.

Penataan destinasi itu dalam pandangannya juga akan berbanding lurus dengan usaha jasa wisata. Imbas positifnya, kebutuhan tenaga kerja meningkat. Tenaga kerja lokal semestinya punya kemampuan bersaing dari sisi keterampilan dan profesionalitasnya. Pemerintah bisa mengambil peran dengan pendidikan dan pelatihan baik formal maupun nonformal.

‘’Karena hampir 70 persen tenaga kerja lokal seperti itu. Kalau ada masalah langsung kabur. Jadi kita ambil tenaga kerja luar. Tapi di satu sisi tenaga kerja luar biayanya tinggi,’’ jelasnya.

Ariana berpendapat bahwa peningkatan ekonomi masyarakat dengan pembukaan akses pekerjaan di sektor makanan dan minuman di daerah wisata. Dia mencontohkan pengeluaran rata-rata wisatawan. Misalnya pengeluaran hotel yang Rp300 ribuan per hari dan kuliner yang sampai Rp500 ribu.

‘’Usaha kuliner itu bisa cukup menjanjikan. Itu harus dikelola dan didukung SDM yang bagus,’’ tandasnya.

Klaster Industri Terintegrasi

 

Kolaborasi swasta, pemerintah, dan masyarakat bisa menjelma sebagai pengurai kemiskinan mujarab. Sektor bisnis dan industri akan kokoh dengan kemurahan hati insentif pemerintah. Ekonomi mudah bergerak mengerek naik masyarakat keluar dari kemiskinan.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) NTB Ir.H.Lalu Hery Prihatin mengatakan, usaha berbagai sektor dapat mudah terdongkrak apabila iklim investasi menyediakan keleluasaan ruang gerak.

‘’Mengurangi angka kemiskinan sebenarnya tidak sulit kalau tepat yang kita lakukan. Contoh ini bahkan tenaga kerja kita sampai butuh dari luar,’’ terangnya.

Hal itu mengindikasikan bahwa kebutuhan tenaga kerja yang tinggi. Namun menjadi ironi ketika masyarakat NTB minim keterampilan dan keahlian untuk mengisi ceruk lapangan kerja dimaksud.

Lapangan pekerjaan yang disediakan industri pertambangan tidak punya umur panjang. Sebab eksploitasi mineral akan habis seiring cadangan produksinya menipis. Sektor andalan NTB seperti pertanian dan pariwisata bukan hanya untuk dilirik tetapi digarap tuntas.

Kolaborasi Industri Pengolahan

 

Hery menjelaskan, hasil pertanian punya potensi besar yang belum digarap maksimal. Pintu masuknya melalui pembukaan industri pengolahan yang juga membuka ruang lapangan pekerjaan.

‘’Kita industrialisasi dalam food and beverages itu sangat bisa. Tidak usah incar pasar ekspor tetapi konsumsi dalam negeri. Kita selama ini salah kaprah,’’ jelasnya.

Sikap pemerintah terhadap pengusaha, imbuh dia, sejauh ini dipandang belum mengakomodasi tujuan utama investasi. Yakni pengusaha perlu diyakinkan dengan potensi keuntungan ekonomi.

Maka, masih kata Hery, industri besar di NTB dibangun dengan tidak lagi memandangnya dalam skala lokal. Namun pemberdayaan regional dengan tujuan pasar nasional.

Industri tersebut dibangun dengan ekosistem yang memungkinkan input dan output yang terukur. Efisiensi produksi akan menghasilkan produk yang punya daya saing kuat.

‘’Kita butuh industri besar, di sini lah kita perlu bangun kolaborasi yang besar mengajak NTT, Sulawesi bahkan sampai Papua. Mereka hasilkan raw materialprocessing industry-nya di sini,’’ cetusnya.

Hery mencatat sekurangnya 1.000 usaha makanan dan minuman dengan pangsa pasar besar di NTB. Maka pola pikirnya NTB harus menjadi produsen dengan tujuan daerah pasok yang potensial berkembang.

‘’Ini dibutuhkan kolaborasi antara kepentingan swasta, kepentingan pemerintah, dan kepentingan masyarakat. Ini tidak bisa ditolak. Buat saja satu industri skala besar untuk konsumsi nasional,’’ sebutnya.

Pola seperti itu, sambung dia, membutuhkan kekuatan integrasi antara rantai suplai, pemrosesan, dan pangsa pasar. Tujuannya menjadi penyuplai kebutuhan konsumsi dalam negeri. Tenaga kerjanya diambil dari lokal ketika kekurangan baru mengambil dari daerah tetangga.

‘’Ini tentang bagaimana kita saling kolaborasi all out demi masyarakat tertampung lapangan kerja, ada income-nya. Kemiskinan hilang, investor juga senang. Ada suatu kepastian mata rantai,’’ papar Hery.

Pada dasarnya, klaim dia, Kadin tidak punya pretensi untuk mencari peluang mengambil dana pemerintah lewat proyek-proyek. Tetapi yang dibutuhkan adalah dukungan pemerintah lewat kebijakan.

‘’Kadin tidak minta uang sepeser pun dari pemerintah. Tapi dukungan adanya cluster integrated industry dengan asuransi, penjamin resiko, dan insentif juga,’’ ungkapnya.

Contohnya insentif biaya pengelolaan lahan pemerintah yang lunak. ‘’Mungkin bayar sewa setelah nanti opening. Jangan baru nongol langsung diminta setor ini yang buat investasi ngadat,’’ beber Hery.

Rancang Pariwisata Kejuaraan Dunia

 

Hery menyebut sektor pariwisata punya kesempatan berkembang sendiri. Namun perlu disusun rencana pengembangan wisata gelaran kompetisi kejuaraan dunia. Hal itu mendiversifikasi wisata andalan agar tidak saling menggerus pariwisata daerah lain.

‘’Itu bisa lebih besar dari apa yang sudah ada. Kalau kita mau bertanding resort dengan Bali, mereka sudah advance. Pariwisata world championship ini yang kita gali,’’ cetusnya.

Dia mengemukakan Bali jadi tujuan wisata kelas dunia dengan dukungan sekitar 200 ribuan kamar hotel. Lombok tembus 10 ribu kamar pun belum. Belum lagi dengan bandara yang landasan pacunya masih perlu ditingkatkan untuk menampung pesawat berbadan lebar. Begitu juga kapasitas pelabuhan.

‘’Ada 200-an championship di dunia yang bisa dibuat agar mereka bisa datang ke sini. Jadi mereka ke sini untuk tantangan selain untuk resort. Jadi kita punya spesial,’’ terangnya.  (why)