Pelaku Ekonomi Imbau Warga Jangan Latah Soal Gempa

Heri Susanto (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Asosiasi para pengembang mengingatkan publik di NTB agar tak berlebihan menyikapi informasi-informasi tentang gempa. Karena dampak yang dikhawatirkan akan berpengaruh kepada kondusivitas dan ekonomi daerah. Ketua Real Estate Indonesia (REI) Provinsi NTB, H. Heri Susanto mengatakan, masyarakat di NTB harus mendukung daerahnya untuk terus berkembang.

Caranya? Seminimal mungkin meredam informasi-informasi yang dapat mengurangi keinginan orang untuk datang berkunjung ke NTB, bahkan berinvestasi. H. Heri Susanto memberikan contoh bagaimana masyarakat di Bali begitu pandai meredam informasi terkait gempa yang terjadi pada Selasa, 16 Juli 2019 dengan kekuatan 6.0 SR.

“Pagi gempa, jam 12 sudah bilang beres. Tidak ada yang nyebar aneh-aneh di media sosial tentang gempa. Di Maluku juga demikian. Sementara di NTB, informasi seputar gempa disebar secara massif. Ada kawan yang sudah beli tanah mau berinvestasi, akhirnya jual lagi karena khawatir,” sesalnya.

Baca juga:  Wapres Minta Koreksi Data Anomali Korban Gempa

Memprediksi potensi gempa oleh ahlinya, sah-sah saja. Tetapi tidak ada satupun pihak yang berani memastikan kapan akan terjadinya. Tak jauh beda halnya dengan meyakini seluruh yang hidup akan mati. Hanya kapan waktunya, juga tak dapat dipastikan oleh teknologi secanggih apapun.

Potensi gempa dan bencana juga terjadi di mana-mana. Bukan hanya di NTB. Karena itu, diharapkan masyarakat lebih bijak. H. Heri Susanto berharap, jangan ada pihak-pihak yang tidak senang dengan kemajuan Lombok, NTB. Apalagi dengan melejitnya Lombok sebagai destinasi wisata unggulan. Berkembangnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika dan terpilihnya Lombok, Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggaran MotoGP pada 2021.

Baca juga:  NTB Siap Perpanjang Masa Transisi Pemulihan Pascagempa

“Dimana-mana, ketika kita menyebut Lombok, respon orang sudah luar biasa. Saya khawatir, ada motif di balik gencarnya isu gempa yang terus menggoyang Lombok, Sumbawa. Jangan sampai kita terprovokasi, kemudian ikut-ikutan dan akhirnya kita sendiri yang rugi. Orang ndak mau datang ke NTB,” kata H. Heri.

Sejauh ini, isu-isu gempa juga tak mempengaruhi langsung bisnis properti di NTB. Tetapi dengan stagnannya sektor pariwisata dan jasa-jasa lain setelah gempa tahun 2018 lalu, dampaknya adalah rendahnya perputaran uang dan mempengaruhi banyak hal. (bul)