NTB Usulkan CAS ke Kemendag, Antisipasi Pasokan Komoditas Horti pada Pelaksanan MotoGP

Hj. Selly menunjukkan bawang merah lokal, salah satu komoditas hortikultura yang dapat diawetkan dengan CAS (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB melalui Dinas Perdagangan mengusulkan permintaan CAS (controlled atmosphere storage) kepada Kementerian Perdagangan. Guna mengantisipasi kebutuhan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Terutama saat pelaksanaan MotoGP 2021 mendatang.

Hal ini disinggung Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Dra. Hj. Putu Selly Andayani di Mataram, Kamis, 22 Agustus 2019. CAS diketahui merupakan sistem yang mengkombinasikan teknologi pendingin dengan teknologi pengkondisian udara (O2, CO2, N2, Ethylene dan RH), atau sebagai alat penyimpan produk komoditi hortikultura dalam jangka waktu yang lebih panjang dari metode konvensional. Mesin CAS dapat mengawetkan berbagai komoditas seperti bawang merah, cabai, buah-buahan, sayuran dan lainnya hingga 3 sampai 6 bulan.

“Jangan sampai saat pelaksanaan MotoGP nanti, ketersediaan stok komoditas horti kita tidak stabil,” kata Hj. Selly. Persoalan yang paling nampak di NTB, terjadinya fluktuasi harga komoditas hortikultura. Saat panen, harga anjlok. Saat sedang tidak musim, harganya naik signifikan. Contoh saja, cabai, bawang, termasuk tomat.

Hj. Selly mengatakan, solusi untuk mengakhiri persoalan ini adalah CAS. Fluktuasi harga tidak saja merusak tatanan pasar. Dampaknya juga dirasakan para petani. Ketika musim panen, petani tak bisa menikmati harga tinggi. Saat musim kurang produksi, yang lebih banyak menikmati keuntungan justru tengkulak.

CAS memiliki kapasitas tampung hingga 100 ton. Dapat menampung komoditas hortukultura berumur pendek pascapanen. Misalnya bawang merah, atau cabai dan sayuran yang paling dominan di NTB mempengaruhi inflasi. Pemanfaatan CAS ini mirip resi gudang. Petani dapat menitipkan hasil produksinya saat panen melimpah. Penjualan dilakukan saat harga sedang stabil, atau tinggi. Selama penyimpanan, petani dapat diberikan pinjaman oleh perbankan, dikembalikan saat dilakukan penjualan.

“Tidak ada istilah rugi, kalau kita punya CAS ini. Petani di untungkan. Ketersediaan stok juga terjaga,” imbuhnya. Pengadaan CAS dilakukan di kabupaten/kota. Dinas Perdagangan provinsi, kata kepala dinas hanya memfasilitasi pengajuan permintaan ke pusat. Hal itu sudah dilakukan. Hanya saja, untuk tahun 2020, anggaran negara telah terkunci. Pemerintah pusat memberi peluang pengadaan CAS pada 2021 mendatang. Satu unit, harganya mencapai belasan miliar. Cara kerjanya, mengatur suhu yang dibutukan. Sehingga komoditas akan terlihat baru usai dipetik. Kendati sudah dipanen berbulan-bulan sebelumnya.

CAS ini juga menjanjikan untuk ekspor komoditas hortikultura dari NTB. Pada Juni 2019, daya yang diterima dari otoritas bandara di Lombok. Ekspor cabai rawit NTB ke Batam dan Tanjung Pinang mencapai 135 ton. Artinya, saat panen petani tak tergesa-gesa menjual hasil produksinya. Dapat disimpan. Dan saat harga tinggi, ekspor dapat dilakukan. (bul)