Tinggalkan PETI, Berharap Pekerjaan Pengganti

Zaenal (Suara NTB/039)

Namanya Zaenal. Ayah delapan orang anak ini lahir di Desa Tatar, Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) tahun 1975. ‘’Dulu, saya penambang emas. Sekarang pekerjaan itu sudah saya tinggalkan sejak empat bulan lalu,’’ ujarnya mengawali perbincangannya dengan Suara NTB, Selasa, 23 Juli 2019 di Mataram.

Laki-Laki yang hanya mengenyam pendidikan di bangku Sekolah Dasar (SD) ini,  sebelumnya adalah ‘’bos’’ Penambang Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah perbukitan SP 2 Tatar, Teluk Punak , Tongo, KSB. Ia mulai menekuni pekerjaan ini sejak tahun 2013 yang lalu. Pekerjaan menambang emas secara ilegal, terpaksa ia lakoni karena tidak ada pilihan. ‘’Saya tidak punya pekerjaan tetap. Hanya sebagai kuli,’’ tuturnya.

Tuntutan biaya hidup termasuk untuk biaya anak-anak sekolah, memaksa Zaenal putar otak untuk  mencari pekerjaan alternatif. Berbekal pengalaman pernah mengikuti tim survei melakukan eksplorasi kandungan mineral (termasuk emas) PT.Newmont Nusa Tenggara di perbukitan SP2 Tatar, Teluk Punak, akhirnya Zaenal menjatuhkan pilihannya menambang emas. Dan pilihan Zaenal pun menambang emas langsung di perbukitan SP2 Tatar.

‘’Tahun 2001, saya pernah melihat tim survei Newmont melakukan eksplorasi di sana (perbukitan SP2 Tatar). Saya ikut-ikut waktu itu. Dari survei di wilayah itu, disebutkan kandungan emasnya ada,’’ katanya.  Nah, berbekal tekad dan modal nekad, mulailah Zaenal masuk ke wilayah perbukitan menelusuri hutan mencari jejak logam mulia di perbukitan SP2 Tatar, Teluk Punak.

Mengawali pekerjaannya sebagai Penambang Emas Tanpa Izin (PETI), ternyata tidak mudah. Untuk mengais  aurum dari perut bumi, ternyata tidak mudah. Selain dibutuhkan tenaga kuat juga kesabaran ekstra. Tenaga kuat dibutuhkan untuk menggali perbukitan berbatu dengan alat seadanya.  Kesabaran ekstra juga penting. Karena ternyata logam mulia tidak dengan mudah bisa ditemukan di antara bongkahan bebatuan.

Baca juga:  Tim Satgas Peti Lobar Kesulitan Menindak Pelaku

Waktu itu katanya, pertama kali kali ia baru menemukan logam mulia di kedalaman 12 meter. Penemuan pertama itu, memantik semangatnya untuk terus menggali dengan keyakinan bahwa di perut perbukitan SP2 Tatar itu,  ada banyak emas yang akan menjamin hidup dan masa depan keluarganya.

‘’Saya yakin kandungan emasnya ada di SP2 Tatar. Karena itu kan wilayah konsesi Newmont (sekarang milik PT Amman Mineral Nusa Tenggara),’’ ujarnya. Zaenal pun terus menggali dan menggali. Dari menggali di kedalaman 12 meter, bertambah menjadi 20 meter dan terakhir sampai kedalaman 45 meter.  Semakin dalam menggali, semakin menjanjikan logam mulai yang diperolehnya. ‘’Untuk enam-tujuh karung bebatuan, saya bisa mendapatkan 5-6 gram emas,’’ katanya.

Hasil PETI yang mendadak membuatnya sejahtera, membangkitkan semangat Zaenal untuk menggali tidak hanya di satu lubang. ‘’Saya punya tiga lubang (istilahtempat menggali emas para penambang liar),’’ katanya bangga. Sebagai pemilik tiga lokasi galian, menempatkan Zaenal sebagai ‘’bos’’ PETI di SP2 Tatar. ‘’Untuk satu lubang saya punya tujuh orang  karyawan, ada juga yang 10 karyawan. Karyawan saya sudah termasuk ada tenaga ahli. Saya rekrut dari Tasikmalaya, Jawa Barat,’’ katanya.

 Sebagai pemilik tiga lubang galian di wilayah SP2 Tatar,  Zaenal juga melengkapi usahanya dengan gelondongan (alat pemecah bebatuan mengandung emas). ‘’Saya punya 54 gelondongan,’’ sebutnya. Alat ini ia operasikan di dalam hutan, tak jauh dari lubang galian. Di dalam hutan itu juga, bebatuan yang sudah dihancurkan, dipisahkan tanahnya dan ‘’dipetik’’ emasnya.

Zaenal menggunakan mercuri untuk mengikat logam mulia. Untuk memperoleh mercuri baginya tidak sulit. Ia bisa membelinya  di banyak tempat dan dengan mudah  di wilayah KSB. ‘’Dulu saya membelinya Rp 1,7 juta per Kg. Sekarang malah turun Rp 300 per Kg.’’

Baca juga:  Tim Satgas Peti Lobar Kesulitan Menindak Pelaku

Tertibkan Penjual Mercuri

Kini, setelah enam tahun menyandang predikat sebagai ‘’bos’’ PETI,  Zaenal memutuskan untuk ‘’pensiun’’. Pilihannya ‘’pensiun’’ bukan tanpa alasan. ‘’Saya memilih berhenti  karena PETI mulai gencar ditertibkan. Saya sudah berhenti sejak empat bulan yang lalu,’’ akunya.

Setelah ‘’pensiun’’, kini Zaenal belum punya pekerjaan. ‘’Saya menunggu kebijakan Pemerintah KSB untuk menyiapkan kami para PETI, pekerjaan alternatif,’’ harapnya.  Jika penambang ilegal ditertibkan, tanpa ada solusi pekerjaan pengganti, menurut  Zaenal itu akan sia-sia. Diyakini, para PETI akan kembali masuk hutan dan menambang lagi.

Di wilayah KSB menurut Zaenal, ada tiga lokasi penambangan ilegal.  Selain  SP2 Tatar, ada perbukitan Tabeso dan Tongo Loka. Di tiga lokasi itu ada 70 ‘’bos’’ pemilik lubang, dengan tenaga kerja masing-masing minimal lima orang bahkan ada yang  lebih. Jadi penambang liar di tiga lokasi sekitar 350 orang lebih. ‘’Jika ditertibkan, jadi sebanyak itu menunggu pekerjaan pengganti,’’ katanya.

Setelah penertiban, diakuinya sebagian besar bahkan 95 persen sudah turun gunung dan kembali ke rumah. ‘’Kalaupun masih ada yang menambang, paling tinggal 5 persen. Mereka juga akan berhenti jika pekerjaan alternatif sebagai pengganti sudah ada.’’

Zaenal dan juga kawan-kawannya sedang menunggu pekerjaan pengganti itu. Menurutnya, pekerjaan pengganti semakin cepat, akan lebih baik. ‘’Sejak penertiban, teman-teman saya yang turun gunung sudah ada yang mendapat pekerjaan pengganti. Di Desa Tatar ada 30 orang sudah dapat pekerjaan. Mereka bekerja di subkon PT.AMNT,’’ katanya.

Selain pekerjaan pengganti, saran Zaenal, cara menghentikan PETI adalah menertibkan penjual mercuri. ‘’Penjual mercuri harus ditertibkan. Sepanjang barang ini (mercuri) bisa dibeli dengan mudah, apalagi harganya murah, maka PETI akan sulit ditertibkan,’’ katanya. (rak)