Mereka di Ambang Kemiskinan

Hanan, warga Desa Sambik Bangkol Kecamatan Kayangan KLU menjemur kakao di halaman rumahnya yang rusak akibat gempa, sebagai upaya bertahan hidup dan terhindar dari dampak kemiskinan. (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Kondisi perekonomian sebagian korban gempa bumi saat ini masih tertatih tatih. Berusaha bertahan dengan beban hidup dan sulitnya memenuhi kebutuhan dasar. Mereka diambang kemiskinan pascagempa.

—————

Nasib itu kini dirasakan keluarga Ruslan dan Rusmiati, tinggal di Dusun Gertok, Desa Mekarsari, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat. Salah satu potret dari kondisi kehidupan keluarga korban bencana gempa bumi Lombok. Bencana gempa bumi yang meratakan rumah mereka, berdampak pada prekonomian keluarga hingga diambang kemiskinan.

Ruslan yang ditemui Suara NTB  Sabtu, 7 September 2019 masih tinggal di hunian sementara (Huntara) yang terbuat dari bambu dan beratapkan terpal sederhana. Mereka harus rela sementara  sembari berharap hunian tetap (Huntap) yang tak kunjung tuntas.

Dalam kurun waktu satu tahun terakhir pascagempa, Ruslan tidak pernah bekerja. Ia lebih fokus untuk mengurus rumah tempat tinggal mereka yang hancur. “Dari sejak gempa saya belum pernah bekerja, saya bersihkan (puing) rumah yang hancur dan membangun kembali,” tuturnya.

Kehidupan perekonomian keluarga saat ini ditopang oleh Rusmiati yang bekerja sebagai pedagang warung kecil-kecilan di kampung. Namun hasilnya masih jauh untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Dengan hasil pas pasan, Ruslan juga harus membiayai seorang anaknya yang sedang menempuh pendidikan tinggi.

“Pada awal-awal gempa itu, sama sekali tidak ada pemasukan, tidak ada pekerjaan, tapi sekarang ini ibunya jualan ala kadarnya.  Penghasilannya tidak seberapa, dibilang cukup ya tidak cukup, tapi kita cukup-cukupin saja untuk kebutuhan sehari-hari,” tutur Ruslan.

Sementara untuk kebutuhan biaya pendidikan dua anaknya, Ruslan dibantu penuh oleh anak perempuannya yang pertama, yang sudah bekerja di salah satu sekolah swasta di Lombok Tengah.

Lebih jauh dituturkan Ruslan, pada saat terjadi Gempa, ia masih belum lama ada di Rumah. Karena beberapa tahun sebelumnya ia tengah berada di luar negeri, bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Sebagian besar hasil keringatnya bekerja sebagai TKI diperuntukan untuk membangun rumah. Namun semua itu terasa  berakhir. Sisa hasil kerja sebagai TKI yang sengaja ia tabung untuk rencana membangun sebuah kios, tidak tersampaikan, karena bencana gempa datang duluan.

Baca juga:  Kemiskinan Diprediksi Meningkat

“Ya tidak jadi kita bangun kios, uangnya dipakai untuk kehidupan sehari-hari setelah gempa ini dan bangun rumah yang hancur,” kata Ruslan yang mengaku belum mengetahui apakah dia akan kembali lagi bekerja sebagai TKI.

Bantuan pemerintah untuk membangun kembali rumah mereka yang hancur tersebut sebesar Rp 50 juta, dirasakan masih belum cukup. Karena itu, dirinya bersama istri tengah berpikir untuk mencari uang tambahan untuk bisa kembali membangun rumah yang layak dan lebih kuat untuk mereka tempati.

“Bantuan pemerintah untuk hidup sehari-hari itu belum kita terima, kemarin sudah diminta KK (Kartu Kelurga) dan KTP saja. Belum tahu kapan akan ke luar bantuan itu,” ungkapnya.

Sektor Terdampak Gempa

Gempa Bumi yang terjadi di NTB berdampak terhadap berbagai sektor, sektor yang paling terkena dampak dari gempa NTB yaitu sektor pendidikan dan pemukiman. Selain itu juga sektor kesehatan dan sektor pariwisata.

Ketua Lembaga Gema Alam, Haiziah Gazali kepada Suara NTB, menyampaikan, sektor yang paling terkena dampak dari gempa NTB adalah sektor pendidikan dan permukiman. Output kedua sektor tersebut turun masing-masing sebesar 16,79 persen untuk sektor pendidikan dan 14,53 persen untuk sektor permukiman di tahun 2018.

Sektor kesehatan juga mengalami penurunan output sebesar 4.93 persen. Sektor pariwisata yang merupakan salah satu prioritas pembangunan terkena dampak terbesar keempat. Output sektor pariwisata turun hingga 4,89 persen.  Ia menyampaikan, salah satu sektor yang penting untuk diperhatikan dalam hal ini adalah sektor pariwisata. Destinasi- destinasi wisata khususnya di Lombok bagian utara mulai dari Lombok Utara, Lombok Tengah utara, dan Lombok Timur bagian utara mengalami kelumpuhan yang berakibat pada perekonomian masyarakat dan akan memunculkan kemiskinan massal pada masyarakat yang memiliki ketergantungan tinggi.

Baca juga:  Kemiskinan Pascagempa Butuh Intervensi Optimal

Geopark Rinjani yang merupakan salah satu dari Geopark tersebut ditutup setelah terjadinya gempa Lombok dan Sumbawa yang terjadi sejak bulan Juli 2018. Hal ini berdampak pada kunjungan wisatawan dan pendapatan semua aktor pariwisata di Sembalun. Dari jumlah wisatawan pada tahun 2017 berjumlah 39.659 orang wisatawan mancanegara dan 43.120 orang wisatwan domestik yang datang ke Sembalun dapat diakumulasi berapa kerugian penyedia layanan seperti TNGR.

Belum lagi kerugian ekonomi dari aktor lain mulai dari porter, guide, trevel agent, trakking organizer (TO, Ojek), pemilik warung makan, pemilik homestay, pemilik hotel, pemilik café, pengelola rumah adat, pengelola bukit untuk hiking, dan lain-lain merupakan dampak langsung dari penutupan pendakian Rinjani akibat gempa.

Dalam hal ini dilakukan Value Change Analysis (VCA) untuk menemukan rantai nilai dalam beberapa sub-sektor yang ada di Sembalun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data mulai dari wawancara, observasi, studi dokumen, dan dokumentasi.

Haiziah Gazali menyampaikan, hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perubahan yang signifikan terhadap pendapatan masyarakat yang secara langsung bergerak dalam sektor pariwisata di Sembalun. Hitungan kasar menunjukkan masyarakat kehilangan lebih dari 400 triliun selama Sembilan bulan  dari Juli 2018 sampai dengan Agustus 2019. (ndi/ron)