Masyarakat Dompu Tak Menikmati Kehadiran Pabrik Gula

Hj. Sri Suzana (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Kehadiran pabrik gula milik PT. Sukses Mantap Sejahtera (SMS) di Kecamatan Pekat Kabupaten Dompu belum dirasakan masyarakat sekitar. Meski ada perusahaan yang sudah memproduksi gula.

Tetapi harga gula di Dompu jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah. Pemerintah menetapkan HET gula sebesar Rp12.500 per Kg. Tetapi di Dompu, harga gula mencapai Rp14.000 per Kg.

“Kita ini ibaratnya mati di lumbung padi. Dalam arti, HET gula ini Rp12.500 per Kg. Tetapi faktanya harga gula di sana (Dompu)  Rp14.000,” ungkap Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Diperindag) Dompu, Hj. Sri Suzana dikonfirmasi Suara NTB di Mataram, Kamis, 29 Agustus 2019.

Mahalnya harga gula di Dompu karena tidak ada distributor di daerah tersebut. Gula yang diproduksi PT. SMS dibawa ke Bima, baru kemudian didistribusikan ke daerah Dompu.

Suzana menjelaskan PT. SMS tidak menjual gula secara eceran. Tetaapi mereka menjualnya kepada distributor, karena distributor gula tidak ada di Dompu. Maka gula yang diproduksi dibawa dulu ke Bima.  “Belum ada orang Dompu jadi distributor gula. Orang Bima jadi distributor. Itulah perjalanannya, ceritanya seperti itu,” tuturnya.

Baca juga:  19 Jenis Mesin Industri Diuji SNI

Karena menjadi daerah tempat beroperasinya pabrik gula, kata Suzana, pihaknya berharap harga gula bisa di bawah HET atau Rp10.000 per Kg. Tetapi harapan tersebut tidak bisa terwujud. Ia menceritakan, pernah meminta PT. SMS ikut operasi pasar dengan harapan harga gula bisa turun menjadi Rp10.000 per Kg. Tetapi perusahaan mengatakan mereka tidak punya gula.

Persoalan yang dihadapi pabrik gula yang ada di Dompu, kata Suzana, terbatasnya bahan baku tebu. Luas areal tanaman tebu yang ada di sana hanya sekitar 6.000 hektare. Kapasitas produksi pabrik gula tersebut jauh di atas luas areal tanaman tebu yang ada.

Disebutkan, dalam setahun atau 360 hari, pabrik gula membutuhkan areal tanaman tebu seluas 1.800 hektare. Dengan luas areal tanam 6.000 hektare yang ada saat ini, produksi gula hanya bisa untuk 120 hari. Karena kapasitas produksinya 3.000 ton per hari.

Karena kurangnya bahan baku akibat areal tanam yang terbatas. Maka perusahaan mendatangkan bahan baku yang diimpor dari Thailand. Disebutkan, bahan baku gula yang didatangkan dari Thailand sekitar 60.000 ton sampai tahun 2018.

Baca juga:  Bima akan Jadi Pusat Kayu Putih Nasional

Kemungkinan impor bahan baku ini akan berlanjut pada 2019 ini. Pasalnya, hampir sebagian petani tebu beralih menanam jagung. Petani menganggap tanaman jagung lebih menjanjikan dibandingkan tanaman tebu.

Karena petani tidak menunggu lama untuk panen jagung. Mereka hanya menunggu sekitar empat bulan. Sementara untuk tanaman tebu, petani menunggu sampai delapan bulan baru bisa panen. Namun demikian, satu kali menanam tebu, kata Suzana, petani bisa panen sampai empat kali.

“Namanya masyarakat ingin cepat pegang duit. Padahal sekali tanam empat kali panen. Bisa memetik hasilnya empat kali panen. Dan dalam satu hektare hasilnya 60 ton tebu,” sebutnya.

Untuk kesinambungan pabrik tebu yang ada di Dompu. Pihaknya berharap ada sinergi dengan kabupaten terdekat seperti Bima dan Sumbawa. Areal tanam tebu diharapkan dapat dikembangkan di Sumbawa dan Bima untuk memasok kebutuhan bahan baku PT. SMS. (nas)