Kopi Janji Jiwa: Dari Kegelisahan Q Grader

Mataram (Suara NTB) – Ngopi sudah menjadi tren saat ini. Segala macam branding dilakukan pengusaha kopi supaya laris di tengah penikmat kopi. “Janji jiwa” namanya, berawal dari kegelisahan Didi Kurniawan. Ia membuat brand kopi dengan nama Janji Jiwa untuk sebuah kopi.

Kegelisahan memang tidak selalu berakhir negatif, sama halnya dengan founder Janji Jiwa, Didi Kurniawan. Pria asal Jakarta itu mengawali bisnis kopi karena kegelisahannya sebagai seorang yang visioner di bidang kopi. Pria yang pernah mengambil posisi sebagai Q Grader atau sering disebut speciality coffee tersebut sebelumnya tidak pernah berniat membuat brand dengan “Janji Jiwa”. Berkat kegelisahannya, maka ia menepati kegelisahan jiwanya.

Salah satu staf trainer PT Runa Boganarayan, Geraldo Bahana, mengatakan, “Janji Jiwa” ini tersebar dari daerah Medan  hingga Papua. “Setelah Didi Kurniawan keluar dari kafe shop itu, dia sudah berjanji akan menepati janji jiwanya suatu saat akan membuat kopi itu yang produk kopi dengan brand “Janji Jiwa” dengan harga yang sangat terjangkau,” kata Geral, sapaannya, Minggu, 1 September 2019 saat ditemui Suara NTB di Lombok Epicentrum Mall.

Sekarang ini lanjut Geral, pria asal Yogyakarta ini, tren ngopi lagi naik. Setiap kopi susu itu pasti mempunyai signature masing-masing. “Kopi susu kita ini (JanjiJiwa) memakai gula aren dengan kopi Robusta full 100 persen kopi dicampur es. Jadi tidak akan menghilangkan khas kopinya,” ujarnya.

Menurut Geral, pengusaha kopi di Lombok perlu dikembangkan. Karena, dalam beberapa tahun terakhir, produksi kopi lokal di daerah Lombok belum banyak yang sampai Nasional. “Dari kita sendiri sangat menyayangkan akah hal itu. Tapi  dalam beberapa waktu ke depan,  kita kemungkinan akan bekerjasama dengan petani kopi yang ada di Lombok. Mudah-mudahan saja,” ujar Geral.

Selama dua hari di Lombok, Geral sudah mencoba kopi hitam asal Senaru, Lombok Utara. “Memang rasanya khas. Tapi untuk saat ini kan, kalau masyarakat ngopi itu, biasanya kopi susu campur es dan pakai aren. Saat ini Janji Jiwa sedang mengembangkan kopi susu arabika dengan brand kita “Janji Jiwa”. Karena karakternya lebih strong juga, rasa kopinya tidak terlalu kuat, ada manisnya juga dari susu dan kopi itu jadi satu,” kata Geral.

Menurut Geral, masyarakat saat ini memiliki kesan prestise jika ngopi di mal dan kafe. Padahal kata Geral, ngopi itu tergantung selera masyaraka. “Janji Jiwa sendiri menarif harga yang pas di kantong masyarakat lokal. Harga kopi kita sangat terjangkaulah, sangat ekonomis Rp15.000 hingga Rp30.000,” katanya.

Saat ini brand “Janji Jiwa” akan merambah ke pasar anak milenial dengan bekerjasama dengan Go-Jek dan Grab. “Kita tahu anak muda kita sekarang banyak yang suka pesan makanan atau minuman via smartphonenya. Kita akan coba kerjasama dengan Go-jek dan Grab. Sekarang ini sedang on proses,” tutup Geral. (viq)