Punya Geopark, NTB Targetkan Peningkatan Ekonomi

Pembukaan Simposium APGN ke 6 di Lombok, ditandai dengan pemukulan gendang beleq, Selasa, 3 September 2019 kemarin. (Suara NTB/humasntb)

Mataram (Suara NTB) – Ditunjuknya Geopark Rinjani sebagai tuan rumah gelaran Asia Pacific Geoparks Network (APGN) ke-6 tahun 2019 diharapkan menjadi awal peningkatan ekonomi dalam bidang tersebut. Hal itu mengikuti prinsip penentuan kawasan geopark sendiri yang mengharuskan adanya proses konservasi, edukasi, serta peningkatan ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE. M.Sc., menerangkan bahwa dipilihnya Lombok menjadi tuan rumah APGN salah satunya memang untuk menghidupkan kembali pariwisata, yang mana secara otomatis dianggap akan meningkatkan ekonomi.

“Ini ada banyak tamu yang datang. Hampir 1.000 orang dari berbagai negara,’’ sebut gubernur yang akrab disapa Dr. Zul tersebut, Selasa, 3 September 2019 seusai pembukaan Simposium APGN di Mataram.

Selain itu, gelaran APGN juga menjadi momentum sosialisasi pemahaman konservasi dan edukasi bagi generasi muda. Menurut Dr. Zul, pemahaman tentang apa itu geopark perlu dimatangkan dengan baik, salah satunya untuk mendukung pembangunan yang berkesinambungan.

Terkait pengembangan ekonomi melalui Geopark Rinjani, gubernur menekankan bahwa pengembangan geopark berarti pengembangan geo-tourism yang efeknya akan mempengaruhi ekonomi lokal dan produksi komoditas lokal yang berhubungan dengan warisan budaya. ‘’Geopark itu bukan hanya mendaki gunung. Tapi bagaimana mengembangkan geo-tourism,’’ jelasnya.

Baca juga:  Kapolda NTB Jamin Keamanan Geopark Rinjani

Senada dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (Menko Maritim) melalui Deputi IV Bidang Koordinasi SDM, Iptek dan Budaya Maritim, Safri Burhanuddin, yang turut hadir dalam pembukaan simposium APGN 2019 mengatakan bahwa seluruh kawasan yang masuk dalam UNESCO Global Geopark (UGG) telah masuk dalam perencanaan nasional di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

‘’UGG itu menjadi perhatian Bappenas untuk ikut mendukung memberikan kontribusi langsung,’’ ujar Burhanuddin. Dengan begitu, pembangunan komunitas pengembangan kawasan konservasi diharapkan dapat terwujud lebih cepat.

Diterangkan Burhanuddin, dengan menyandang predikat sebagai geopark, suatu kawasan secara otomatis akan mendapatkan tambahan anggaran untuk pengembangan. Walaupun begitu, ditekankan bahwa anggaran yang dimaksud tidak selamanya berarti kucuran dana. Melainkan bisa juga dalam bentuk bantuan sosialisasi serta dukungan dalam penyusunan kegiatan bersekala internasional seperti APGN. ‘’Event (seperti) seperti ini kan tidak akan berdiri sendiri. Pusat (pasti) ikut membantu,’’ pungkasnya.

Baca juga:  Kawasan Geopark Rinjani dan Tambora Terbakar

Dikonfirmasi terpisah, ahli kehormatan geowisata Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Heryadi Rachmat, menekankan bahwa tiga prinsip penentuan geopark memang harus dipenuhi, terutama oleh pemerintah. Dicontohkannya seperti konservasi, di mana pemerintah harus benar-benar menjamin kelestarian flora dan fauna yang ada di dalam kawasan geopark. ‘’Kalau itu hilang, nilai destinasi itu berkurang. Sehingga konservasi penting sekali,’’ ujarnya.

Selain itu, edukasi juga penting dilakukan untuk memberikan informasi yang cukup terkait kekayaan geopark. Disebutkan Heryadi, edukasi bisa dilakukan melalui pemasangan papan informasi dengan syarat info-grafik harus bisa dimengerti oleh anak sekolah menengah pertama (SMP). “Jangan hanya bisa dipahami oleh mahasiswa atau SMA.  Harus SMP,’’ tegasnya.

Terkait peningkatan ekonomi melalui kawasan geopark Heryadi menekankan sasarannya haruslah masyarakat lokal. ‘’Bukan masyarakat pendatang. Yang menikmati itu adalah harus masyarakat setempat,’’ ujarnya. Dengan begitu, pengembangan konsep geo-wisata diharapkan akan memunculkan ekonomi kreatif seperti pemandu wisata, porter, produksi cinderamata, kuliner dan penginapan yang keseluruhannya dilakukan oleh masyarakat lokal. (bay)