Ekonomi NTB Membaik

Ilustrasi aktivitas ekonomi masyarakat NTB. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Ekonomi Provinsi NTB mengalami pertumbuhan positif. Sektor konstruksi memberi kontribusi tertinggi. Diantaranya termasuk pembangunan rumah tahan gempa.

Demikian diungkapkan, Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik, I Gusti Lanang Putra, dan Kepala Bidang Statistik Sosial, Arrief Chandra Setiawan dalam rilis yang disampaikan di Kantor BPS Provinsi NTB, Senin, 5 Agustus 2019 kemarin.

Ekonomi Provinsi NTB pada triwulan II-2019 dibandingkan triwulan II-2018 (y on y) tumbuh 3,14 persen. Pertumbuhan tersebut didukung oleh berbagai kategori lapangan  usaha. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Kategori Konstruksi sebesar 11,13 persen, diikuti  Kategori Administrasi Pemerintahan. Kemudian Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 8,18  persen dan Kategori Jasa Pendidikan sebesar 7,97 persen. Adapun pertumbuhan ekonomi  tanpa pertambangan bijih logam pada triwulan II-2019 (y on y) tumbuh sebesar 5,35 persen.

Pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB triwulan II-2019 terhadap triwulan I-2019  diwarnai faktor musiman pada kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang tumbuh  mencapai 13,34 persen. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada kategori Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 22,91 persen; kemudian kategori Konstruksi sebesar 17,19  persen, selanjutnya kategori Transportasi dan Pergudangan sebesar 14,26 persen.

Dari seluruh kategori lapangan usaha, hanya tiga kategori yang mengalami kontraksi yaitu kategori Pertambangan dan Penggalian, Kategori Jasa Keuangan dan Asuransi, dan kategori jasa lainnya. Kontraksi pertumbuhan terdalam dialami oleh kategori Pertambangan dan Penggalian yang mencapai – 19,19 persen.

 “Dengan berbagai kondisi tersebut, ekonomi Provinsi NTB pada triwulan II-2019 (q to q) mampu tumbuh 5,66 persen. Ini menunjukkan pemulihan ekonomi pasca gempa di Provinsi NTB secara bertahap menunjukkan progres yang positif. Adapun pertumbuhan ekonomi tanpa pertambangan bijih logam pada triwulan II-2019 (q on q) sebesar 10,03  persen,” demikian Lanang.

Optimism pertumbbuhan ekonomi NTB ini juga dikuatkan oleh Bank Indonesia. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Achris Sarwani memaparkan. Pasca bencana gempa bumi yang di bulan Juli – Agustus 2018 lalu, kondisi ekonomi NTB mulai pulih.

Baca juga:  Ekonomi NTB Tumbuh 6,26 Persen, Wagub Ingatkan Jangan Lengah

Pemulihan tersebut tercermin dari pertumbuhan ekonomi NTB yang menunjukkan tren peningkatan hingga tumbuh positif sebesar 2,12% (yoy) pada triwulan I 2019. Positifnya pertumbuhan ekonomi NTB terutama ditopang oleh kinerja lapangan usaha konstruksi yang tumbuh tinggi sejalan dengan berlangsungnya pembanguan hunian tetap dan sejumlah proyek infrastruktur di Provinsi NTB. Namun demikian, pertumbuhan lebih tinggi tertahan oleh kinerja lapangan usaha pertanian yang tumbuh terbatas pada triwulan I 2019 yang disebabkan oleh bergesernya masa panen yakni di triwulan II 2019.

Kedepan, ekonomi NTB diperkirakan masih akan tumbuh positif dengan didukung oleh LU (Lahan Usaha) pertanian

yang bertepatan dengan masa panen raya di triwulan II 2019, LU konstruksi sejalan dengan progress pembangunan huntap yang masih berjalan, dan LU Perdagangan yang didorong oleh peningkatan permintaan masyarakat menjelang perayaan HBKN Idul Fitri dan libur panjang.

Di sisi lain, kata Achris, indikasi peningkatan aktivitas ekonomi NTB pada triwulan II 2019 juga tercermin dari adanya lonjakan inflasi pada bulan Mei 2019 yakni 3,62%(yoy) dan bulan Juni 2019 yakni 3,38% (yoy). Namun, tekanan inflasi kembali terkendali di bulan Juli 2019, bahkan tercatat mengalami deflasi sebesar 0,13% (mtm) atau inflasi sebesar 2,59%(yoy), lebih rendah dari inflasi nasional yang mencapai 3,32%(yoy).

Selain bahan makanan, masuknya maskapai penerbangan bertarif rendah (low cost carrier) Air Asia berdampak signifikan terhadap penurunan tarif angkutan udara, sehingga tarif angkutan udara menjadi komoditas penyumbang deflasi pada bulan Juli 2019.

Masih berdasarkan pemaparan Achris Sarwani, Hasil Survei Konsumen yang dilakukan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB menunjukkan keyakinan konsumen pada triwulan II – 2019 terus tumbuh menguat. Hal ini tercermin dari Indek Keyakinan Konsumen (IKK) pada bulan Juni 2019 sebesar 131,00 meningkat dibandingkan dengan Mei 2019 yang sebesar 119,75. Hal ini didorong oleh keyakinan konsumen akan membaiknya kondisi ekonomi saat ini yang tercermin dari Indek Kondisi Ekonomi (IKE) saat ini, Juni 2019 tercatat sebesar 123,67 meningkat dibandingkan dengan Mei 2019 yang sebesar 113,83.

Baca juga:  Ekonomi NTB Tumbuh 6,26 Persen, Wagub Ingatkan Jangan Lengah

Selain itu, ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi di NTB juga terus tumbuh, di mana Indek Ekspektasi Konsumen (IEK) pada Juni 2019 tercatat sebesar 138,33 meningkat dibandingkan dengan Mei 2019 yang sebesar 125,67.

Optimisme tersebut sejalan dengan indeks penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu, meningkat menjadi sebesar 128,50 dibandingkan Mei 2019 yang sebesar 113,50. Membaiknya kondisi dunia usaha menjadi salah satu faktor meningkatnya indeks tersebut, sehingga penyerapan tenaga kerja kembali meningkat. Hasil survei kepada dunia usaha di sektor akomodasi dan makan minum, yang menyampaikan bahwa tenaga kerja mereka mulai kembali bekerja secara penuh, dimana sebelumnya pasca bencana gempa bumi diterapkan jam kerja sebagian bagi karyawan untuk mengurangi cost/biaya.

Keyakinan konsumen akan meningkatnya kondisi perekonomian juga didukung oleh kinerja dunia usaha, dimana sesuai dengan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia pada triwulan II – 2019, menunjukan angka peningkatan dalam kegiatan dunia usaha secara keseluruhan mencapai 54,17%, dibandingkan dengan triwulan I – 2019 yang sebesar 18,35%. Peningkatan kegiatan dalam dunia usaha tersebut terjadi pada sektor pertanian, perdagangan besar dan eceran, serta transportasi dan pergudangan.

Secara umum, kinerja dunia usaha terus menunjukan perbaikan pasca bencana gempa bumi seiring dengan perbaikan infrastrutur pada beberapa perusahaan.Kapasitas produksi mulai berjalan dengan normal. Di sisi lain, peningkatan permintaan kebutuhan terjadi pada periode Hari Raya Idul sebagaimana hasil survei konsumen. (bul)