Smelter di KSB Harus Tuntas Januari 2022

Ilustrasi Pembangunan Smelter (suarantb.com/pexels)

Mataram (Suara NTB) – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengawal ketat pembangunan smelter PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Saat ini, progres pembangunan smelter baru 13,7 persen.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Ditjen Minerba, Ir. Yunus Saefulhak, MM mengatakan PT. AMNT punya waktu dua tahun untuk menyelesaikan kewajibannya membangun smelter. Smelter harus tuntas dibangun Januari 2022.

‘’Pemerintah akan awasi terus, perkembangan progres smelter ini. Karena ini wajib jadi di NTB dan wajib selesai. Harapannya pada Januari 2022, itu selesai semua,’’ kata Yunus dikonfirmasi usai sosialisasi Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Mataram, Sabtu, 27 Juli 2019.

Berdasarkan laporan yang diterima Kementerian ESDM, progres pembangunan smelter AMNT di KSB baru 13,7 persen. Pada September mendatang, progres pembangunan smelter ditargetkan 17,5 persen.

Yunus mengungkapkan, investasi pembangunan smelter AMNT sekitar Rp14 triliun. Pihaknya menyambut baik Tim Percepatan Pembangunan Smelter yang dibentuk Pemprov NTB dan Pemda KSB.

Dengan sisa waktu yang tinggal dua tahun lebih, pembangunan smelter harus digenjot. ‘’Sekarang posisinya desain gambar, kontrak-kontrak konsultan. Pemda sedang mendorong dengan  tim percepatan,’’ ucapnya.

Awalnya, lahan untuk pembangunan smelter seluas 100 hektare. Sekarang, kawasan pembangunan smelter dan industri turunannya bertambah menjadi 850 hektare. ‘’Kemarin saya mengawasi itu sampai lapangan. Amdalnya sudah selesai,’’ terangnya.

Yunus menambahkan dengan adanya smelter, akan menghasilkan dua produk. Yakni, katoda  tembaga dan anoda slime. Dengan adanya dua produk yang dihasilkan tersebut, maka perlu industri turunan lainnya seperti pabrik kabel, baterai, pupuk dan semen. Sehingga hilirisasi pertambangan berjalan dari hulu sampai hilir.

‘’Tidak hanya intermediet produk, katoda tembaga saja. Tapi sampai ke hilir, barang jadi. Sehingga akan memberikan manfaat bagi masyarakat NTB. Baik manfaat ekonomi, tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi NTB,’’ katanya.

Sementara itu, anggota Komisi VII DPR RI, Dr. H. Kurtubi mengatakan pembangunan smelter di KSB sudah pasti. Karena tidak mungkin perusahaan pertambangan mengelak atau menghindar. Karena adanya UU yang melarang mengekspor konsentrat.

‘’Sejauh ini, sudah ada kepastian rencana dari PT. AMNT untuk membangun smelter di Pulau Sumbawa. Dan saya mendukung penuh, bahkan saya sudah lama menginginkan agar kapasitas smelter yang dibangun bisa lebih besar,’’ katanya.

Kurtubi berharap PT. Freeport dan AMNT bekerjasama membangun smelter di KSB. Sehingga kapasitasnya besar. Sebagai anggota Komisi VII DPR RI, ia tak setuju jika Freeport membangun smelter di Gresik.

Apabila Freeport membangun smelter di Gresik, maka akan membutuhkan biaya yang mahal. Karena lokasi pembangunannya merupakan tanah urug. Jika Freeport membangun smelter bekerjasama dengan AMNT di KSB, maka bisa menghemat biaya. Di samping lokasinya merupakan tanah gunung, juga ada pelabuhan khusus pertambangan di sana. Sehingga biaya yang dikeluarkan akan lebih kecil.

“Kedua, bahan baku konsentrat yang akan diolah oleh smelter ini, diangkut dari Papua ke Gresik, lebih jauh. Dibandingkan dari Papua ke Sumbawa,” katanya.

Kurtubi mengatakan, apabila mereka bergabung bangun smelter di Sumbawa. Akan menguntungkan ke dua belah pihak. Baik AMNT maupun Freeport. Karena biaya pembangunan smelter dan pengoperasiannya lebih  efisien. “Negara diuntungkan juga. Karena pajak yang dibayar oleh perusahaan-perusahaan ini akan lebih banyak daripada kalau dipaksakan di Gresik. Karena cost akan mengurangi kewajiban pajak mereka,” jelasnya.

Mengenai masih rendahnya progres pembangunan smelter di KSB, Kurtubi mengatakan semua pihak harus mengawal bahkan mengkritisinya. Agar smelter tersebut  betul-betul terwujud sesuai waktu yang telah ditetapkan. (nas)