Investor Paparkan Rencana Penataan Pasar Kebon Roek

Pasar Kebon Roek (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – PT. Nolimax Jaya memaparkan rencana pengelolaan Pasar Kebon Roek. Konsepnya menjadikan pasar tradisional bersih dan nyaman. Deposito uang di bank daerah sebagai jaminan untuk keseriusan pengusaha tak dibahas.

Pemaparan rencana penataan Pasar Kebon Roek digelar tertutup di ruang kerja Sekretaris Daerah, Senin, 26 Agustus 2019. Rapat dipimpin Sekda Kota Mataram, Dr. H. Effendi Eko Saswito didampingi Kepala Badan Keuangan Daerah, H. M. Syakirin Hukmi, Kepala Dinas Perdagangan, H. Amran M. Amin, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Irwan Rahadi, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Miftahurrahman, Inspektur Inspektorat, Lalu Alwan Basri dan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Cokorda Sudira Muliarsa serta Direksi PT. Nolimax Jaya.

Sekda menjelaskan, PT. Nolimax Jaya asal Jakarta memaparkan konsep atau rencana pembangunan pasar baru Kebon Roek. Ekspose ini sebagai tawaran konsep yang akan dikerjasamakan dengan Pemkot Mataram. Dengan beberapa satuan organisasi perangkat daerah yang nantinya akan dilihat kesesuaian dengan kebutuhan relokasi baik mencakup kebutuhan pedagang maupun kebutuhan lahannya. “Nanti itu yang akan kami kaji,” kata Sekda ditemui, Senin, 26 Agustus 2019.

Dari hasil kajian itu akan disampaikan ke kepala daerah, apakah akan dikerjasamakan atau tidak. Pun, dikerjasamakan jadi bahan pertimbangan untuk melaksanakan beauty contest. Penataan Pasar

Kebon Roek akan dibuka bagi siapa saja yang berminat mengelola salah satu pasar tradisioanl terbesar tersebut. Sampai saat ini, baru PT. Nolimax Jaya yang menawarkan diri mengelola pasar tersebut.

“Mungkin setelah kita umumkan ada lagi yang berminat,” katanya.

Pengelolaan pasar ini tetap mengadopsi pasar tradisional karena menampung pedagang yang ada. Tetapi konsepnya lebih tertata, rapi dan bersih. Pembiayaan penataan pasar ditanggung oleh investor. Tetapi tidak disebutkan berapa anggaran dibutuhkan untuk mendesain Pasar Kebon Roek dengan pola pengelolaan secara modern.

Sekda menambahkan, penataan ini disesuaikan dengan kesesuaian lahan. Karena, lahan milik Pemkot Mataram cukup banyak. Akan tetapi, ini disesuaikan dengan ketentuan peraturan daerah tentang rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kota Mataram.

“Luas lahan kita sekitar 3 hektar. Sebenarnya yang dibutuhkan itu sangat banyak. Tetapi harus disesuaikan dengan ketentuan RTRW,”sebutnya.

Dalam ekspose tersebut, Pemkot Mataram tidak membahas jaminan berupa deposito uang di bank daerah sebagai bentuk komitmen investor berinvestasi di Kota Mataram. Eko mengaku, Pemkot Mataram lebih luwes asal tidak seperti dengan investor lainnya yang memberikan harapan palsu.

Skema pembiayaan Pasar Kebon Roek baik melalui anggaran pendapatan dan belanja daerah maupun anggaran pendapatan dan belanja negara belum diterima. Padahal, anggaran revitalisasi senilai Rp 90 miliar telah diajukan ke pemerintah pusat. (cem)